Bahasa Indonesia Smp 2019

Bahasa Indonesia SMP 2019″ width=”400″ />

www.
Perbedaan antara dongeng dan fabel:
Dongeng adalah kisah rekaan yang bersifat khayal dan tidak masuk akal. Sedangkan fabel ialah kisah perihal binatang yang berperilaku mirip manusia selaku fatwa watak yang sangat berguna bagi kehidupan insan. Legenda dapat berupa dongeng wacana orang suci yang di dalamnya terdapat kisah asal-seruan nama atau sebuah daerah.
Macam-Macam Dongeng:
1. fabel
2. legenda
3. mite
4. sage
5. parabel
6. pelipur lara
Contoh: Cerita Kancil
a. Kancil Mencuri Timun
b. Kancil Menipu 100 Buaya
c. Kancil Menipu Harimau Lapar
Contoh Fabel:
Seorang Pedagang dengan Seekor Ular
Seorang pedagang yang penyayang hewan berangkat ke pasar bersama seekor kuda yang membawa dagangannya. Karena masih terlalu pagi, ia beristirahat dan membuat api unggun. Kebetulan angin bertiup cukup kencang hingga bunga-bunga api beterbangan cukup jauh.
Setelah jelas, berangkatlah penjualitu dari kawasan istirahatnya. Ia agak terkejut ketika dilihatnya rumput dan semak-semak terbakar. Ketika ia beranjak pergi beberapa langkah, ia terkejut oleh bunyi minta tolong yang ternyata seekor ular besar yang sudah terkurung api. Pedagang agak ragu sebentar alasannya adalah ular biasanya bertabiat jahat, tidak tahu berterima kasih, apalagi membalas akal baik. Tetapi sebab rasa sayangnya pada hewan, akhirnya ditolonglah juga ular itu.
Setelah ular terlepas dari ancaman, berkatalah ular, “Tahukah kamu, hai insan, bahwa kebaikan dibalas dengan kejahatan?”
“Apa maksudmu?” jawab pedagang.
“Aku hendak membunuhmu dengan taring berbisaku yang telah lama tidak kugunakan sehingga terasa sakit.”
“Hai, Ular! Ingatlah! Engkau masih mampu hidup alasannya adalah pertolonganku. Kini engkau akan membunuhku. Di mana rasa terima kasihmu?” kata pedagang meradang.
“Terserah apa katamu. Yang terperinci engkau tidak mampu lolos dari ketajaman gigi berbisaku,” sahut ular lebih mendongakkan kepalanya sampai akrab dengan muka pedagang.
“Baiklah, jikalau begitu. Tetapi aku minta tiga saksi yang mau membenarkan niatmu!”
Mereka pun kemudian mencari tiga saksi itu. Mula-mula dijumpainya kerbau yang ditambat. Kata ular. “Hai, Kerbau, apa pendapatmu? Apakah sudah pantas kebaikan dibalas dengan kejahatan?”
“Untuk menjawab pertanyaanmu, dengarkanlah ceritaku!” seru kerbau. “Manusia itu tak tahu berterima kasih. Buktinya, aku alami sendiri. Ketika aku masih kuat, saya dipeliharanya. Waktu saya punya anak, air susuku pun diperahnya. Tetapi sehabis saya renta dan tidak sekuat kerika saya masih muda, aku dilepas begitu saja supaya mencari makan sendiri. Namun, melihat aku gemuk, saya ditangkapnya untuk dijualnya seperti sekarang ini. Kaprikornus, selayaknya jika manusia yang pernah menolongmu itu engkau bunuh!” kata kerbau menyudahi ceritanya.
“Kau dengar?” kata ular. “Tepati janjimu dan bersiaplah engkau untuk mati.’
Ular menyaksikan sekeliling. Tampak kepadanya sebatang pohon nyiur. Mereka pergi ke daerah pohon nyiur berkembang, ular bertanya: “Hai, pohon nyiur, apakah balasan akal baik?”
Pohon nyiur menjawab: “Manusia menjadikan kejahatan sebagai balasan untuk kebaikan. Sudah demikian sifat insan.  Dengarkan apa sebabnya. Buahku yang mudah memperlihatkan minuman yang sedap manusia. Semuanya menyukai air kelapa muda. Buah kelapa yang renta dijadikan minyak yang nyaris setiap hari dipakai oleh mereka. Tempurung, sabut, daun yang muda maupun yang renta atau kering dapat dijadikan beraneka keperluan insan sehari-hari. Sekarang sehabis saya tua dan tak berbuah lagi apa yang diperbuatnya? Akan ditebangnya saya esok hari. Batangku akan dijadikan jembatan atau kasau rumah. Saguku yang ada di bab ujung batangku diberikannya kepada ayam dan lembunya. Dan, berakhirlah nyawaku esok hari”.
“Aah, kini engkau gres percaya bahwa engkau gres yakin bahwa akulah yang benar,” ujar ular pula. “Tahukah kita bagaimana semestinya kebaikan harus dibalas. Tentang saksi-saksi telah cukup dua itu. Bersiaplah, supaya engkau mampu saya gigit sampai mati.”
“Ular! Siapa mampu mengatakan bahwa kedua saksi itu dapat dipercaya? Ini belum dapat kita sahkan. Sebab itu, untuk yang terakhir kali dan biar kita tidak mencampakkan-buang darah orang yang tidak berdosa, sekarang ambil saksi seorang lagi yang mau kutunjukkan sendiri. Sekiranya aku bersalah, saya bersedia meninggalkan dunia yang fana ini.”
Ular agak berkecil hati, namun diterima juga proposal itu.
Seekor kancil yang sedang mencari makan sampai ditempat perbantahan itu lalu berseru: “Hai, mengapa kalian berbantah”?
Ketika pedagang melihat kancil, ia berkata kepada ular. “Inilah saksi penghabisan. Kita dengarkan apa yang dikatakannya.!”
Pedagang mulai menerangkan hal itu, namun belum habis beliau bercerita, kancil menyela: “Saudagar, tahukah engkau bahwa akhir kebaikan tak lain adalah kejahatan. Sudah kamu tolong ular itu dari ancaman ajal, sudah sepantasnyalah beliau berbuat jahat kepadamu.”
“Hai, Kancil, dengarlah dulu,” jawab penjualitu, kemudian dibentangkannya ihwal itu sejelas-jelasnya.
“Saudagar, tampaknya engkau seorang yang terpelajar. Bagaimana pula engkau mampu menceritakannya hal yang bikan-bukan.”
Ular itu menyela: “Benar semua yang dikatakannya itu. Itulah pundi-pundi yang menyelamatkan saya dari bahaya api besar itu.” 
Kancil meneruskan perkataannya: “Siapa pula yang yakin binatang sebesar ini dapat masuk ke dalam pundi-pundi sekecil itu. Seekor tikus pun rasanya takkan mampu masuk kedalamnya.”
“Sangat mudah untuk memahaminya,” jawab ular itu. “Sekiranya engkau tidak percaya, aku akan masuk ke dalam kantong itu.”
“Baiklah! Seru kancil. Kalau dengan mata kepalaku sendiri haruslah kuputuskan perkara ini.”

Untuk memastikan apa yang dibilang oleh ular, pedagang itu membuka pundi-pundi dan ular menjalar ke dalamnya sebab beliau yakin akan akad kancil. Ketika kancil menyaksikan ular itu telah berada dalam kantong kulit itu, beliau berbisik terhadap pedagang. “Kawan, sudah tertangkap musuhmu. Pergunakanlah kesempatan ini dan jangan engkau lepaskan ia.”

Mendengar nasihat kancil, diikatnya erat-bersahabat lubang kantong itu, dihempaskannya sekeras-kerasnya kantong itu di atas watu sehingga matilah ular yang tidak tahu berterima kasih itu. Terhindarlah insan itu dari bahaya bisanya dan terlepas dari keganasan ular. Hukum alam tetap berlaku, Budi baik mesti dibalas dengan kebaikan juga”.

Demikianlah yang dapat admin bagikan wacana perbedaan antara dongeng dan fabel. Semoga apa yang admin bagikan ini mampu membantu anak didik dalam mencari referensi wacana perbedaan antara dongeng dan fabel. Semoga berguna dan terima kasih.


Posted

in

by

Tags: