Langkah-Langkah Menentukan Nilai Etika, Budaya, Dan Religius Dalam Sebuah Teks Dongeng 2019

_ Kali ini admin akan membagikan ini tentang tindakan memilih nilai budpekerti, budaya, dan religius dalam sebuah kisah. Semoga apa yang admin bagikan ini mampu menolong anak asuh dalam mencari rujukan menentukan nilai-nilai budpekerti, budaya, dan religius dalam sebuah teks. Dan peluangnya apa yang admin bagikan ini dapar memperlihatkan efek kasatmata yang baik baik bagi kemajuan mencar ilmu anak didik di sekolah, terutama materi menentukan nilai-nilai dalam sebuah teks. Semoga berfaedah dan terima kasih.

Kali ini admin akan membagikan ini tentang langkah Langkah-Langkah Menentukan Nilai Moral, Budaya, dan Religius dalam Sebuah Teks Cerita 2019
www.

Adapun langkah-langkah dalam memilih nilai moral, budaya, dan religus dalam sebuah teks yakni selaku berikut!
1. Siapkan satu buku atau satu kisah (kisah anak terjemahan)
2. Bacalah dengan saksama dan cermat
3. buatlah sinopsis/ringkasan kisah tersebut di kertas selembar atau buku peran kalian
4. Tentukan nilai-nilai etika, budaya, dan religiusnya
5. Tulislah kalimat pendukung yang menyatakan nilai tabiat, budaya, dan religius itu
6. Pahamilah karakteristik nilai-nilai tersebut
7. Kalian akan memperoleh nilai-nilai yang sama pada buku cerita yang berbeda
8. Simpulkan materi ihwal membaca buku kisah tersebut
Contoh Cerita:

Putri Salju

Di suatu pertengahan demam isu dingin, ketika salju berjatuhan dari langit seperti bulu, seorang ratu duduk menjahit di erat jendela. Rangka kayu yang digunakan untuk membordir yang dibuat dari kayu ebony yang hitam pekat. Sambil membordir, sang ratu memandang salju yang turun dan tanpa sengaja jarinya tertusuk olehn jarum sehingga tiga tetes darahnya jatuh membasahi salju. Saat beliau menyaksikan betapa terperinci warna merahnya, beliau berkata kepada dirinya sendiri, “Saya berharap memiliki anak yang putih mirip salju, merah seperti darah, dan hitam seperti kayu ebony!”.
Tidak lama sehabis itu, sang Ratu melahirkan seorang putri yang kulitnya putih seputih salju, bibirnya merah semerah darah, dan rambutnya hitam sehitam kayu ebony, dan diberinya nama Putri Salju. Saat sang Putri lahir, sang Ratu pun meninggal dunia.
Setelah setahun berlalu, sang Raja menikah kembali menikah dengan seorang wanita yang sungguh anggun, namun arogan dan tidak senang jika ada yang melebihi kecantikannya. Sang Ratu yang baru mempunyai sebuah cermin abnormal, dimana sang Ratu sering bangun menatap ke dalam cermin dan berkata:
“Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?” Dan sang Cermin selalu menjawab, “Anda yaitu tercantik dari semuanya”.
Dan sang Ratu pun merasa puas, kerena tahu bahwa Cermin ajaibnya tidak pernah berkata bohong.
Putri Salju kini berkembang makin usang semakin bagus, dan dikala beliau dewasa, kecantikannya jauh melampaui keelokan Ratu sendiri. Sehingga sebuah hari dikala sang Ratu bertanya kepada cerminnya:
“Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?” Sang Cermin menjawab, “Ratu, Anda cantik, namun Putri Salju lebih manis dari Anda.”
Sang Ratu menjadi terkejut dan warna mukanya menjadi kuning lalu hijau oleh rasa cemburu, dan semenjak dikala itu, ia berbalik membenci Putri Salju. Semakin usang, rasa cemburunya bertambah besar, hingga ia tidak mempunyai kedamaian lagi. Ia kemudian memerintahkan seorang pemburu untuk membinasakan Putri Salju.
“Bawalah Putri Salju kesuatu hutan, sehingga aku tidak akan pernah meihatnya lagi. Kamu harus membinasakannya dan menjinjing hatinya selaku bukti kepadaku.
Sang pemburu baiklah, membawa Putri Salju ke suatu hutan; akan tetapi saat beliau mempesona pedangnya, Putri Salju menangis, dan berkata:
“Wahai, pemburu, janganlah membunuhku, saya akan pergi dan masuk ke dalam hutan liar, dan tidak akan kembali lagi.”
Pemburu yang meletakkan rasa kasihan, berkata:
“Pergilah bila begitu, putri yang malang;” alasannya sang pemburu berpikir bahwa binatang liar di hutan akan memangsa Putri Salju, dan ketika dia melepaskan Putri Salju, hatinya menjadi lebih ringan seperti terbebas dari genjatan watu yang berat. Saat itu juga dilihatnya seekor babi hutan berlalu, dan sang pemburu menangkap babi hutan tersebut lalu mengeluarkan hatinya untuk dibawa ke sang Ratu sebagai bukti.
Putri Salju yang sekarang berada dalam hutan liar, merasa ketakutan yang luar umumdan tidak tahu harus mengambil langkah-langkah apa saat ketakutan melanda. Kemudian dia mulai berlari, berlari di atas batu-batuan yang tajam dan berlari menembus semak-semak yang berduri, dan binatang liar pun mengejarnya, namun tidak untuk menyakiti Putri Salju. Ia berlari selama kakinya mampu menenteng dia pergi, dan ketika malam hampir tiba, beliau tiba disebuah rumah kecil. Putri Salju pun masuk ke dalam untuk beristirahat. Segala sesuatu yang berada di dalam rumah, berukuran sangat kecil, tetapi indah dan higienis.
Di rumah tersebut terdapat dingklik dan meja yang di alas dengan taplak putih, dan di atasnya terdapat tujuh buah piring, pisau makan, garpu, dan cangkir minum. Di erat dinding, terlihat tujuh ranjang tidur kecil, saling bersebelahan, dan dilapisi dengan seprei putih juga. Putri Salju menjadi sungguh lapar dan haus, makan dari tiap-tiap piring sedikit bubur dan roti, dan meminum sedikit dari tiap-tiap cangkir, biar dia tidak menghabiskan satu piring saja. Akhirnya Putri Salju merasa lelah dan membaringkan dirinya di satu ranjang, tetapi ranjang tersebut ada yang terlalu pendek, ada yang terlalu panjang, untungnya, ranjang yang ketujuh sangat sesuai dengan tinggi badannya, dan ia pun tertidur di daerah tidur tersebut.
Saat malam datang, pemilik rumah pulang ke tempat tinggal dan mereka yakni tujuh orang kurcaci yang pekerjaannya menggali terowongan bawah tanah di pengunungan. Saat mereka menyalakan tujuh lilin yang menerangi seluruh rumah, mereka sadar bahwa ada orang yang sudah masuk kedalam rumah tersebut karena beberapa hal berpindah kawasan, tidak mirip dikala mereka meninggalkan rumah.
Yang pertama berkata, “Siapa yang sudah duduk di dingklik kecilku?”
Yang kedua berkata, “Siapa yang telah makan dari piring kecilku?”
Yang ketiga berkata,” Siapa yang mengambil roti kecilku?”
Yang keempat berkata, “Siapa yang telah mengkonsumsi buburku?”
Yang kelima berkata, ” Siapa yang telah memakai garpuku?”
Yang keenam berkata, “Siapa yang sudah memangkas dengan pisauku?”
Yang ketujuh berkata, “Siapa yang telah meminum dari cangkirku?”
Kemudian yang pertama, menyaksikan ke sekeliling rumah dan menyaksikan tanda-tanda bahwa kasurnya telah ditiduri, berteriak, “Siapa yang sudah tidur di ranjangku?”
Dan dikala yang lainnya juga datang, mereka berkata, “Seseorangjuga telah tidur di kawasan tidurku!”
Ketika kurcaci yang ketujuh menyaksikan ranjangnya, ia melihat Putri Salju yang tertidur di sana, lalu ia memberikan ke kurcaci lain, yang datang tergesa-gesa untuk menyaksikan Putri Salju, dan dalam keterkejutan mereka, mereka masing-masing mengangkat lilinnya untuk melihat Putri Salju dengan lebih jelas.
“Ya Tuhan! kata mereka, “Siapakah putri yang anggun ini?” dan alasannya adalah mereka gembira melihat Putri Salju, mereka tidak tega untuk membangunkannya. Kurcaci yang ketujuh terpaksa tidur bergantian dengan teman-temannya, setiap satu jam, di tiap-tiap ranjang temannya sampai malam berlalu.
Menjelang pagi, ketika Putri Salju terbangun dan menyaksikan ketujuh kurcaci, Putri Salju menjadi panik, tetapi mereka terlihat akrab dan bahkan menanyakan namanya dan bagaimana beliau bisa datang di rumah mereka. Putri Salju pun bercerita bagaimana ibunya berharap supaya ia meninggal, bagaimana sang pemburu membiarkannya hidup, bagaimana ia lari sepanjang hari, hingga datang ke tempat tinggal mereka.
Para kurcaci lalu berkata, bila kau mau membersihkan rumah, memasak, mencuci, merapihkan kawasan tidur, menjahit, dan mengatur semuanya semoga tetap rapih dan higienis, kamu bisa tinggal di sini, dan kau tidak akan kekurangan apapun.”
“Saya sangat oke, ” kata Putri Salju, dan beliau pun tinggal di rumah tersebut sambil mengatur rumah. Pada pagi hari para kurcaci ke gunung untuk menggali emas, pada malam hari dikala mereka pulang, mereka sudah disiapkan makan malam. Setiap Putri Salju ditinggal sendiri, para kurcaci memberi pesan tersirat:
“Berhati-hatilah pada ibu tirimu, ia akan tahu bahwa kau ada di sini. Jangan biarkan seorang pun masuk ke dalam rumah.”
Ratu yang telah melihat bukti kematian Putri Salju yang berupa hati, yang dibawa oleh pemburu, menjadi hening, bangun di depan cermin dan berkata:
“Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?”
Dan sang cermin menjawab, “Ratu, walaupun kecantikanmu hampir tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di sebuah rumah kecil beserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih manis.”
Ratu menjadi terkejut dikala mendengarkannya, dan dia risikonya tahu bahwa sang pemburu sudah menipunya, dan Putri Salju masih hidup. Ia pun berpikir keras untuk menghabisi Putri Salju, sebab selama dia bukanlah wanita tercantik diantara semua, rasa cemburunya tidak akan mampu membuat ia mampu beristirahat dengan hening. Akhirnya beliau pun menerima rencana, dia menyamarkan parasnya dan menggunakan busana yang umum dipakai oleh perempuan renta semoga tidak ada yang bisa mengenalinya. Dalam penyamarannya, beliau lewat tujuh gunung hingga alhasil datang di rumah milik tujuh kurcaci. Ia pun mengetuk pintu dan berkata”
“Barang elok untuk dijual! barang bagus untuk dijual!”
Putri Salju mengintip dari jendela dan menjawab”
“Selamat siang, apa yang Anda jual?”
“Barang manis,” katanya, “Pita berbagai macam warna” dan ia lalu menyerahkan sebuah pita yang yang dibuat dari sutera.
“Saya tidak butuhtakut untuk membiarkan perempuan tua ini masuk,” pikir Putri Salju, kemudian dia pun membuka pintu dan berbelanja pita yang indah. 
“Betapa cantiknya kau, anakku!” kata wanita bau tanah, “kemarilah dan biarkan aku menolong kamu memakaikan pita ini.”
Putri Salju yang tidak curiga, berdiri didepannya dan membiarkan wanita tua itu memasangkan pita untuknya, tetapi wanita renta itu dengan segera mencekik Putri Salju dengan pita sampai Putri Salju jatuh dan seolah-olah meninggal dunia.
“Sekarang saatnya kau berhenti selaku perempuan tercantik,” kata perempuan renta sambil berlalu pergi.
Tidak lama sehabis itu, menjelang malam, para kurcaci pulang ke rumah, dan mereka semua terkejut melihat Putri Salju terbaring di tanah, tidak bergerak. Mereka mengangkatnya dan ketika mereka melihat pita yang melilit leher Putri Salju, mereka memotongnya dan saat itu Putri Salju bernapas kembali. Saat kurcaci mendengar kisah dari Putri Salju, mereka berkata,
“Wanita tua yang menjadi penjual keliling, pastilah tidak lain dari ratu yang jahat, kamu mesti berhati-hati dikala kami tidak berada di sini!”
Ketika ratu yang jahat tiba di rumah dan mengajukan pertanyaan kepada sang Cermin:
 “Cermin di dinding,Siapa yang tercantik diantara semua?” jawabannya sama dengan sebelumnya, “Ratu, meskipun kecantikanmu nyaris tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di suatu rumah kecil berserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih anggun.”
Saat mendengar jawaban tersebut, ia menjadi terkejut sebab tahu bahwa Putri Salju masih hidup.
“Sekarang, saya harus mempertimbangkan cara lain untuk membinasakan Putri Salju.” Dan dengan sihirnya ia menciptakan sisir yang mengandung racun. Kemudian beliau menyamar menjadi seorang perempuan renta yang lain. Lalu pergi menyeberangi tujuh gunung dan tiba ke tempat tinggal kurcaci. Ia mengetuk pintu dan berkata,
“Barang elok untuk dijual! barang manis untuk dijual!”
Putri Salju menyaksikan keluar dan berkata,
“Pergilah, saya tidak akan membiarkan siapapun masuk.” 
“Tapi kamu tidak dilarang untuk menyaksikan-lihat, “kata si wanita bau tanah sambil mengeluarkan sisir beracun dan memegangnya. Sisir tersebut sangat menarik hati Putri Salju sehingga dia risikonya membuka pintu dan membeli sisir itu, dan kemudian perempuan renta itu berkata:
“Sekarang, rambutmu harus disisir dengan benar.”
Putri Salju yang malang tidak berpikir akan adanya murka bahaya, membiarkan wanita renta itu menyisir rambutnya, dan tidak usang lalu, sisir pada racun mulai bekerja dan Putri Salju pun terjatuh tanpa daya.
“Ini adalah simpulan bagimu, “kata si perempuan bau tanah sambil berlalu. Untungnya hari sudah hampir malam dan para kurcaci pulang tidak lama setelah kejadian itu. Saat mereka melihat Putri Salju terbaring di tanah seperti telah meninggal, mereka langsung berpikir bahwa ini adalah perbuatan ibu tiri yang jahat. Secepatnya mereka menawan sisir yang masih melekat di rambut Putri Salju dan dikala itupun Putri Salju terbangun, kemudian menceritakan semua insiden yang dialaminya. Para kurcaci memperingatkan dia untuk lebih berhati-hati lagi dan jangan pernah membiarkan orang masuk.
Saat ratu datang di rumah, dia berdiri di depan cermin dan berkata,
“Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?”
Jawabannya sama dengan sebelumnya, “Ratu, walaupun kecantikanmu nyaris tidak ada bandingannya, Putri Salju yang hidup di sebuah rumah kecil beserta tujuh orang kurcaci, seribu kali lebih anggun.”

Ketika ratu mendengar ini, dia menjadi gemetar sebab murka, “Putri Salju harus mati, meskipun aku juga mesti mati!” Lalu beliau masuk ke kamar rahasianya dan di sana beliau membuat suatu apel racun. Apel yang manis dan menggiurkan, berwarna putih dan merah. Siapa pun yang melihatnya tergiur dan semua orang yang memakannya meskipun sedikit, akan mati keracunan. Saat apel itu telah siap, dia pun menyamar kembali dan berpakaian seperti wanita petani, kemudian ia menyeberangi tujuh gunung di mana tujuh kurcaci tinggal. Dan dikala beliau mengetuk pintu, Putri Salju melongokkan kepala lewat jendela dan berkata,
“Saya tidak berani membiarkan siapapun masuk, tujuh kurcaci telah melarang aku.”
“Baiklah,” kata si perempuan, “Saya cuma ingin menawarkan apel ini kepadamu.”
“Tidak,” kata Putri Salju,”Saya tidak berani mengambil apapun.”
“Apakah kamu takut akan racun?” tanya si wanita, “Lihatlah, saya akan membela apel ini menjadi dua bab, kau akan mendapatkan bab yang berwarna merah, dan aku bab yang putih.”
Apel tersebut dibuat dengan cerdiknya, sehingga bab yang beracun yakni bab yang berwarna merah. Putri Salju menjadi tergiur akan keelokan buah apel itu, dan ketika beliau menyaksikan si wanita petani mengkonsumsi apel bagiannya, Putri Salju menjadi tidak tahan lagi, dia mengulurkan tangannya keluar dan mengambil bab apel yang beracun. Tidal lama setelah dia menyantap apel tersebut, beliau pun terjatuh dan tampaknya meninggal. Sang Ratu jahat, tertawa keras dan berkata,
“Putih seperti salju, merah seperti darah, hitam seperti ebony! kali ini, kurcaci takkan dapat menghidupkan kamu kembali.”
Lalu dia pulang dan mengajukan pertanyaan terhadap cerminnya,
“Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?”
Cermin menjawab, “Anda yakni yang tercantik dari semuanya”.
Hati ratu yang tadinya sarat dengan kecemburuan, risikonya menjadi tenang dan bahagia.
Para kurcaci, saat pulang di malam hari, Menemukan Putri Salju terbaring di tanah, dan tak ada nafas lagi yang keluar dari hidungnya. Mereka mengangkatnya, mencari-cari racun yang membunuh Putri Salju, memotong pitanya, menyisir rambutnya, mencuci dengan air dan anggur, namun semua sia-sia, putri malang itu sudah meninggal. Mereka alhasil menaruh Putri Salju dalam suatu peti, dan mereka semua duduk mengelilinginya, menangisi kematiannya selama tiga hari penuh. Walaupun meninggal, Putri Salju terlihat seakan-akan masih hidup dengan pipinya yang merona. Para kurcaci lalu berkata,
“Kita tidak akan menguburnya di tanah yang gelap.” Lalu mereka membuat peti yang terbuat dari gelas yang bening sehingga mereka dapat menyaksikan Putri Salju dari segala segi. Putri Salju dibaringkan di peti tersebut, dan di peti itu ditulislah nama Putri Salju dengan tulisan emas, beserta kisah bahwa beliau yakni putri seorang raja. Kemudian mereka meletakkan peti itu di atas gunung, dan salah satu dari mereka selalu tinggal untuk mengawasinya. Burung-burung pun tiba berkunjung dan turut berduka, yang tiba pertama ialah burung hantu, kemudian burung gagak, lalu seekor burung merpati.
Untuk beberapa lama, Putri Salju terbaring di peti gelas itu dan tidak pernah berubah, terlihat seakan-akan tidur. Ia masih tetap seputih salju, semerah darah, dan rambutnya sehitam ebony. Suatu ketika seorang pangeran lewat di hutan yang menuju ke tempat tinggal kurcaci. Saat ia menyaksikan peti di puncak gunung beserta Putri Salju yang cantikdi dalamnya, ia menjadi jatuh cinta, dan sesudah beliau membaca tulisan yang ada pada peti itu. Ia berkata terhadap para kurcaci,
“Biarkan saya memiliki peti beserta Putri Salju ini, saya akan menawarkan apapun yang kalian minta.”
Tetapi kurcaci menolak dan mengatakan bahwa mereka tidak mau berpisah dengan Putri Salju meskipun dibayar dengan emas yang ada di seluruh dunia. Tetapi sang Pangeran berkata,
“Saya memintanya dengan amat sungguh, alasannya saya tidak akan mampu tanpa menyaksikan Putri Salju, bila kalian setuju, aku akan serta merta menjinjing kalian semua dan menilai kalian mirip saudaraku sendiri.”
Saat sang Pangeran mengatakan dengan sungguh hati, para kurcaci menjadi iba dan memperlihatkan sang Pangeran peti yang terdiri dari Putri Salju, dan sang Pangeran pun mengundang pelayan-pelayannya untuk mengangkat peti tersebut ke istana. Di perjalanan, seorang pramusaji terantuk pada semak-semak sehingga peti yang diangkatnya menjadi terguncang dan sedikit miring. Saat itulah apel beracun yang ada pada kerongkongan Putri Salju, keluar dari mulutnya. Putri Salju membuka matanya dan membuka penutup peti, turun dan berdiri dalam keadaan sehat.
“Oh, dimanakah saya berada?” tanyanya. Sang Pangeran secepatnya menjawab dengan hati riang, Kamu aman di dekatku,” dan menceritakan semua yang terjadi . Sang Pangeran lalu berkata lagi,
“Saya lebih memilih kau daripada apapun yang disediakan oleh dunia, ikutlah bersama saya menuju istana ayahku dan jadilah pengantinku.”
Putri Salju yang bagus hati, ikut bareng Pangeran dan direncanakanlah pesta perkawinan yang semarak untuk mereka berdua.
Ibu tiri Putri Salju juga ikut dipanggil menghadiri pesta dan dikala berhias di cermin, dia pun mengajukan pertanyaan pada cermin ajaibnya:
“Cermin di dinding, Siapa yang tercantik diantara semua?” Cermin menjawab, Ratu, walaupun kecantikanmu nyaris tidak ada bandingannya, pengantin yang gres ini seribu kali lebih manis.”
Sang Ratu menjadi murka dan mengutuk sebab kecewa, ia nyaris saja membatalkan kehadirannya di pesta pernikahan Putri Salju, tetapi rasa penasarannya membuat ia tetap pergi. Saat dia melihat pengantin wanita, beliau menjadi terkejut alasannya pengantin wanita tersebut tidak lain yakni Putri Salju. Kemarahan serta cemas bercampur aduk menjadi satu dan saat itu juga, sang ratu yang jahat tersedak alasannya adalah marahnya, terjatuh dan meninggal, sedangkan Putri Salju dan Pangeran, hidup bahagia selama-lamanya.

Demikianlah yang mampu admin bagikan wacana tindakan memilih nilai tabiat, budaya, dan religius dalam suatu teks. Semoga apa yang admin bagikan ini berfaedah buat kemajuan mencar ilmu anak latih di sekolah. Semoga berguna dan terima kasih.


Posted

in

by

Tags: