Bahan Bahasa Indonesia Kelas Viii (Revisi)

Materi Bahasa Indonesia Kelas VIII (Revisi)” width=”400″ />

 www.
A. Pengertian Teks Puisi
Teks puisi adalah karya sastra seseorang dalam memberikan pesan lewat diksi dan contoh tertulis. Puisi yakni sebuah bentuk karya sastra yang mengungkapkan suatu anggapan serta perasaan dari penyair dan secara imajinatif serta disusun dengan mengonsentrasikan suatu kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian sebuah struktur fisik serta struktur batinnya. Puisi yakni seni tertulis yang menggunakan bahasa selaku kualitas estetiknya (keindahan).
B. Contoh Teks Puisi
Berikut ini adalah acuan teks puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Adapun contoh teks puisi tersebut yaitu selaku berikut.
Karawang-Bekasi
Karya: Chairil Anwar
Kami yang sekarang berbaring antara Krawang-Bekasi
tidak mampu teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak mendengar deru kami
terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam tenang di malan sepi
kalau dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi bubuk 
Kenang, kenanglah kami
Kami telah coba apa yang kami mampu
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami telah beri kami punya jiwa kerja belum final, belum mampu
memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kamu hanya tulang-tulang berserakan 
tapi yaitu kepunyaanmu
Kaulah lagi yang pastikan nilai tulang-tulang acak-acakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah kini yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga bung Karno
Menjaga bung Hatta
Menjaga bung Sjahrir
Kami kini mayat
Berilah kami arti
Berjagalah di garis batas pernyataan dan keinginan
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang diliputi bubuk
Beribu kami terbaring antara Kawang-Bekasi

Aku
Karya: Chairil Anwar
Kalau hingga waktuku 
Tak seorang kan merayu
Tidak juga kamu
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan mampu kubawa berlari
Berlari sampai pedih dan perih
Dan aku akan lebih tidak menghiraukan
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Diponegoro
Karya: Chairil Anwar
Di kurun pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
Maju
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali memiliki arti
telah itu mati
Maju
bagimu negeri
Menyediakan api.
Punah di atas ditinda
Sungguh pun dalam maut gres tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
serang Terjang

Kita Berjuang
Karya: Usmar Ismail
Terbangun saya, terloncat duduk
Kulayangkan pandang jauh keliling
Kulihat harilah terperinci jernilah falak
Kuisap
Legalah dada
Kupijak tanah
Kudengar bisikan
Hatiku beresiko
Kita berjuang!
Kita berjuang!
Sebagai dendang menyanyi kalbu
Bangkitlah kehendak damba dan larang
Ingin meda ridlah menyerbu
“Beserta saudara turut berjuang”
Derita Negeriku
Karya: IC- Surabaya
Suara hatiku membisikkan kata
Menyapa puing-puing awut-awutan
di negeri tercinta
Saudara-saudaraku yang menderita
Di tenda-tenda pengungsian
Banyak yang sakit dan meninggal
Diserang sakit dan kurang pangan
Karena kerusuhan tiada henti
Perang antara saudara sendiri
Ingin kuulurkan tangan
Membantu dengan ikhlas nrimo
Teratai
Karya: Sanusi Pane
Kepada Ki Hajar Dewantara
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang kemudian
Akarnya berkembang di hati dunia
Daun bersemi laksmi mengingat
Biarpun dia diabagaikan orang 
Semoga kembang gemilang mulia
Teruslah oh teratai senang
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman
Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau pun turut menjaga zaman
Pahlawan Tak Dikenal
Karya: Toto Sudarto Bachtiar
Sepuluh tahun yang lalu ia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru lingkaran di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilaman ia tiba
Kedua tangannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa beliau datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan bunyi menderu
Dia masih sungguh muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang tampak paras -wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang kemudian ia terbaring 
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bulat di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sungguh muda
Raden Ajeng Kartini
Karya: Sides Sudiyarto Ds
Bagai lilin menyala dalam gelap semesta
Kau terangi kaum perempuan Indonesia
Hingga bisa meraba jalan kala depan
Melawan nasib yang tiada kasatmata arahnya
Bagai kunang-kunang berkelip dalam kelam
Kau sinari langit kelabu udara beku
Cahaya juangmu membimbing bangsa melangkah maju
Meski jauh jalan berliku penuh watu
Kartini yang agung
Penyuluh kemajuan pendorong kebangkitan
Kuntum bunga pujaan nusantara
Juangmu terpatri dalam sejarah bangsa
Perang Sudah Selesai
Perang sudah final
Tidak ada tekanan lagi
Tak ada rasa takut saban hari
Semua orang bergembira
Anak-anak sedang mencar ilmu
Karena sekolah pun dibuka
Entah menumpang di rumah Pak Lurah
Entah belajar di emper rumah
Terima kasih satria
Engkau membela bangsa Indonesia
Dari aneka macam serangan 
Yang menyerang bangsa Indonesia
Nenek Pejuang
Karya: Sides Sudiyarto Ds
Seorang nenek miskin berjalan merangkak
Tertatih-tatih langkahnya jatuh bangkit
Lalu kembali merangkak dengan pakaian bercabik-cabik
Menuju jalan raya yang sepi senyap
Di tangannya ada sebungkus nasi
Terbungkus dengan daun jati
Dengan secubit garam putih
Dan setangkai cabe merah di tepinya
Nenek yang tua itu kembali ke gubuknya
Ia beristirahat meredakan nafasnya
Kemudian terdengar letusan senjata
Sebutir peluru mencabut nyawa nenek renta itu
Ia mati sunyi
Ia mati dalam sepi
Untuk kemerdekaan negeri ini
Untuk keleluasaan Republik ini
Selamat Jalan Pahlawan
Karya: Grace
Ku kirim doa
Untuk kusuma bangsa
Padamu putra-putri tersayang
Engkau berdaya upaya, berjuang
Menyelamatkan para penumpang
Bergelut dengan angin puting-beliung dan bara
Sampai pada kesannya
Nyawamu kau korbankan
Keluarga kamu lewati 
Dengan penuh haru ku ucapkan 
Selamat jalan pahlawan
Semoga arwahmu
Diterima Tuhan, Amin
Hidup Adalah Perjuangan
Karya: Seysar Inggar Tofani
Pejuang sejati
Bukanlah orang yang berani mati
Melainkan orang yang berani 
Menghadapi tantangan hidup ini
Aku ini kecil dan lemah
Aku tak menyerah
Aku rajin ke sekolah
Aku mencar ilmu tak kenal lelah
Aku ingin bermutu dan berdaya
Aku ingin bermanfaat dan memiliki kegunaan
Aku ingin hidupku sarat makna
Dan bekerjsama,
Sebaik-baiknya insan adalah
Yang berfaedah dan berguna
Bagi sesamanya

Demikianlah yang mampu admin bagikan wacana 12 contoh puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia bertema satria. Semoga apa yang admin bagikan ini berfaedah buat kemajuan anak latih dalam mengerti 12 teladan puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Selamat belajar dna biar bermanfaat. Terima kasih.


Posted

in

by

Tags: