Bagian-Bagian Kebahasaan Buku Fiksi Dan Nonfiksi (Revisi Terbaru)

Pada peluang kali ini admin akan membagikan unsur-bagian buku fiksi dan nonfiksi dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas 8 (delapan) semester 2. Semoga apa yang admin bagikan kali ini dapat menolong anak bimbing dalam mencari rujukan wacana komponen-unsur kebahasaan buku fiksi dan nonfiksi dalam bahasa Indonesia. Dan prospeknya, apa yang admin bagikan kali ini dapat memperlihatkan efek baik bagi perkembangan dan pertumbuhan berguru anak didik dalam mengetahui komponen-bagian buku fiksi dan nonfiksi.

 Pada kesempatan kali ini admin akan membagikan unsur Unsur-Unsur Kebahasaan Buku Fiksi dan Nonfiksi (Revisi Terbaru)
www.
Unsur kebahasaan kedua jenis buku fiksi dan nonfiksi tentu memiliki perbedaan masing-masing. Karya fiksi mempunyai bagian kebahasaan yang lebih fleksibel ketimbang karya nonfiksi.

Unsur Kebahasaan Karya Fiksi

Karya fiksi boleh memakai kata-kata tidak baku. Karya fiksi bersifat imajinatif dan merupakan rekaan yang dipaparkan menurut pandangan subjektif sang penulis. Salah satu komponen yang mencolokdalam karya fiksi ialah penggunaan istilah (idiom) dan majas. Ungkapan merupakan makna gres yang berbeda dengan makna asal. Majas merupakan gaya bahasa yang mampu memperindah kalimat dan memperbesar rasa tertentu pada pembaca. 
Berikut ini akan dijelaskan perbedaan antara ungkapan dan majas. Adapun perbedaan perumpamaan dan majas tersebut yaitu sebagai berikut.

Pengertian Ungkapan (Idiom)

Ungkapan ialah adonan kata yang menimbulkan makna gres yang mempunyai makna khusus bersifat konotasi (kiasan) sehingga tidak dapat diartikan secara bekerjsama.

Makna idiomatis atau idiom sering disejajarkan dengan istilah. Hal ini mampu dibenarkan karena keduanya merupakan adonan kata yang tidak ada kekerabatan makna dengan kata pembentuknya.

Contoh Ungkapan

Bertekuk lutut (mengalah)
Panjang tangan (suka mencuri)
Buah bibir (bahan percakapan)
Kabar angin(kabar belum jelas kebenarannya)

Pengertian Majas

Majas atau ragam gaya bahasa merupakan ciri khas cara pengarang mengekspresikan jiwa perasaan dan pikirannya dalam media bahasa. Kekhasan gaya bahasa tersebut terletak pada pemilihan kata-kata yang tidak secara langsung menyatakan makna yang bahwasanya. Majas mampu dibedakan menjadi majas perbandingan, penegasan, sindiran, dan pertentangan.

Macam-Macam Majas

a. Majas Perbandingan

1. Personifikasi
Majas yang melukiskan sebuah benda mati seolah-olah hidup menyerupai sifat makhluk hidup.
Misal: 
Embun pagi menyapa
Pena menari-nari di atas kertas
2. Hiperbola
Majas yang melukiskan kondisi dengan sesuatu yang jago atau melebih-lebihkan.
Misal:
Suaranya meledakkan telinga ini
Ceramahnya membius warga
3. Metafora
Majas yang membandingkan benda dengan melukiskan secara pribadi atas dasar sifat yang sama.
Misal:
Jago merah (api)
Raja siang (matahari)
4. Eufemisme
Majas yang melukiskan suatu kondisi dengan kata-kata yang lebih halus dan lembut.
Misal:
Tunawicara (bisu)
Sekelompok (gerombolan)
5. Sinekdoke
Pars Prototo, majas yang melukiskan kondisi sebagian untuk semua atau semuanya.
Misal:
Lima ekor sapi
Sehelai rambut
Totem pro parte, majas yang melukiskan keadaan semua atau keseluruhan, namun cuma mewakili untuk sebagian.
Misal:
Indonesia menang melawan China
SMP  N 1 Jakarta menjuarai lomba baca puisi
6. Litotes
Majas yang memperkecil atau melemahkan dan realita kebalikannya.
Misal:
Singgahlah sebentar di gubukku ini
Setitik air inilah yang mampu kami berikan di malam damai.
7. Asosiasi
Majas yang memiliki nama lain simile melukiskan suatu keadaan tertentu karena persamaan sifat yang dicirikan dengan kata bagai, kolam, mirip, laksana.
Misal:
Lesu bagai bulan kesiangan tingkah lakunya
Bagai pinang di belah dua
8. Metonimia
Majas yang melukiskan suatu kondisi dengan memakai nama merek, ciri khas, atau atribut.
Misal:
Nurul bahagia memakai Carvil
Herman pulang naik Pajero
9. Alegori
Majas yang memperbandingkan sesuatu dengan membentuk kesatuan yang menyeluruh.
Misal:
Nakhoda yang berlayar mengarungi perahu hidup.
suami = nakhoda
Bahtera = rumah tangga
b. Majas  Penegasan

1. Pleonasme
Majas yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang bantu-membantu tidak perlu dibilang lagi.
Misal:
Juara 1 dibutuhkan naik ke atas podium.
2. Retorika
Majas yang melukiskan keadaan dengan menggunakan kata-kata yang tidak memerlukan balasan.
Misal:
Kamu ingin istri kaya atau cantik?
3. Paralelisme
Majas yang melukiskan keadaan dengan kata yang berulang-ulang dalam puisi.
Misal:
Bunga merah merona, bunga desaku harum semerbak, bunga menyentuh raga ini bunga saya tiba.
4. Repetisi
Majas yang melukiskan suatu kondisi dengan pengulangan kata-kata yang dipakai dalam pidato.
Misal:
Merdekla semboyanku!
Merdeka harus kita jaga!
Merdeka saudaraku?
5. Klimaks
Majas yang melukiskan suatu keadaan secara berturut-turut dari permulaan hingga kondisi puncak.
Misal:
Terlihat kedua orang itu dari berjumpa , duduk, bercakap-piawai, berantem, sampai keduanya saling menampar.
c. Majas Sindiran

1. Ironi
Majas yang melukiskan kondisi yang menyatakan sebaliknya dari kenyataan dengan maksud menyindir.
Misal:
Wah, pagi benar kamu berangkat sampai-sampai bel istirahat berbunyi
Gemuk bener tubuh kau, hingga-sampai tulang rusukmu kelihatan.
2. Sinisme
Majas mirip ironi, namun lebih memiliki kecenderungan berangasan.
Misal:
Huh, kau itu kerja apa!
Itukah pengorbanan, gombal!
3. Sarkasme
Majas sindiran yang melukiskan keadaan paling garang eksklusif menusuk perasaan.
Misal:
Goblog amat sih,
Jangan tolol terus!

d. Majas Pertentangan

1. Antitesis
Majas yang berlawanan arti untuk melukiskan sebuah keadaan dengan kepaduan kata.
Misal:
Jelek atau manis ia tetap istriku
Muda atau renta aku tetap tampan
2. Paradoks
Majas yang melukiskan sebuah kondisi seperti bertentangan arti alasannya objeknya berbeda.
Misal:
Ramai kota ini tidak mampu mengubah hati sunyi ini.
Akalnya kosong di tengah kelas yang penuh sesak.
3. Kontradiksi Interminus
Majas yang melukiskan sebuah keadaan pertentangan dengan menerangkan seluruhnya.
Misal:
Semua pasien sudah sembuh, kecuali Paijo yang sedang kritis.

Unsur Kebahasaan Karya Nonfiksi

Karya nonfiksi kebanyakan memakai ragam bahasa baku alasannya adalah bersifat ilmiah dan menurut bidang keilmuan tertentu. Teori, hasil temuan, atau penelitian dituliskan secara lugas dan jelas dalam karya nonfiksi. Penulisan karya nonfiksi banyak memakai ungkapan-ungkapan atau kata-kata yang khas dalam bidang tertentu. Dalam karya nonfiksi tidak menggunakan ungkapan dan majas alasannya dapat mengaburkan makna kata yang bekerjsama. Namun, dalam karya nonfiksi mampu ditemukan penggunaan peribahasa yang bertujuan memperjelas atau membandingkan suatu hal.

Pengertian Peribahasa

Peribahasa merupakan sekelompok kata yang susunannya tetap, tidak bisa berganti-ubah, untuk mengiaskan atau menggambarkan kondisi dengan makna tertentu.

Contoh Peribahasa

Mencari jarum dalam jerami (pekerjaan yang siap-sia)
Besar pasak ketimbang tiang (besar pengeluaran ketimbang penghasilan)
Air beriak tanda tak dalam (orang yang banyak bicara  biasanya bodoh)

Posted

in

by