Bukan Sekedar Alkohol

Salah satu sunah bagi kaum muslimin dikala hendak beribadah ialah memakai wangi-wangian. Tetapi ada yang masih meragukan, apakah wewangian yang memakai alkohol boleh dipakai? Bahan parfum atau wewangian ketika ini tampaknya sudah menjadi bab dari kehidupan. Pria maupun perempuan lazimmenggunakannya untuk banyak sekali kebutuhan. Mulai dari tujuan ibadah, pergi ke masjid, menetralisir bacin badan atau sekedar menyebabkan efek dan kesan tertentu.

Islam mengusulkan umatnya untuk menggunakan wewangian sebagai bab dari ibadah, ialah untuk tujuan ke masjid atau kebutuhan menambah keserasian suami istri. Bahan yang sering dipermasalahkan oleh umat Islam dalam memakai parfum ini yaitu adanya alkohol pada produk tersebut. Ada sebagian kelompok yang mengkaitkan alkohol ini dengan minuman keras (khamer), sehingga menganggapnya najis untuk dipakai. Maka berkembanglah parfum non alkohol yang dijual di masyarakat selaku wewangian halal.
Alkohol dalam parfum berfungsi selaku pelarut materi-materi esensial yang menghasilkan aroma tertentu. Banyak sekali materi aroma parfum tersebut yang tidak larut di dalam air, tetapi hanya larut di dalam alkohol. Oleh sebab itu alkohol menjadi salah satu alternatif terbaik dalam melarutkan materi tersebut.
Sebenarnya alkohol tidaklah sama dengan khamer. Khamer atau minuman keras adalah sebuah ungkapan untuk jenis minuman yang memabukkan. Di dalam khamer itu memang mengandung alkohol sebagai salah satu unsur yang menjadikan mabuk. Sedangkan alkohol atau etanol ialah salah satu senyawa kimia yang bisa berasal dari banyak sekali bahan. Bisa dari fermentasi khamer, fermentasi non khamer, bahkan juga terdapat secara alamiah di dalam buah-buahan matang. Oleh alasannya adalah itu penggunaan alkohol teknis untuk kebutuhan non pangan, seperti bahan sanitasi (dalam dunia laboratorium dan kedokteran) masih diperbolehkan.
Sedangkan alkohol sebagai pelarut dalam dunia pangan, selama tidak terdeteksi di dalam produk final materi kuliner tersebut maka Komisi Fatwa MUI masih membolehkannya. Seperti penggunaan alkohol sebagai pelarut dalam mengekstrak minyak atsiri atau oleoresin. Demikian juga penggunaan alkohol untuk melarutkan bahan-materi perasa (flavor). Syaratnya, alkohol tersebut bukan berasal dari fermentasi khamer (alkohol teknis) dan alkohol tersebut diuapkan kembali sampai tidak terdeteksi dalam produk akhir.
Dalam dunia parfum, alkohol cuma bersifat selaku bahan penolong untuk melarutkan komponen parfum. Mungkin beliau masih akan ikut dan tertinggal di dalam parfum tersebut. Akan namun dikala dipakai, contohnya dioleskan atau disemprotkan ke badan, maka beliau akan segera menguap dan habis, tinggal materi parfumnya saja yang masih melekat.

Bukan sekedar alkohol

Bahan penyusun wewangian sendiri bahwasanya lumayan banyak. Secara biasa parfum didapatkan dari dua kelompok besar, ialah materi alami (yang diekstrak dari alam) dan bahan sintetis (materi bikinan yang berasal dari materi kimia sintetis). Sebagian golongan menilai bahwa alkohol inilah yang menyebabkan suatu parfum menjadi halal atau haram. Artinya kalau di dalam wewangian tersebut tidak ada alkohol (non alkohol), maka otomatis menjadi halal.
Anggapan ini tidak selamanya benar. Sebab bahan wewangian itu sendiri, baik yang berasal dari alam maupun sintetik, potensial mengandung sesuatu yang haram. Selain materi yang digunakan, proses pembuatan wewangian juga mengundang kerawanan. Dalam dunia wewangian kita mengenal beberapa bahan yang sering dipakai sebagai bahan esensial yang mempunyai aroma dan kesan tertentu. Misalnya civet, berbentuksejenis lemak yang berasal dari hewan. Biasanya dari hewan sejenis musang. Civet ini menunjukkan kesan tertentu di dalam wewangian, sehingga menghasilkan nuansa maskulin. Sebagai sebuah lemak hewan, pastinya perlu dikaji, apakah binatang tersebut halal atau tidak. Demikian juga cara menerimanya, apakah disembelih atau tidak. Sebab jikalau tidak cocok dengan hukum Islam, maka civet yang berasal dari binatang haram akan menjadi najis bagi wewangian yang dihasilkannya.
Salah satu proses pengambilan bagian esensial dalam wewangian adalah dengan tata cara enfluorase. Metode ini dikerjakan dengan menangkap bahan parfum yang bersifat folatil (gas yang mudah terbang) ke dalam suatu lemak padat. Cara ini dipakai untuk menghasilkan aroma tertentu yang merepotkan dilarutkan atau ditangkap dengan pelarut cair biasa. Nah, sekali lagi kita berjumpa dengan lemak padat, yang umumnya ialah lemak hewani. Konon yang sering dipakai dalam sistem ini ialah justru lemak babi!
Meskipun ketika ini tata cara tersebut telah mulai ditinggalkan alasannya adalah mahal, namun untuk parfum-parfum tertentu yang menginginkan kemurnian dan efek tertentu, maka penggunaan sistem tersebut masih dimungkinkan. Di pasaran kita sulit membedakan mana parfum yang diperoleh dari ekstraksi memakai pelarut cair dan mana yang memakai tata cara enfluorase. Kadang-kadang beberapa bahan tersebut dicampur-campur untuk menghasilkan imbas dan huruf tertentu.
Melihat hal itu seyogyanya kita dapat menganggap kehalalan wewangian secara proporsional. Boleh-boleh saja pertimbangan yang mengharamkan penggunaan alkohol dalam wewangian dengan berbagai sebab. Tetapi kita juga harus melihat aspek lain, mirip bahan parfumnya sendiri atau proses pembuatannya yang mampu saja melibatkan materi-bahan haram. Bahan pelarut dan penangkap bagian esensial dalam dunia wewangian memang sangat diperlukan. Jangan hingga demi menghindari alkohol yang masih diperdebatkan kebolehannya, kita justru terjebak kepada bahan lain yang terang-terang haram dan najis.(Jurnal Halal LPPOM MUI)

http://www.halalguide.gosip


Posted

in

by

Tags: