Anutan Murjiah Dan Qodariyah


Murji’ah
Kata Murji’ah berasal dari suku kata Bahasa Arab raja’a yang memiliki arti kembali. Maksudnya yaitu kelompok atau fatwa yang berpendapat bahwa konsekuensi aturan dari tindakan manusia bergantung pada Allah SWT.

Awal Munculnya Golongan Murji’ah
Golongan Murji’ah pertama kali muncul di Damaskus pada penghujung era pertama Hijriyah. Murji’ah pernah mengalami kejayaan yang cukup signifikan pada kurun Daulah Umawiyah, tetapi sesudah runtuhnya Daulah Umawiyah tersebut, golongan Murji’ah ikut redup dan berangsur-angsur hilang ditelan zaman, hingga kini ajaran tersebut sudah tidak terdengar lagi, namun sebagian fahamnya masih ada yang dibarengi oleh sebagian orang, sekalipun berlawanan oleh sebagian orang, sekalipun berlawanan dengan Alquran dan sunah.

Ciri-Ciri Faham Murji’ah
Diantara cirri cirri faham Murji’ah ialah:
1. Rukun keyakinan ada dua adalah: dogma terhadap Allah dan akidah kepada utusan Allah.
2. Orang yang berbuat dosa besar, statusnya tetap mukmin selama dia sudah beriman, dan jikalau meninggal dalam dosa tersebut, ketentuannya tergantung Allah di Akhirat kelak.
3. Perbuatan maksiat tidak berdampak apapun terhadap seseorang jikalau sudah beriman. Dalam artian bahwa dosa sebesar apapun tidak mampu mempengaruhi keimanan seseorang dan keimanan tidak dapat pula mempengaruhi dosa. Dalam arti dosa ya dosa, kepercayaan ya iman.
4. Perbuatan kebajikan tidak bermakna apapun bila dikerjakan di dikala kafir. Artinya perbuatan tersebut tidak dapat menghapuskan dosa kekafirannya dan bila beliau sudah Islam, perbuatan tersebut juga tidak bermanfaat, alasannya adalah beliau melakukannya sebelum masuk Islam.
Golongan Murji’ah tak inginmengkafirkan orang yang sudah masuk Islam, sekalipun orang tersebut zalim, berbuat maksiat dan lain-lain. Sebab mereka mempunyai doktrin bahwa tindakan dosa sebesar apapun tidak menghipnotis keimanan seseorang selama orang tersebut masih muslim, kecuali jika orang tersebut telah keluar dari Islam (murtad) maka ia dihukumi kafir. Aliran Murji’ah juga menilai bahwa orang yang secara lahirmenampakann kekafiran, tetapi jikalau batinnya tidak, maka orang tersebut tidak mampu dihukumi kafir. Sebab, evaluasi kafir atau tidaknya seseorang itu tidak dilihat dari segi lahirnya, namun bergantung terhadap batinnya. Sebab ketentuannya terletak pada i’tiqad seseorang dan bukan segi lahiriahnya.

Qadariyah
Golongan Qadariyah pertama kali timbul kira-kira pada tahun 70 H di Irak pada periode Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang hidup antara tahun 685–705 M. Kelompok Qadariyah ini dimotori oleh Ma’bad bin Juhani al-Bisry (w. 699 M) dan Al-Ja’du bin Dirham.
Pada permulaan munculnya kalangan Qadariyah ini disangka sebagai protes atas kezaliman politik Bani Umayah. Qadariyah sungguh bertolak belakang dengan paham kelompok Jabariyah. Jabariyah memiliki iktikad bahwa segala sesuatu ihwal insan sudah terkait dengan ketentuan Allah, sementara Qadariyah mengatakan bahwa insan tidak selamanya terkait pada ketentuan Allah semata, namun mesti disertai dengan upaya dan perjuangan untuk memilih nasibnya.
Ciri-Ciri Paham Qadariyah
Di antara cirri-ciri paham Qadariyah yakni selaku berikut.
1. Manusia berkuasa penuh untuk memilih nasib dan perbuatannya, maka perbuatan dan nasib insan itu dikerjakan dan terjadi atas kehendak dirinya sendiri, tanpa ada campur tangan Allah SWT.
2. Iman ialah wawasan dan pemahaman, sedang amal perbuatan tidak mensugesti akidah. Artinya, orang berbuat dosa besar tidak mempengaruhi keimanannya.
3. Orang yang telah beriman tidak perlu terburu-buru menjalankan ibadah dan amal-amal kebajikan lainnya.

Perkembangan Qadariyah

Aliran Qadariyah tergolong yang cukup cepat berkembang dan mendapat santunan cukup luas di golongan masyarakat, sebelum risikonya pemimpinnya, Ma’bad dan beberapa tokohnya, berhasil ditangkap dan dihukum mati oleh penguasa Damsyiq pada tahun 80 H/699 M, sebab membuatkan anutan sesat. Sejak terbunuhnya pentolan Qadariyah tersebut, ajaran Qadariyah mulai pudar, sehingga hasilnya sirna dikonsumsi zaman dan sekarang tinggal sebuah nama yang tertulis di dalam buku. Namun, selaku pahamnya masih dianut oleh sebagian orang.

Firqah-Firqah Masa Sahabat dan Generasi Berikutnya:

Khawarij (I)
Secara bahasa Khawarij berasal dari suku kata Arab kharaja yang artinya keluar atau hengkang. Adapun secara ungkapan adalah sebuah anutan atau kalangan atau sekelompok orang yang pada awalnya setia dan mendukung kepada khalifah Ali bin Abi Thalib, lalu keluar dan tidak mendukung Ali bin Abi Thalib, lalu bergabung dengan kelompok lain kerena tidak oke dengan kebijakan pemerintahan khalifah Ali bin Abu Tahlib. (Al-Milal wan-Nihal I/114–115).

Awal dan Sebab Timbulnya Khawarij

Golongan Khawarij timbul semenjak terjadi Perang Siffin, yaitu perang saudara yang terjadi antarpengikut Ali bin Abi Thalib selaku khalifah yang sah dengan pemberontak yang dipimpin Muawiyah. Peperangan itu diakhiri dengan genjatan senjata, untuk mengadakan perundingan antar kedua belah pihak, namun di antara sebagian pengikut Khalifah Ali r.a. tidak setuju dengan genjatan senjata tersebut, mereka keluar dari kalangan Ali bin Abi Thalib dan membuat kalangan sendiri yang disebut Khawarij, yaitu orang-orang yang tidak puas dengan kebijakan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Kelompok Khawarij ini kesannya menentang golongan Ali dan Muawiyah.

Kaum Khawarij menilai bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. yakni pemimpin yang tidak tegas dalam mengambil perilaku dan keputusan dalam membela kebenaran. Golongan Khawarij ini cepat berkembang dan menyebar ke banyak sekali daerah Islam. Oposisi dan pengaruhnya bisa meruntuhkan daulah Umawiyah bab timur, dan pengaruh Abu Muslim al-Khurasany mampu menggulingkan pemerintahan Muawiyah di Persi.

Golongan Khawarij meningkat kurang lebih selama dua kurun, lalu pecah menjadi 20 kelompok sebelum kesannya sirna tinggal namanya ditelan zaman dan hingga saat ini kelompok tersebut telah tidak ada lagi.

Ciri-Ciri dan Pokok-Pokok Ajaran Khawarij

Diantara ciri-ciri dan pokok-pokok fatwa khawarij ialah sebagai berikut.
1. Ali bin Abi Thalib, Utsman, dan para pengikut Perang Jamal, serta mereka yang setuju dengan adanya negosiasi antara Ali dan Muawiyah dihukum kafir oleh kaum Khawarij.
2. Setiap umat Muhammad yang berbuat dosa besar dan sampai meninggal belum bertobat, mereka dianggap mati kafir dan abadi di dalam neraka.
3. Diperbolehkan tidak mengikuti dan tidak menaati hukum-aturan seorang kepala negara (khalifah) yang zalim dan penghianat.
4. Tidak ada hukum selain yang bersumber dari Alquran (mereka menolak hadis).
5. Anak-anak orang kafir yang mati sebelum balig tetap masuk neraka, alasannya dihukumi kafir mirip induknya.
6. Semua dosa ialah besar, tidak ada dosa yang kecil.
7. Ibadah tergolong rukun Iman.
8. Siti Aisyah (isteri Rasulullah saw.) terkutuk sebab Perang Jamal melawan Ali bin Abi Thalib.
9. Ali bin Abi Thalib tidak sah menjadi khalifah sesudah tahkim dan lain-lain.

Perpecahan di Tubuh Khawarij
Golongan Khawarij yang mengalami kejayaan kurang lebih dua kurun, kesudahannya runtuh. Ikatan tali persatuan yang mereka bangun akhirnya pudar disebabkan perpecahan dahsyat yang menggerogoti tubuhnya. Akibatnya, Khawarij tinggal sebuah nama yang terukir dalam sejarah dan tertulis dalam buku. Ini sesuai dengan firman Allah SWT yang menyatakan bahwa kebatilan akan sirna, sehingga sirna pulalah setiap anutan yang menyalahi aturan Islam.

Kaum Khawarij pecah menjadi 20 kalangan, di antaranya yakni:

1. Al-Azariqah, ialah sempalan Khawarij yang dikomandoi oleh Abu Rasyid Nafi’ bin al-Azraq, mereka keluar dari Bashrah bareng Nafi’ menuju al-Ahwaz.
2. An-Najadat al-Adzirabah, adalah fatwa sempalan Khawarij di bawah komando Najdah bin Amir Al-Hanafi. Mereka keluar dari Al-Yamamah bareng bala tentaranya bermaksud menemui Al-Adzariqah. Najdah akhirnya terbunuh pada tahun 69 H.
3. Al-Baihasiyah, adalah kelompok sempalan dari khawarij yang dikomandoi oleh Abu Baihah al-Haisam bin Jabir.
4. Al-Ajaridah, yaitu golongan sempalan Khawarij yang bernaung di bawah kepemimpinan Abdul Karim bin Ajarid.
5. Al-Tsa’alibah, yaitu kelompok sempalan Khawarij yang bernaung di bawah kepempimpinan Al-Tsa’alibah.
6. Al-Ibadliyah, adalah golongan sempalan Khawarij yang bernaung di bawah kepempimpinan Abdullah bin Ibadl dari kalangan Bani Murrah bin Ubaid bin Taim.
7. As-Shufriyah al-Ziyadiah, yakni golongan sempalan Khawarij yang bernaung di bawah payung Ziyad bin al-Ashfar dan lain-lain.

Tokoh-Tokoh Golongan Khawarij

Di antara tokoh-tokoh kelompok Khawarij yang terkenal yakni
1. Ikrimah,
2. Abu Harin al-Abadi,
3. Abu Sya’tsa,
4. Ismail bin Sami’.

Keempat tokoh ini adalah para pendahulu, pentolan kaum Khawarij.

Adapun pentolan kaum Khawarij kalangan mutaakhhirin di antaranya yaitu
1. Al-Yaman bin Rabab,
2. Tsa’by,
3. Baihaqi,
4. Abdullah bin Yazid,
5. Muhammad bin Harb,
6. Yahya bin Kamil,
7. Ibadliyah, dan lain-lain.
Adapun para penyair kaum Khawarij yang populer di antaranya ialah
1. Imran bin Khattam
2. Hubaib bin Murrah,
3. Jahm bin Shafyan,
4. Abu Marwah Ghailam bin Muslim.


Posted

in

by