Materi 8C Perang Melawan Jepang

MATERI 8 PENDUDUKAN JEPANG


8c. Perang melawan Jepang

1.    Latarbelakang Perang
Di balik senyum manis dan propaganda yang menjanjikan, ternyata Jepang bertindak kejam. Jepang telah mengerahkan semua peluangdan kekuatan yang ada untuk menopang perang yang sedang mereka hadapi untuk melawan Sekutu. Jepang juga menguras aset kekayaan yang dimiliki Indonesia untuk memenangkan perang dan melanjutkan industri di negerinya.

a.         Ekonomi Perang
Pada saat berkobarnya PD II, Indonesia betul-betul menjadi sasaran ekspansi dampak kekuasaan Jepang. Bahkan, Indonesia lalu menjadi salah satu benteng pertahanan Jepang untuk membendung gerak laju kekuatan serdadu Serikat dan melawan kekuatan Belanda.
Setelah sukses menguasai Indonesia, Jepang mengambil kebijakan dalam bidang ekonomi yang sering disebut self help atau Ekonomi Perang, ialah hasil perekonomian di Indonesia dijadikan modal untuk memadai keperluan pemerintahan dan perang Jepang.

Kebijakan Ekonomi Perang ialah :

1). Padi berada eksklusif di bawah pengawasan pemerintah Jepang
    Hanya pemerintah Jepang yang berhak mengontrol untuk produksi, pungutan dan penyaluran padi serta memilih harganya. Dalam kaitan ini Jepang telah membentuk tubuh yang diberi nama Shokuryo  Konri Zimusyo (Kantor Pengelolaan Pangan).

2). Penggiling dan penjualpadi dihentikan beroperasi sendiri, harus diatur oleh Kantor Pengelolaan Pangan.

3). Para petani harus menjual hasil bikinan padinya terhadap pemerintah sesuai dengan kuota yang sudah ditentukan dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah Jepang.

b. Pengendalian di Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
Pemerintah Jepang mulai membatasi aktivitas pendidikan. Jumlah sekolah juga dikurangi secara drastis. Jumlah sekolah dasar menurun dari 21.500 menjadi 13.500 buah. Sekolah lanjutan menurun dari 850 menjadi 20 buah. Kegiatan akademi tinggi boleh dibilang macet. Jumlah murid sekolah dasar menurun 30% dan jumlah siswa sekolah lanjutan merosot sampai 90%. Begitu juga tenaga pengajarnya mengalami penurunan secara signifikan. Muatan kurikulum yang diajarkan juga dibatasi. Mata pelajaran bahasa Indonesia dijadikan mata pelajaran utama, sekaligus sebagai bahasa pengantar. Kemudian, bahasa Jepang menjadi mata pelajaran wajib di sekolah.

Para pelajar mesti menghormati budaya dan etika istiadat Jepang. Mereka juga mesti melakukan aktivitas kerja bakti (kinrohosyi). Kegiatan kerja bakti itu mencakup, pengumpulan materi-materi untuk perang, penanaman materi masakan, penanaman pohon jarak, perbaikan jalan, dan pembersihan asrama.

Para pelajar juga mesti mengikuti acara latihan jasmani dan kemiliteran. Mereka mesti sungguh-sungguh melaksanakan semangat Jepang (Nippon Seishin). Para pelajar juga harus menyanyikan lagu Kimigayo, menghormati bendera Hinomaru dan melakukan gerak tubuh (taiso) serta seikerei.

Akibat keputusan pemerintah Jepang tersebut, membuat angka buta huruf menjadi meningkat. Berdasarkan kenyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa kondisi pendidikan di Indonesia pada kala pendudukan Jepang mengalami kemunduran. Kemunduran pendidikan itu juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah Jepang yang lebih berorientasi pada kemiliteran untuk kepentingan pertahanan Indonesia dibandingkan pendidikan.

Banyak anak usia sekolah yang harus masuk organisasi semimiliter sehingga banyak anak yang meninggalkan bangku sekolah.Bagi Jepang, pelaksanaan pendidikan bagi rakyat Indonesia bukan untuk membuat bakir, tetapi dalam rangka untuk pembentukan kader-kader yang memelopori acara Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Oleh sebab itu, sekolah selalu menjadi kawasan indoktrinasi kejepangan.

c.     Pengerahan Romusa
Perlu dimengerti bahwa untuk menopang Perang Asia Timur Raya, Jepang mengerahkan semua tenaga kerja dari Indonesia. Tenaga kerja inilah yang kemudian kita kenal dengan romusa. Mereka dipekerjakan di lingkungan terbuka, misalnya di lingkungan pembangunan kubu-kubu pertahanan, jalan raya, lapangan udara. Pada mulanya, tenaga kerja dikerahkan di Pulau Jawa yang padat penduduknya, lalu di kota-kota dibuat barisan romusa sebagai sarana propaganda. Desa-desa diwajibkan untuk menyiapkan sejumlah tenaga romusa. Panitia pengerahan tersebut disebut Romukyokai, yang ada di setiap daerah.



Rakyat Indonesia yang menjadi romusa itu diperlakukan dengan tidak senonoh, tanpa mengenal peri kemanusiaan. Mereka dipaksa bekerja sejak pagi hari hingga petang, tanpa makan dan pelayanan yang cukup, padahal mereka melaksanakan pekerjaan bernafsu yang sangat membutuhkan banyak asupan masakan dan istirahat. Mereka hanya mampu beristirahat pada malam hari. Kesehatan mereka tidak terurus. Tidak jarang di antara mereka jatuh sakit bahkan mati kelaparan.



Untuk menutupi kekejamannya dan semoga rakyat merasa tidak dirugikan, semenjak tahun 1943, Jepang melancarkan kampanye dan propaganda untuk menarik rakyat biar mau berangkat bekerja sebagai romusa. Untuk mengambil hati rakyat, Jepang memberi julukan mereka yang menjadi romusa itu selaku “Prajurit Ekonomi” atau “Pahlawan Pekerja”. Para romusa itu diumpamakan sebagai orang-orang yang sedang menunaikan tugas sucinya untuk mengungguli perang dalam Perang Asia Timur Raya. Pada era itu sudah sekitar 300.000 tenaga romusa dikirim ke luar Jawa, bahkan hingga ke luar negeri seperti ke Birma, Muangthai, Vietnam, Serawak, dan Malaya. Sebagian besar dari mereka ada yang kembali ke kawasan asal, ada yang tetap tinggal di daerah kerja, namun kebanyakan mereka mati di tempat kerja.
2.         Perang Melawan Tirani Jepang
Jepang yang mula-mula disambut dengan senang hati, lalu menjelma kebencian. Rakyat bahkan lebih benci pada pemerintah Jepang dibandingkan dengan pemerintah Kolonial Belanda. Jepang kadang-kadang bertindak sewenangwenang. Rakyat tidak bersalah ditangkap, ditahan, dan disiksa. Kekejaman itu dilakukan oleh kempetai (polisi militer Jepang). Pada kurun pendudukan Jepang banyak gadis dan wanita Indonesia yang ditipu oleh Jepang dengan alasan untuk bekerja selaku perawat atau disekolahkan, ternyata cuma dipaksa untuk melayani para kempetai. Para gadis dan wanita itu disekap dalam kamp-kamp yang tertutup selaku perempuan penghibur. Kamp-kamp itu dapat kita temukan di Solo, Semarang, Jakarta, dan Sumatra Barat. Kondisi itu menambah formasi penderitaan rakyat di bawah kendali penjajah Jepang. Oleh alasannya itu, wajar jikalau lalu timbul aneka macam perlawanan.

a. Aceh Angkat Senjata
Salah satu perlawanan terhadap Jepang di Aceh adalah perlawananan rakyat yang terjadi di Cot Plieng yang dipimpin oleh Abdul Jalil. Abdul Jalil yakni seorang ulama muda, guru mengaji di kawasan Cot Plieng, Provinsi Aceh. Karena melihat kekejaman dan kesewenangan pemerintah pendudukan Jepang, terutama terhadap romusa, maka rakyat Cot Plieng melancarkan perlawanan. Abdul Jalil memimpin rakyat Cot Plieng untuk melawan tindak penindasan dan kekejaman yang dijalankan pendudukan Jepang.

Di Lhokseumawe, Abdul Jalil berhasil menggerakkan rakyat dan para santri di sekeliling Cot Plieng. Gerakan Abdul Jalil ini di mata Jepang dianggap sebagai tindakan yang sangat membahayakan. Oleh sebab itu, Jepang berupaya membujuk Abdul Jalil untuk berdamai. Namun, Abdul Jalil bergeming dengan undangan tenang itu. Karena Abdul Jalil menolak jalan tenang, pada tanggal 10 November 1942, Jepang mengerahkan pasukannya untuk menyerang Cot Plieng.

Kemudian, peperangan berlanjut hingga pada tanggal 24 November 1942, ketika rakyat sedang mengerjakan ibadah salat subuh. Karena diserang, maka rakyat- pun dengan sekuat tenaga melawan. Rakyat dengan bersenjatakan pedang dan kelewang, bertahan bahkan mampu memukul mundur prajurit Jepang. Serangan prajurit Jepang diulang untuk yang kedua kalinya, tetapi mampu digagalkan oleh rakyat. Kekuatan Jepang semakin ditingkatkan.

Kemudian, Jepang melancarkan serangan untuk yang ketiga kalinya dan sukses merusak pertahanan rakyat Cot Plieng, sehabis Jepang aben masjid. Banyak rakyat pengikut Abdul Jalil yang terbunuh. Dalam keadaan terdesak, Abdul Jalil dan beberapa pengikutnya sukses meloloskan diri ke Buloh Blang Ara. Beberapa hari lalu, ketika Abdul Jalil dan pengikutnya sedang menjalankan sholat, mereka ditembaki oleh tentara Jepang sehingga Abdul Jalil gugur selaku pahlawan bangsa. Dalam pertempuran ini, rakyat yang gugur sebanyak 120 orang dan 150 orang luka-luka, sedangkan Jepang kehilangan 90 orang prajuritnya.

b. Perlawanan di Singaparna
Singaparna merupakan salah satu daerah di wilayah Jawa Barat, yang rakyatnya dikenal sangat religius dan memiliki jiwa patriotik. Rakyat Singaparna sungguh anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu, rakyat Singaparna sungguh benci terhadap pendudukan Jepang, terlebih dikala mengetahui sikap pemerintahan Jepang yang sungguh kejam. Kebijakan-kebijakan Jepang yang dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat, banyak yang tidak sesuai dengan fatwa Islam—anutan yang banyak dianut oleh penduduk Singaparna. Atas dasar pandangan dan anutan Islam, rakyat Singaparna melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Jepang.

Perlawanan itu juga dilatarbelakangi oleh kehidupan rakyat yang kian menderita. Pengerahan tenaga romusa dengan paksa dan di bawah bahaya ternyata sungguh mengusik ketenteraman rakyat. Para romusa dari Singaparna diantarke banyak sekali tempat di luar Jawa. Mereka umumnya tidak kembali alasannya menjadi korban keganasan alam maupun balasan tindakan Jepang yang tidak memedulikan perikemanusiaan. Mereka banyak yang meninggal tanpa dikenali di mana kuburnya. Selain itu, rakyat juga diwajibkaan menyerahkan padi dan beras dengan aturan yang sangat menjerat dan menindas rakyat, sehingga penderitaan terjadi dimana-mana.
c. Perlawanan di Indramayu
Perlawanan terhadap kekejaman Jepang juga terjadi di kawasan Indramayu. Latar belakang dan alasannya-karena perlawanan yaitu Para petani dan rakyat Indramayu pada umumnya hidup sungguh sengsara. Jepang sudah bertindak semena-mena terhadap para petani Indramayu. Mereka harus menyerahkan sebagian besar hasil padinya terhadap Jepang. kebijakan untuk mengerahkan tenaga romusa juga terjadi di Indramayu, sehingga kian menciptakan rakyat menderita.
Perlawanan rakyat Indramayu antara lain terjadi di Desa Kaplongan, Distrik Karangampel pada bulan April 1944. Kemudian pada bulan Juli, muncul pula perlawanan rakyat di Desa Cidempet, Kecamatan Lohbener.
d. Rakyat Kalimantan Angkat Senjata
Perlawanan rakyat kepada kekejaman Jepang terjadi di banyak kawasan. Begitu juga di Kalimantan, di sana terjadi kejadian yang nyaris sama dengan apa yang terjadi di Jawa dan Sumatra. Rakyat melawan Jepang alasannya adalah himpitan penindasan yang dinikmati sungguh berat. Salah satu perlawanan di Kalimantan yaitu perlawanan yang dipimpin oleh Pang Suma, seorang pemimpin Suku Dayak. Pemimpin Suku Dayak ini mempunyai efek yang luas di kelompok orang-orang atau suku-suku dari daerah Tayan, Meliau, dan sekitarnya.

Pang Suma dan pengikutnya melancarkan perlawanan terhadap Jepang dengan seni manajemen perang gerilya. Mereka cuma berjumlah sedikit, namun dengan perlindungan rakyat yang militan dan dengan memanfaatkan laba alam rimba belantara, sungai, rawa, dan daerah yang merepotkan ditempuh perlawanan berkobar dengan sengitnya. Namun, harus dipahami bahwa di kalangan penduduk juga berkeliaran para intel Jepang yang berasal dari orang-orang Indonesia sendiri. Lebih menyedihkan lagi, para intel itu juga tidak segan-segan menangkap rakyat, melakukan penganiayaan, dan pembunuhan, baik kepada orang-orang yang dicurigai atau bahkan terhadap saudaranya sendiri. Adanya kepetangan inilah yang sering membuat perlawanan para pejuang Indonesia mampu dikalahkan oleh penjajah.
Demikian juga perlawanan rakyat yang dipimpin Pang Suma di Kalimantan ini kesudahannya mengalami kegagalan juga.
e. Perlawanan Rakyat Irian
Pada kala pendudukan Jepang, penderitaan juga dialami oleh rakyat di Papua. Mereka mendapat pukulan dan penganiayaan yang sering di luar batas kemanusiaan. Oleh alasannya itu, masuk akal jikalau lalu mereka melancarkan perlawanan kepada Jepang.

Gerakan perlawanan yang populer di Papua yaitu “Gerakan Koreri” yang berpusat di Biak dengan pemimpinnya berjulukan L. Rumkorem. Rakyat Irian mempunyai semangat juang pantang mengalah, sekalipun Jepang sungguh besar lengan berkuasa, sedangkan rakyat cuma menggunakan senjata seadanya untuk melawan. Rakyat Irian terus menunjukkan perlawanan di banyak sekali daerah.

Mereka juga tidak mempunyai rasa takut. Padahal jikalau ada rakyat yang tertangkap, Jepang tidak segan-segan memberi hukuman pancung di depan biasa . Namun, rakyat Irian tidak gentar menghadapi semua itu. Mereka melakukan taktik perang gerilya. Tampaknya, Jepang cukup kewalahan menghadapi keberanian dan taktik gerilya orang-orang Irian. Akhirnya, Jepang tidak mampu bertahan menghadapi para pejuang Irian tersebut. Jepang alhasil meninggalkan Biak. Oleh alasannya adalah itu, mampu dikatakan Pulau Biak ini merupakan tempat bebas dan merdeka yang pertama di Indonesia.

f. Peta di Blitar Angkat Senjata
Penderiatan rakyat sangat berat. Tidak ada sedikit pun dari pemerintah pendudukan Jepang yang mempertimbangkan bagaimana hidup rakyat yang diperintahnya.Yang ada pada benak Jepang ialah memenangkan perang dan bagaimana mempertahankan Indonesia dari serangan Sekutu. Namun, justru rakyat yang dikorbankan. Penderitaan demi penderitaan rakyat ini mulai terlintas di benak Supriyadi seorang Shodanco Peta yang alhasil berkembang kesadaran nasionalnya untuk melawan Jepang.



Perang Peta melawan Jepang dipimpin oleh Supriyadi seorang Shodanco/Komandan  Peta.

Penyebab Peta berperang melawan Jepang yakni penderitaan rakyat balasan penindasan yang dikerjakan Jepang, mirip pengumpulan hasil padi, pengerahan romusa, semua dilakukan secara paksa dengan tanpa mengamati nilai-nilai kemanusiaan.

Posted

in

by