Makna Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Ber Masyarakat


Nilai-Nilai Pancasila dalam Hidup Bermasyarakat.

Ideologi merupakan seperangkat metode yang menjadi dasar pedoman setiap warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan bersumberkan budaya, etika istiadat, dan agama sebagai tonggaknya, nilai-nilai Pancasila diyakini kebenarannya dan selalu menempel dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia.

Pada dikala berdirinya negara Republik Indonesia yang ditandai dengan dibacakannya teks proklamasi pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia sepakat pengaturan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Pada abad globalisasi akil balig cukup akal ini, banyak hal yang mau menghancurkan mental dan nilai watak Pancasila yang menjadi pujian bangsa dan negara Indonesia. Dengan demikian, Indonesia perlu waspada dan berusaha agar ketahanan mental-ideologi bangsa Indonesia tidak tergerus. Pancasila harus senantiasa menjadi benteng moral dalam menjawab tantangan-tantangan kepada komponen-unsur kehidupan bernegara, adalah sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama.
Tantangan yang timbul, antara lain berasal dari derasnya arus paham-paham yang bersandar pada otoritas bahan, seperti liberalisme, kapitalisme, komunisme, sekularisme, pragmatisme, dan hedonisme, yang menggerus kepribadian bangsa yang berkarakter nilai-nilai Pancasila. Hal inipun dapat dilihat dengan terperinci, betapa paham-paham tersebut sudah merasuk jauh dalam kehidupan bangsa Indonesia sehingga melalaikan kultur bangsa Indonesia yang memiliki sifat religius, santun, dan gotong-royong. Apabila ditarik benang merah terkait dengan tantangan yang melanda bangsa Indonesia sebagaimana tersebut di atas, maka dapat diidentifikasi sebagai berikut:
Dilihat dari kehidupan penduduk , terjadi kegamangan dalam kehidupan bernegara dalam kurun reformasi ini sebab pergantian sistem pemerintahan yang begitu cepat termasuk digulirkannya otonomi tempat yang seluas-luasnya disatu pihak, dan dipihak lain, masyarakat merasa bebas tanpa tuntutan nilai dan norma dalam kehidupan bernegara. Akibatnya, sering ditemukan perilaku anarkisme yang dijalankan oleh bagian penduduk terhadap kemudahan publik dan aset milik penduduk yang lain yang dipandang tidak cocok dengan paham yang dianutnya. Masyarakat menjadi beringas karena code of conduct yang bersumber pada nilai-nilai Pancasila mengalami degradasi.
Nilai-Nilai Pancasila dalam Hidup Bernegara.

Pancasila sebagai dasar negara ialah nilai-nilai yang hidup dan meningkat dalam
penduduk Indonesia, adalah:
1. Nilai-nilai Ketuhanan (religiusitas) sebagai sumber budbahasa dan spiritualitas (yang bersifat vertical transcendental) dianggap penting selaku fundamental adat kehidupan bernegara. Negara menurut Pancasila dibutuhkan mampu melindungi dan mengembangkan kehidupan beragama; sementara agama diharapkan dapat memainkan tugas publik yang berkaitan dengan penguatan adab sosial. Sebagai negara yang dihuni oleh masyarakatdengan multiagama dan multikeyakinan, negara Indonesia dibutuhkan dapat mengambil jarak yang serupa, melindungi kepada semua agama dan akidah serta dapat menyebarkan politiknya yang dipandu oleh nilai-nilai agama.
2. Nilai-nilai kemanusiaan universal yang bersumber dari hukum Tuhan, hukum alam, dan sifatsifat sosial (bersifat horizontal) dianggap penting sebagai mendasar etika-politik kehidupan bernegara dalam pergaulan dunia. Prinsip kebangsaan yang luas mengarah pada persaudaraan dunia yang dikembangkan lewat jalan eksternalisasi dan internalisasi.
3. Nilai-nilai etis kemanusiaan mesti mengakar besar lengan berkuasa dalam lingkungan pergaulan kebangsaan yang lebih bersahabat sebelum meraih pergaulan dunia yang lebih jauh. Indonesia memiliki prinsip dan visi kebangsaan yang berpengaruh, bukan saja mampu mempertemukan kemajemukan penduduk dalam kebaruan komunitas politik bersama, melainkan juga bisa memberi kemungkinan bagi keragaman komunitas untuk tidak tercerabut dari akar tradisi dan kesejarahan masing-masing. Dalam khazanah Indonesia, hal tersebut mirip perspektif etnosimbolis yang menggabungkan antara perspektif modernis yang menekankan komponen-bagian kebaruan dalam kebangsaan dengan perspektif primordialis dan perenialis yang melihat unsur usang dalam kebangsaan.
4. Nilai Ketuhanan, nilai kemanusiaan, dan nilai serta impian kebangsaan itu dalam aktualisasinya mesti menjunjung tinggi kedaulatan rakyat yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Dalam prinsip musyawarah mufakat, keputusan tidak didikte oleh kelompok secara umum dikuasai atau kekuatan minoritas elit politik dan pebisnis, tetapi dipimpin oleh hikmat/kecerdikan yang memuliakan daya-daya rasionalitas deliberatif dan kearifan setiap warga tanpa pandang bulu.
5. Nilai Ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai dan cita kebangsaan serta demokrasi permusyawaratan itu memperoleh artinya sejauh dalam merealisasikan keadilan sosial. Dalam visi keadilan sosial menurut Pancasila, yang diinginkan adalah keseimbangan antara tugas insan selaku makhluk individu dan tugas insan sebagai makhluk sosial, juga antara pemenuhan hak sipil, politik dengan hak ekonomi, sosial dan budaya. Pandangan tersebut berlandaskan pada anutan Bierens de Haan (Soeprapto, Bahar dan Arianto, 1995: 124) yang menyatakan bahwa keadilan sosial setidak-tidaknya menawarkan pengaruh pada perjuangan mendapatkan cita negara bagi bangsa Indonesia yang hendak membentuk negara dengan struktur sosial orisinil Indonesia

Posted

in

,

by

Tags: