Bahan 2B : Manusia Purba

Manusia Purba
Peninggalan manusia purba untuk sementara ini yang paling banyak ditemukan berada di Pulau Jawa. Meskipun di daerah lain tentu juga ada, tetapi para peneliti belum sukses memperoleh tinggalan tersebut atau masih sedikit yang sukses didapatkan, contohnya di Flores. Di bawah ini akan dipaparkan beberapa inovasi penting fosil insan di beberapa kawasan.
1. Sangiran
Perjalanan dongeng perkembangan insan di dunia tidak mampu kita lepaskan dari eksistensi bentangan luas perbukitan tandus yang berada di perbatasan Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar. Lahan itu dikenal dengan nama Situs Sangiran.
Sangiran pertama kali didapatkan oleh P.E.C. Schemulling tahun 1864, dengan laporan inovasi fosil vertebrata dari Kalioso, bagian dari kawasan Sangiran. Semenjak dilaporkan Schemulling situs itu seperti terlewatkan dalam waktu yang usang. Eugene Dubois juga pernah tiba ke Sangiran, akan namun ia kurang kepincut dengan temuan-temuan di daerah Sangiran. Pada 1934, Gustav Heindrich Ralph von Koeningswald mendapatkan artefak litik di kawasan Ngebung yang terletak sekitar dua km di barat bahari kubah Sangiran.

      Von Koeningswald

Artefak litik itulah yang kemudian menjadi temuan penting bagi Situs Sangiran. Semenjak penemuan von Koeningswald, Situs Sangiran menjadi sungguh terkenal berhubungan dengan penemuan-penemuan fosil Homo erectus secara sporadis dan berkelanjutan. Homo erectus adalah takson paling penting dalam sejarah insan, sebelum masuk pada tahapan manusia Homo sapiens, insan modern.
2. Trinil, Ngawi, Jawa Timur

      Eugene Dubois

Sebelum penemuannya di Trinil, Eugene Dubois mengawali temuan Pithecantropus erectus di Desa Kedungbrubus, suatu desa terpencil di daerah Pilangkenceng, Madiun, Jawa Timur.
Ekskavasi yang dilaksanakan oleh Eugene Dubois di Trinil sudah membawa inovasi sisa-sisa insan purba yang sungguh berguna bagi dunia pengetahuan. Penggalian Dubois dijalankan pada endapan alluvial Bengawan Solo. Dari lapisan ini didapatkan atap tengkorak Pithecanthropus erectus, dan beberapa buah tulang paha (utuh dan fragmen) yang memberikan pemiliknya telah berjalan tegak.
Selain tempat-tempat di atas, peninggalan manusia purba tipe ini juga didapatkan di Perning, Mojokerto, Jawa Timur; Ngandong, Blora, Jawa Tengah; dan Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah.
Berdasarkan beberapa observasi yang dijalankan oleh para mahir, dapatlah direkonstruksi berbagai jenis manusia purba yang pernah hidup di zaman pra-huruf.
1. Jenis Meganthropus
Jenis manusia purba ini terutama berdasarkan penelitian von Koeningswald di Sangiran tahun 1936 dan 1941 yang menemukan fosil rahang insan yang berskala besar. Dari hasil rekonstruksi ini lalu para ahli menamakan jenis manusia ini dengan sebutan Meganthropus paleojavanicus, artinya manusia raksasa dari Jawa. Jenis insan purba ini memiliki ciri rahang yang kuat dan badannya tegap. Diperkirakan kuliner jenis manusia ini ialah tumbuhtumbuhan. Masa hidupnya diperkirakan pada zaman Pleistosen Awal.
2. Jenis Pithecanthropus
Jenis insan ini didasarkan pada penelitian Eugene Dubois tahun 1890 di bersahabat Trinil, sebuah desa di pinggiran Bengawan Solo, di daerah Ngawi. Setelah direkonstruksi terbentuk kerangka insan, tetapi masih terlihat gejala kera. Oleh sebab  itu jenis ini dinamakan Pithecanthropus erectus, artinya manusia simpanse yang berlangsung tegak. Jenis ini juga ditemukan di Mojokerto, sehingga disebut Pithecanthropus mojokertensis. Jenis insan purba yang juga populer sebagai rumpun Homo erectus ini paling banyak ditemukan di Indonesia. Diperkirakan jenis insan purba ini hidup dan meningkat sekitar zaman Pleistosen Tengah.
3. Jenis Homo
Fosil jenis Homo ini pertama diteliti oleh von Reitschoten di Wajak. Penelitian dilanjutkan oleh Eugene Dubois bareng mitra-mitra dan menyimpulkan sebagai jenis Homo. Ciri-ciri jenis manusia Homo ini muka lebar, hidung dan mulutnya menonjol. Dahi juga masih menonjol, sekalipun tidak semenonjol jenis Pithecanthropus. Bentuk fisiknya tidak jauh berlainan dengan manusia kini. Hidup dan kemajuan jenis insan ini sekitar 40.000 – 25.000 tahun yang kemudian. Tempat-daerah penyebarannya tidak hanya di Kepulauan Indonesia tetapi juga di Filipina dan Cina Selatan.
Homo sapiens artinya ‘manusia sempurna’ baik dari sisi fisik, volume otak maupun postur badannya yang secara biasa tidak jauh berbeda dengan manusia terbaru. Kadang-kadang Homo sapiens juga diartikan dengan ‘insan bijak’ karena telah lebih maju dalam berpikir dan menyiasati tantangan alam. Bagaimanakah mereka muncul ke bumi pertama kali dan lalu menyebar dengan segera ke aneka macam penjuru dunia hingga dikala ini? Para jago paleoanthropologi dapat melukiskan perbedaan morfologis antara Homo sapiens dengan pendahulunya, Homo erectus. Rangka Homo sapiens kurang kekar posturnya dibandingkan Homo erectus. Salah satu karena alasannya tulang belulangnya tidak setebal dan sekompak Homo erectus.
Beberapa spesimen (penggolongan) manusia Homo sapiens mampu dikelompokkan sebagai berikut :
a. Manusia Wajak
Manusia Wajak (Homo wajakensis) ialah satu-satunya temuan di Indonesia yang untuk sementara dapat disejajarkan perkembangannya dengan insan modern awal dari tamat Kala Pleistosen. Pada tahun 1889, manusia Wajak ditemukan oleh B.D. van Rietschoten di sebuah ceruk di lereng pegunungan karst di barat laut Campurdarat, dekat Tulungagung, Jawa Timur. Sartono Kartodirjo (dkk) menguraikan perihal temuan itu, berbentuktengkorak, tergolong fragmen rahang bawah, dan beberapa buah ruas leher. Temuan Wajak itu ialah Homo sapiens.
b. Manusia Liang Bua
Sisa-sisa insan ditemukan di suatu gua Liang Bua oleh tim peneliti adonan Indonesia dan Australia. Sebuah gua permukiman prasejarah di Flores. Liang Bua jika diartikan secara harfiah merupakan sebuah gua yang acuh taacuh. Sebuah gua yang sungguh lebar dan tinggi dengan permukaan tanah yang datar, ialah daerah berdomisili yang tenteram bagi insan pada era pra-huruf.
Manusia Liang Bua ditemukan oleh Peter Brown dan Mike J. Morwood pada bulan September 2003 lalu. Temuan itu dianggap sebagai penemuan spesies gres yang lalu diberi nama Homo floresiensis, sesuai dengan tempat ditemukannya fosil Manusia Liang Bua.
Volume otak Manusia Liang Bua 380 cc. Kapasitas kranial tersebut berada jauh di bawah Homo erectus (1.000 cc), insan terbaru Homo sapiens (1.400 cc), dan bahkan berada di bawah volume otak simpanse (450 cc).
Teori Evolusi

     Charles Darwin

Penemuan fosil-fosil Pithecanthropus oleh Dubois dihubungkan dengan teori evolusi insan yang dituliskan oleh Charles Darwin. Harry Widiyanto menuliskan perdebatan itu mirip berikut. Pemenuan fosil Pithecanthropus oleh Dubois yang dipublikasikan pada tahun 1894 dalam banyak sekali majalah ilmiah melahirkan perdebatan. Dalam publikasinya itu Dubois menyatakan bahwa, berdasarkan teori evolusi Darwin, Pithecanthropus erectus ialah peralihan monyet ke manusia. 

Kera merupakan moyang manusia. Pernyatakan Dubois itu kemudian menjadi perdebatan, apakah benar atap tengkorak dengan volume kecil, gigi-gigi berskala besar, dan tulang paha yang berciri terbaru itu berasal dari satu individu? Sementara orang mengira bahwa tengkorak tersebut ialah tengkorak seekor gibon, gigi-gigi merupakan milik Pongo dan tulang pahanya milik manusia terbaru? Lima puluh tahun lalu terbukti bahwa gigi-gigi tersebut memang berasal dari gigi Pongo Sp., berdasarkan ciri-cirinya yang berskala besar, akar gigi yang berpengaruh dan terbuka, dentikulasi yang tidak individual, dan permukaan occulsal yang sangat berkerut-kerut.

 


    Hewan Gibon                               Hewan Pongo

Posted

in

by