Bahan 4B : Kerajaan – Kerajaan Islam Di Nusantara

Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia


E.      Islam Masuk Istana Raja
Salah satu sentra pemerintahan keraton yang bersifat Islam yang hingga sekarang masih berfungsi. Di Indonesia, keratin semacam ini pada perkembangannya mempunyai peranan dan posisi yang sangat penting. Selain berfungsi selaku simbol kemajuan pemerintahan Islam keraton juga menjadi lambang perjuangan kemerdekaan. Di sana para raja atau tokoh-tokohnya mengibarkan panji-panji perlawanan terhadap penjajahan. Islam yang masuk ke istana memang telah menyemai bibit-bibit kemerdekaan dan persamaan.
Pada bagian ini kau akan mempelajari secara garis besar awal pertumbuhan dan kemajuan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Uraian ini utamanya dipusatkan pada beberapa pusat kekuasaan Islam yang berada di berbagai tempat, seperti di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan bahkan di Indonesia bab timur, mirip Maluku dan Papua. Sedangkan kerajaan-kerajaan yang tidak diuraikan pada bagian ini, kamu mampu mencari berita melalui berbagai buku yang ada.
a.      Kerajaan Islam di Sumatra
Kerajaan Islam di Sumatera Sejak permulaan kedatangannya, pulau Sumatera tergolong kawasan pertama dan paling penting dalam pengembangan agama Islam di Indonesia. Dikatakan demikian mengenang letak Sumatra yang strategis dan berhadapan pribadi dengan jalur perdangan dunia, yakni Selat Malaka. Berdasarkan catatan Tomé Pires dalam Suma Oriental (1512-1515) dibilang bahwa di Sumatra, terutama di sepanjang pesisir Selat Malaka dan pesisir barat Sumatra terdapat banyak kerajaan Islam, baik yang besar maupun yang kecil. Diantara kerajaan-kerajaan tersebut antara lain Aceh, Biar dan Lambri, Pedir, Pirada, Pase, Aru, Arcat, Rupat, Siak, Kampar, Tongkal, Indragiri, Jambi, Palembang, Andalas, Pariaman, Minangkabau, Tiku, Panchur, dan Barus. Menurut Tomé Pires, kerajaan-kerajaan tersebut ada yang sedang mengalami pertumbuhan, ada pula yang sedang mengalami perkembangan, dan ada pula yang sedang mengalami keruntuhannya.
1. Samudera Pasai
Samudera Pasai diperkirakan berkembang meningkat antara tahun 1270 dan 1275, atau pertengahan periode ke-13. Kerajaan ini terletak lebih kurang 15 km di sebelah timur Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, dengan sultan pertamanya berjulukan Sultan Malik as-Shaleh (wafat tahun 696 H atau 1297 M). Dalam kitab Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai diceritakan bahwa Sultan Malik as-Shaleh sebelumnya cuma seorang kepala Gampong Samudera bernama Marah Silu. Setelah menganut agama Islam lalu berganti nama dengan Malik as-Shaleh. Berikut ini merupakan urutan para raja-raja yang memerintah di Kesultanan Samudera Pasai:
Sultan Malik as-Shaleh (696 H/1297 M);
Sultan Muhammad Malik Zahir (1297-1326);
Sultan Mahmud Malik Zahir (± 1346-1383);
Sultan Zainal Abidin Malik Zahir (1383-1405);
Sultanah Nahrisyah (1405-1412);
Abu Zain Malik Zahir (1412);
Mahmud Malik Zahir (1513-1524).
2. Kesultanan Aceh Darussalam
Pada 1520 Aceh berhasil memasukkan Kerajaan Daya ke dalam kekuasaan Aceh Darussalam. Tahun 1524, Pedir dan Samudera Pasai ditaklukkan. Kesultanan Aceh Darussalam di bawah Sultan Ali Mughayat Syah menyerang kapal Portugis di bawah komandan Simao de Souza Galvao di Bandar Aceh.
Pada 1529 Kesultanan Aceh menyelenggarakan antisipasi untuk menyerang orang Portugis di Malaka, namun tidak jadi karena Sultan Ali Mughayat Syah wafat pada 1530, yang lalu dimakamkan di Kandang XII Banda Aceh. Di antara penggantinya yang populer adalah Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar (1538- 1571). Usaha-bisnisnya ialah mengembangkan kekuatan angkatan perang, perdagangan, dan mengadakan korelasi internasional dengan kerajaan Islam di Timur Tengah, mirip Turki, Abessinia (Ethiopia), dan Mesir. Pada 1563 beliau mengantarkan utusannya ke Constantinopel untuk meminta derma dalam perjuangan melawan kekuasaan Portugis. Dua tahun kemudian datang bantuan dari Turki berbentukteknisi-teknisi, dan dengan kekuatan tentaranya Sultan Alauddin Riayat Syah at-Qahhar menyerang dan menaklukkan banyak kerajaan, mirip Batak, Aru, dan Barus. Untuk menjaga keutuhan Kesultanan Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar menempatkan suami saudara perempuannya di Barus dengan gelar Sultan Barus, dua orang putra sultan diangkat menjadi Sultan Aru dan Sultan Pariaman dengan gelar resminya Sultan Ghari dan Sultan Mughal, dan di daerahdaerah efek Kesultanan Aceh diposisikan wakil-wakil dari Aceh.
Kemajuan Kesultanan Aceh Darussalam pada kurun pemerintahan Sultan Iskandar Muda memanggil perhatian para mahir sejarah. Di bidang politik Sultan Iskandar Muda sudah menundukkan kawasan-tempat di sepanjang pesisir timur dan barat. Demikian pula Johor di Semenanjung Malaya sudah diserang, dan lalu rnengakui kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam. Kedudukan Portugis di Malaka terus-menerus mengalami bahaya dan serangan, meskipun keruntuhan Malaka selaku sentra jual beli di Asia Tenggara gres terjadi sekitar tahun 1641 oleh VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) Belanda. Perluasan kekuasaan politik VOC hingga Belanda pada dekade masa ke-20 tetap menjadi bahaya Kesultanan Aceh
b.       Kerajaan Islam di Jawa

1.        Kerajaan Demak
Para ahli memperkirakan Demak bangkit tahun 1500. Sementara Majapahit hancur beberapa waktu sebelumnya. Menurut sumber sejarah lokal di Jawa, keruntuhan Majapahit terjadi sekitar tahun 1478. Hal ini ditandai dengan candrasengkala, Sirna Hilang Kertaning Bhumi yang bermakna mempunyai angka tahun 1400 Saka. Raja pertama kerajaan Demak adalah Raden Fatah, yang bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fatah. Raden Fatah memerintah Demak dari tahun 1500- 1518 M. Menurut cerita rakyat Jawa Timur, Raden Fatah ialah keturunan raja terakhir dari Kerajaan Majapahit,  yaitu Raja Brawijaya V. Di bawah pemerintahan Raden Fatah, kerajaan Demak meningkat dengan pesat sebab memiliki kawasan pertanian yang luas sebagai penghasil materi kuliner, utamanya beras. Selain itu, Demak juga berkembang menjadi sebuah kerajaan bahari sebab letaknya di jalur jual beli antara Malaka dan Maluku. Oleh karena itu Kerajaan Demak disebut juga sebagai suatu kerajaan yang agraris-maritim.
Barang dagangan yang diekspor Kerajaan Demak antara lain beras, lilin dan madu. Barang-barang itu diekspor ke Malaka, Maluku dan Samudra Pasai. Pada abad pemerintahan Raden Fatah, wilayah kekuasaan Kerajaan Demak cukup luas, mencakup Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi dan beberapa kawasan di Kalimantan. Daerah-tempat pesisir di Jawa bagian Tengah dan Timur kemudian ikut mengakui kedaulatan Demak dan mengibarkan panji-panjinya. Kemajuan yang dialami Demak ini dipengaruhi oleh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Karena Malaka sudah dikuasai oleh Portugis, maka para pedagang yang tidak simpatik dengan kedatangan Portugis di Malaka beralih haluan menuju pelabuhan-pelabuhan Demak mirip Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan dan Gresik. Pelabuhanpelabuhan tersebut lalu berkembang menjadi pelabuhan transit.
Selain berkembang selaku sentra jual beli, Demak juga tumbuh menjadi sentra penyebaran agama Islam. Para wali yang ialah tokoh penting pada pertumbuhan Kerajaan Demak ini, memanfaatkan posisinya untuk lebih menyebarkan Islam kepada masyarakatJawa. Para wali juga berusaha berbagi Islam di luar Pulau Jawa. Penyebaran agama Islam di Maluku dikerjakan oleh Sunan Giri sedangkan di daerah Kalimantan Timur dilakukan oleh seorang penghulu dari Kerajaan Demak yang bernama Tunggang Parangan. Setelah Kerajaan Demak lemah maka muncul Kerajaan Pajang.
2. Kerajaan Mataram
Setelah Kerajaan Demak selsai, berkembanglah Kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Di bawah kekuasaannya, Pajang meningkat baik. Bahkan berhasil mengalahkan Arya Penangsang yang berusaha merebut kekuasaannya. Tokoh yang membantunya mengalahkan Arya Penangsang di antaranya Ki Ageng Pemanahan (Ki Gede Pemanahan). la diangkat sebagai bupati (adipati) di Mataram. Kemudian puteranya, Raden Bagus (Danang) Sutawijaya diangkat anak oleh Sultan Hadiwijaya dan dibesarkan di istana. Sutawijaya dipersaudarakan dengan putra mahkota, bernama Pangeran Benowo.
Pada tahun 1582, Sultan Hadiwijaya meninggal dunia. Penggantinya, Pangeran Benowo ialah raja yang lemah. Sementara Sutawijaya yang mengambil alih Ki Gede Pemanahan justru semakin menguatkan kekuasaannya sehingga alhasil Istana Pajang pun jatuh ke tangannya. Sutawijaya segera memindahkan pusaka Kerajaan Pajang ke Mataram. Sutawijaya sebagai raja pertama dengan gelar: Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Pusat kerajaan ada di Kota Gede, sebelah tenggara Kota Yogyakarta kini. Panembahan Senapati digantikan oleh puteranya yang berjulukan Mas Jolang (1601-1613). Mas Jolang lalu digantikan oleh puteranya bernama Mas Rangsang atau lebih dikenal dengan nama Sultan Agung (1613-1645). Pada kala pemerintahan Sultan Agung inilah Mataram mencapai zaman keemasan. Dalam bidang politik pemerintahan, Sultan Agung sukses memperluas kawasan Mataram ke aneka macam daerah yakni, Surabaya (1615), Lasem, Pasuruhan (1617), dan Tuban (1620). Di samping berusaha menguasai dan mempersatukan aneka macam kawasan di Jawa, Sultan Agung juga ingin menghalau VOC dari Kepulauan Indonesia. Kemudian diadakan dua kali serangan serdadu Mataram ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Mataram membuatkan birokrasi dan struktur pemerintahan yang terencana. Seluruh daerah kekuasaan Mataram dikelola dan dibagi menjadi beberapa bab selaku berikut.
Ø  Kutagara. Kutagara atau kutanegara, adalah tempat keraton dan sekitarnya.
Ø  Negara agung. Negara agung atau negari agung, adalah tempat-daerah yang ada di sekeliling kutagara. Misalnya, kawasan Kedu, Magelang, Pajang, dan Sukawati.
Ø  Mancanegara. Mancanegara yakni daerah di luar negara agung. Daerah ini meliputi luar negeri wetan (timur), contohnya tempat Ponorogo dan sekitarnya, serta mancanegara won (barat), contohnya tempat Banyumas dan sekitarnya.
Ø  Pesisiran. Pesisiran adalah kawasan yang ada di pesisir. Daerah ini juga terdapat tempat pesisir kulon (barat), yakni Demak terus ke barat, dan pesisir wetan (timur), ialah Jepara terus ke timur.
Mataram bermetamorfosis kerajaan agraris. Dalam bidang pertanian, Mataram berbagi tempat-kawasan persawahan yang luas. Seperti yang dilaporkan oleh Dr. de Han, Jan Vos dan Pieter Franssen bahwa Jawa bab tengah yakni kawasan pertanian yang subur dengan hasil khususnya yakni beras. Pada abad ke-17, Jawa betul-betul menjadi lumbung padi. Hasil-hasil lainnya yaitu kayu, gula, kelapa, kapas, dan hasil palawija.
Di Mataram dikenal beberapa kelompok dalam masyarakat. Ada kelompok raja dan keturunannya, para ningrat dan rakyat sebagai kawula kerajaan. Kehidupan masyarakat bersifat feodal alasannya raja yakni pemilik tanah beserta seluruh isinya. Sultan diketahui sebagai panatagama, ialah pengatur kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, Sultan mempunyai kedudukan yang sungguh tinggi. Rakyat sungguh hormat dan patuh, serta hidup mengabdi pada sultan.
Bidang kebudayaan juga maju pesat. Seni bangunan, ukir, lukis, dan patung mengalami kemajuan. Kreasikreasi para seniman, misalnya terlihat pada pengerjaan gapura-gapura, serta ukir-gesekan di istana dan tempat ibadah. Seni tari yang terkenal adalah Tari Bedoyo Ketawang. Dalam prakteknya, Sultan Agung memadukan bagian-unsur budaya Islam dengan budaya Hindu-Jawa. Sebagai teladan, di Mataram diselenggarakan peringatan sekaten untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw, dengan membunyikan gamelan Kyai Nagawilaga dan Kyai Guntur Madu. Kemudian juga diadakan upacara grebeg. Grebeg diadakan tiga kali dalam satu tahun, yaitu setiap tanggal 10 Dzulliijah (Idul Adha), 1 Syawal (Idul Fitri), dan tanggal 12 Rabiulawal (Maulid Nabi). Bentuk dan kegiatan upacara grebeg ialah mengarak gunungan dari keraton ke depan masjid agung. Gunungan umumnya dibentuk dari banyak sekali kuliner, kudapan manis, dan hasil bumi yang dibuat ibarat gunung. Upacara grebeg ialah sedekah selaku rasa syukur dari raja kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga sebagai pembuktian kesetiaan para bupati dan punggawa kerajaan kepada rajanya. Sultan Agung wafat pada 1645. Ia dimakamkan di Bukit Imogiri. Ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Amangkurat I. Akan tetapi, pribadi raja ini sungguh berbeda dengan langsung Sultan Agung. Amangkurat I yakni seorang raja yang lemah, berpandangan sempit, dan sering bertindak kejam. Mataram mengalami kemunduran terlebih adanya pengaruh VOC yang makin kuat. Dalam perkembangannya Kerajaan Mataram kesudahannya dibagi dua berdasarkan Perjanjian Giyanti (1755). Sebelah barat menjadi Kesultanan Yogyakarta dan sebelah timur menjadi Kasunanan Surakarta.
3. Kesultanan Banten
Kerajaan Banten berawal sekitar tahun 1526, dikala Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke tempat pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukan beberapa tempat pelabuhan kemudian membuatnya sebagai pangkalan militer serta tempat perdagangan. Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati berperan dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin atau lebih sohor dengan istilah Fatahillah, mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang lalu hari menjadi sentra pemerintahan, adalah Kesultanan Banten.
Pada awalnya daerah Banten dikenal dengan nama Banten Girang yang ialah bagian dari Kerajaan Sunda. Kedatangan pasukan Kerajaan di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin ke daerah tersebut selain untuk perluasan kawasan juga sekaligus penyebaran dakwah Islam. Kemudian dipicu oleh adanya koordinasi Sunda-Portugis dalam bidang ekonomi dan politik, hal ini dianggap mampu membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas kekalahan mereka mengusir Portugis dari Malaka tahun 1513. Atas perintah Sultan Trenggono, Fatahillah melaksanakan penyerangan dan penaklukkan Pelabuhan Sunda Kelapa sekitar tahun 1527, yang waktu itu masih ialah pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda. Selain mulai membangun benteng pertahanan di Banten, Fatahillah juga melanjutkan perluasan kekuasaan ke daerah penghasil lada di Lampung. Ia berperan dalam penyebaran Islam di kawasan tersebut, selain itu ia juga telah melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabu (Minangkabau, Kerajaan Inderapura), Sultan Munawar Syah dan dianugerahi keris oleh raja tersebut.
Seiring dengan kemunduran Demak utamanya sesudah meninggalnya Sultan Trenggono, maka Banten melepaskan diri dan menjadi kerajaan yang mampu berdiri diatas kaki sendiri. Pada 1570 Fatahillah wafat. Ia meninggalkan dua orang putra laki-laki, yaitu Pangeran Yusuf dan Pangeran Arya (Pangeran Jepara). Dinamakan Pangeran Jepara, alasannya semenjak kecil dia sudah diikutkan terhadap bibinya (Ratu Kalinyamat) di Jepara. Ia lalu berkuasa di Jepara mengambil alih Ratu Kalinyamat, sedangkan Pangeran Yusuf mengambil alih Fatahillah di Banten. Pangeran Yusuf melanjutkan perjuangan-usaha perluasan daerah yang telah dilakukan ayahandanya. Tahun 1579, kawasan-daerah yang masih setia pada Pajajaran ditaklukkan. Untuk kepentingan ini Pangeran Yusuf memerintahkan membangun kubu-kubu pertahanan. Tahun 1580, Pangeran Yusuf meninggal dan digantikan oleh puteranya, yang bernama Maulana Muhammad. Pada 1596, Maulana Muhammad melancarkan serangan ke Palembang. Pada waktu itu Palembang diperintah oleh Ki Gede ing Suro (1572 – 1627). Ki Gede ing Suro ialah seorang penyiar agama Islam dari Surabaya dan perintis pertumbuhan pemerintahan kerajaan Islam di Palembang. Kala itu Kerajaan Palembang lebih setia kepada Mataram dan sekaligus merupakan saingan Kerajaan Banten. Itulah sebabnya, Maulana Muhammad melancarkan serangan ke Palembang. Kerajaan Palembang mampu dikepung dan nyaris saja dapat ditaklukkan. Akan tetapi, Sultan Maulana Muhammad tiba-tiba terkena tembakan musuh dan meninggal. Oleh karena itu, dia dikenal dengan istilah Prabu Seda ing Palembang. Serangan tentara Banten terpaksa tidak boleh, bahkan risikonya ditarik mundur kembali ke Banten.
Gugurnya Maulana Muhammad menimbulkan banyak sekali perselisihan di istana. Putra Maulana Muhammad yang berjulukan Abumufakir Mahmud Abdul Kadir, masih kanak-kanak. Pemerintahan dipegang oleh sang Mangkubumi. Akan namun, Mangkubumi berhasil disingkirkan oleh Pangeran Manggala. Pangeran Manggala berhasil mengatur kekuasaan di Banten. Baru setelah Abumufakir akil balig cukup akal dan Pangeran Manggala meninggal tahun 1624, maka Banten secara penuh diperintah oleh Sultan Abumufakir Mahmud Abdul Kadir.
Pada tahun 1596 orang-orang Belanda tiba di pelabuhan Banten untuk yang pertama kali. Terjadilah perkenalan dan pembicaraan jualan yang pertama antara orang-orang Belanda dengan para penjualBanten. Tetapi dalam perkembangannya, orang-orang Belanda bersikap arogan dan angkuh, bahkan mulai mengakibatkan kesemrawutan di Banten. Oleh alasannya adalah itu, orang-orang Banten menolak dan menghalau orang-orang Belanda. Akhirnya, orang-orang Belanda kembali ke negerinya. Dua tahun lalu, orang-orang Belanda tiba lagi. Mereka memberikan sikap yang bagus, sehingga mampu berjualan di Banten dan di Jayakarta. Menginjak era ke-17 Banten mencapai zaman keemasan. Daerahnya cukup luas. Setelah Sultan Abumufakir meninggal, dia digantikan oleh puteranya bernama Abumaali Achmad. Setelah Abumaali Achmad, tampillah sultan yang terkenal, adalah Sultan Abdulfattah atau yang lebih diketahui dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Ia memerintah pada tahun 1651 – 1682.
Pada abad pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten terus mengalami kemajuan. Letak Banten yang strategis mempercepat pertumbuhan dan kemajuan ekonomi Banten. Kehidupan sosial budaya juga mengalami kemajuan. Masyarakat umum hidup dengan rambu-rambu budaya Islam. Secara politik pemerintahan Banten juga makin kuat. Perluasan kawasan kekuasaan terus dilakukan bahkan hingga ke daerah yang pernah dikuasai Kerajaan Pajajaran. Namun ada sebagian penduduk yang menghindardi pedalaman Banten Selatan karena tidak mau memeluk agama Islam. Mereka tetap menjaga agama dan adab istiadat nenek moyang. Mereka dikenal dengan masyarakat Badui. Mereka hidup mengisolir diri di tanah yang disebut tanah Kenekes. Mereka menyebut dirinya orang-orang Kejeroan. Dalam bidang kebudayaan, seni bangunan mengalami kemajuan. Beberapa jenis bangunan yang masih tersisa, antara lain, Masjid Agung Banten, bangunan keraton dan gapura-gapura.
Pada kala selesai pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa muncul konflik di dalam istana. Sultan Ageng Tirtayasa yang berupaya menentang VOC, kurang disetujui oleh Sultan Haji sebagai raja muda. Keretakan di dalam istana ini dimanfaatkan VOC dengan politik devide et impera. VOC menolong Sultan Haji untuk menyelesaikan kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Berakhirnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa membuat semakin kuatnya kekuasaan VOC di Banten. Raja-raja yang berkuasa berikutnya, bukanlah raja-raja yang besar lengan berkuasa. Hal ini menjinjing kemunduran Kerajaan Banten.
c.    Kerajaan-Kerajaan Islam di Kalimantan
Disamping Sumatra dan Jawa, ternyata di Kalimantan juga terdapat beberapa kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam. Apakah kamu sudah mengetahui nama kerajaan-kerajaan Islam yang berkembang di Kalimantan? Di antara kerajaan Islam itu adalahKesultanan Pasir (1516), Kesultanan Banjar (1526-1905), Kesultanan Kotawaringin, Kerajaan Pagatan (1750), Kesultanan Sambas (1671), Kesultanan Kutai Kartanegara, Kesultanan Berau (1400), Kesultanan Sambaliung (1810), Kesultanan Gunung Tabur (1820), Kesultanan Pontianak (1771), Kesultanan Tidung, dan Kesultanan Bulungan.
1.      Kerajaan Pontianak
Kerajaan-kerajaan yang terletak di daerah Kalimantan Barat antara lain Tanjungpura dan Lawe. Kedua kerajaan tersebut pernah diberitakan Tome Pires (1512-1551). Tanjungpura dan Lawe berdasarkan isu musafir Portugis sudah memiliki kegiatan dalam jual beli baik dengan Malaka dan Jawa, bahkan kedua kawasan yang diperintah oleh Pate atau mungkin adipati kesemuanya tunduk kepada kerajaan di Jawa yang diperintah Pati Unus. Tanjungpura dan Lawe (kawasan Sukadana) menciptakan komoditi seperti emas, berlian, padi, dan banyak materi kuliner. Banyak barang dagangan dari Malaka yang dimasukkan ke tempat itu, demikian pula jenis busana dari Bengal dan Keling yang berwarna merah dan hitam dengan harga yang mahal dan yang murah. Pada kurun ke-17 kedua kerajaan itu telah berada di bawah efek kekuasaan Kerajaan Mataram terutama dalam upaya perluasan politik dalam menghadapi perluasan politik VOC.
Demikian pula Kotawaringin yang sekarang telah tergolong daerah Kalimantan Barat pada masa Kerajaan Banjar juga telah masuk dalam imbas Mataram, sekurang-kurangnya sejak era ke-16. Meskipun kita tidak mengetahui dengan niscaya kedatangan Islam di Pontianak, konon ada pemberitaan bahwa sekitar abad ke-18 atau 1720 ada rombongan pendakwah dari Tarim (Hadramaut) yang di antaranya dating ke daerah Kalimantan Barat untuk mengajarkan membaca al- Qur’an, ilmu fikih, dan ilmu hadis. Mereka di antaranya Syarif Idrus bersama anak buahnya pergi ke Mampawah, tetapi lalu menelusuri sungai ke arah bahari memasuki Kapuas Kecil sampailah ke suatu daerah yang menjadi cikal bakal kota Pontianak. Syarif Idrus kemudian diangkat menjadi pimpinan utama masyarakat di tempat itu dengan gelar Syarif Idrus ibn Abdurrahman al-Aydrus yang kemudian memindahkan kota dengan pembuatan benteng atau kubu dari kayu-kayuan untuk pertahanan. Sejak itu Syarif Idrus ibn Abdurrahman al-Aydrus dikenal sebagai Raja Kubu. Daerah itu mengalami pertumbuhan di bidang jual beli dan keagamaan, sehingga banyak para penjualyang berdatangan dari aneka macam negeri.
Pemerintahan Syarif Idrus (lengkapnya: Syarif Idrus al-Aydrus ibn Abdurrahman ibn Ali ibn Hassan ibn Alwi ibn Abdullah ibn Ahmad ibn Husin ibn Abdullah al-Aydrus) memerintah pada 1199-1209 H atau 1779-1789 M. Cerita lainnya menyampaikan bahwa pendakwah dari Tarim (Hadramaut) yang mengajarkan Islam dan datang ke Kalimantan bab barat utamanya ke Sukadana yaitu Habib Husin al-Gadri. Ia semula singgah di Aceh dan lalu ke Jawa hingga di Semarang dan di daerah itulah dia berjumpa dengan penjualArab namanya Syaikh, alasannya itulah maka Habib al-Gadri berlayar ke Sukadana. Dengan keampuhan Habib Husin al-Gadri menjadikan ia menerima banyak simpati dari raja, Sultan Matan dan rakyatnya. Kemudian Habib Husin al- Gadri pindah dari Matan ke Mempawah untuk meneruskan syiar Islam. Setelah wafat dia diganti oleh salah seorang putranya yang berjulukan Pangeran Sayid Abdurrahman Nurul Alam. Ia pergi dengan sejumlah rakyatnya ke tempat yang lalu dinamakan Pontianak dan di tempat inilah dia mendirikan keraton dan masjid agung. Pemerintahan Syarif Abdurrahman Nur Alam ibn Habib Husin al-Gadri pada 1773- 1808, digantikan oleh Syarif Kasim ibn Abdurrahman al-Gadri pada 1808-1828 dan berikutnya Kesultanan Pontianak di bawah pemerintahan sultan-sultan keluarga Habib Husin al-Gadri
d.       Kerajaan-Kerajaan Islam di Sulawesi
Kerajaan-Kerajaan Islam di Sulawesi – Di kawasan Sulawesi juga berkembang kerajaan-kerajaan bercorak Islam. Munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Sulawesi tidak terlepas dari jual beli yang berjalan saat itu. Berikut ini ialah beberapa kerajaan Islam di Sulawesi di antaranya Gowa Tallo, Bone, Wajo dan Sopeng, dan Kesultanan Buton. Dari sekian banyak kerajaan-kerajaan itu yang terkenal antara lain Kerajaan Gowa Tallo.
1.      Kerajaan Gowa Tallo
Kerajaan Gowa Tallo sebelum menjadi kerajaan Islam sering berperang dengan kerajaan yang lain di Sulawesi Selatan, seperti dengan Luwu, Bone, Soppeng, dan Wajo. Kerajaan Luwu yang bersekutu dengan Wajo ditaklukan oleh Kerajaan Gowa Tallo. Kemudian Kerajaan Wajo menjadi kawasan taklukan Gowa menurut Hikayat Wajo. Dalam serangan terhadap Kerajaan Gowa Tallo Karaeng Gowa meninggal dan seorang lagi terbunuh sekitar pada 1565. Ketiga kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng menyelenggarakan persatuan untuk mempertahankan kemerdekaannya yang disebut kontrakTellumpocco, sekitar 1582. Sejak Kerajaan Gowa resmi sebagai kerajaan bercorak Islam pada 1605, maka Gowa meluaskan pengaruh politiknya, biar kerajaan-kerajaan lainnya juga memeluk Islam dan tunduk kepada Kerajaan Gowa Tallo. Kerajaan-kerajaan yang tunduk kepada kerajaan Gowa Tallo antara lain Wajo pada 10 Mei 1610, dan Bone pada 23 Nopember 1611. Di kawasan Sulawesi Selatan proses Islamisasi makin mantap dengan adanya para mubalig yang disebut Datto Tallu (Tiga Dato), yakni Dato’ Ri Bandang (Abdul Makmur atau Khatib Tunggal) Dato’ Ri Pattimang (Dato’ Sulaemana atau Khatib Sulung), dan Dato’ Ri Tiro (Abdul Jawad alias Khatib Bungsu), ketiganya bersaudara dan berasal dari Kolo Tengah, Minangkabau. Para mubalig itulah yang mengislamkan Raja Luwu ialah Datu’ La Patiware’ Daeng Parabung dengan gelar Sultan Muhammad pada 15-16 Ramadhan 1013 H (4-5 Februari 1605 M). Kemudian disusul oleh Raja Gowa dan Tallo ialah Karaeng Matowaya dari Tallo yang bernama I Mallingkang Daeng Manyonri (Karaeng Tallo) mengucapkan syahadat pada Jumat sore, 9 Jumadil Awal 1014 H atau 22 September 1605 M dengan gelar Sultan Abdullah. Selanjutnya Karaeng Gowa I Manga’rangi Daeng Manrabbia mengucapkan syahadat pada Jumat, 19 Rajab 1016 H atau 9 November 1607 M. Perkembangan agama Islam di daerah Sulawesi Selatan menerima kawasan sebaikbaiknya bahkan fatwa sufisme Khalwatiyah dari Syaikh Yusuf al-Makassari juga tersebar di Kerajaan Gowa dan kerajaan lainnya pada pertengahan kala ke-17. Karena banyaknya tantangan dari kaum darah biru Gowa maka beliau meninggalkan Sulawesi Selatan dan pergi ke Banten. Di Banten dia terima oleh Sultan Ageng Tirtayasa bahkan dijadikan menantu dan diangkat sebagai mufti di Kesultanan Banten.
patung sultan hasanudin
Dalam sejarah Kerajaan Gowa perlu dicatat wacana sejarah perjuangan Sultan Hasanuddin dalam mempertahankan kedaulatannya terhadap upaya penjajahan politik dan ekonomi kompeni (VOC) Belanda. Semula VOC tidak menaruh perhatian terhadap Kerajaan Gowa Tallo yang sudah mengalami perkembangan dalam bidang jual beli. Setelah kapal Portugis yang dirampas oleh VOC pada masa Gubernur Jendral J. P. Coen di dekat perairan Malaka ternyata di kapal tersebut ada orang Makassar. Dari orang Makassar itulah ia menerima informasi wacana pentingnya pelabuhan Sombaopu selaku pelabuhan transit terutama untuk menghadirkan rempah-rempah dari Maluku. Pada 1634 VOC memblokir Kerajaan Gowa tetapi tidak sukses. Peristiwa pertempuran dari waktu ke waktu berlangsung terus dan gres berhenti antara 1637-1638. Tetapi perjanjian damai itu tidak awet alasannya pada 1638 terjadi perampokan kapal orang Bugis yang bermuatan kayu cendana, dan muatannya tersebut sudah dijual terhadap orang Portugis. Perang di Sulawesi Selatan ini berhenti sesudah terjadi kontrakBongaya pada 1667 yang sangat merugikan pihak Gowa Tallo.
e.        Kerajaan-Kerajaan Islam di Maluku
Kepulauan Maluku menduduki posisi penting dalam perdagangan dunia di kawasan timur Nusantara. Mengingat eksistensi daerah Maluku ini maka tak mengherankan jikalau sejak kurun ke-15 sampai abad ke-19 kawasan ini menjadi wilayah perebutan antara bangsa Spanyol, Portugis dan Belanda. Sejak permulaan diketahui bahwa di tempat ini terdapat dua kerajaan besar bercorak Islam, yaitu Ternate dan Tidore. Kedua kerajaan ini terletak di sebelah barat pulau Halmahera di Maluku Utara. Kedua kerajaan itu pusatnya masing-masing di Pulau Ternate dan Tidore, namun wilayah kekuasaannya mencakup sejumlah pulau di Kepulauan Maluku dan Papua.
kerajaan Ternate

Kerajaan Ternate dikenal selaku pemimpin Uli Lima, adalah komplotan lima bersaudara dengan wilayahnya mencakup Ternate, Obi, Bacan, Seram dan Ambon. Sementara Kerajaan Tidore diketahui sebagai pemimpin Uli Siwa, adalah Persekutuan Sembilan (persekutuan Sembilan Saudara) dengan daerahnya mencakup pulau pulau Makyan, Jailolo, atau Halmahera, dan pulau-pulau di daerah tersebut sampai dengan kawasan Papua.
Kerajaan Tidore

Dalam bidang kebudayaan, di Maluku berkembang seni pahat, seni bangunan, dan seni patung. Seni bangunan berupa istana raja, bangunan masjid, dan lain-lain, tetap dikembangkan. Agama Islam dan bahasa Melayu juga kian berkembang di Maluku.
f.         Kerajaan-Kerajaan Islam di Papua
Sumber-sumber sejarah memperlihatkan bahwa penyebaran Islam di Papua telah berjalan semenjak lama. Bahkan, berdasarkan bukti sejarah terdapat sejumlah kerajaan-kerajaan Islam di Papua, ialah: (1) Kerajaan Waigeo (2) Kerajaan Misool (3) Kerajaan Salawati (4) Kerajaan Sailolof (5) Kerajaan Fatagar (6) Kerajaan Rumbati (terdiri dari Kerajaan Atiati, Sekar, Patipi, Arguni, dan Wertuar) (7) Kerajaan Kowiai (Namatota) (8). Kerajaan Aiduma (9) Kerajaan Kaimana.
Berdasarkan sumber tradisi mulut dari keturunan raja-raja di Raja Ampat-Sorong, Fakfak, Kaimana dan Teluk Bintuni-Manokwari, Islam sudah lebih permulaan datang ke daerah ini. Ada beberapa pertimbangan mengenai kehadiran Islam di Papua.
Pertama, Islam dating di Papua tahun 1360 yang disebarkan oleh mubaligh asal Aceh, Abdul Ghafar. Pendapat ini juga berasal dari sumber verbal yang disampaikan oleh putra bungsu Raja Rumbati ke-16 (Muhamad Sidik Bauw) dan Raja Rumbati ke-17 (H. Ismail Samali Bauw). Abdul Ghafar berdakwah selama 14 tahun (1360-1374) di Rumbati dan sekitarnya. Ia lalu wafat dan dimakamkan di belakang masjid kampung Rumbati tahun 1374.
Kedua, pertimbangan yang menerangkan bahwa agama Islam pertama kali mulai diperkenalkan di tanah Papua di jazirah Onin (Patimunin-Fakfak) oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al-Qathan dengan gelar Syekh Jubah Biru dari negeri Arab. Pengislaman ini diperkirakan terjadi pada abad pertengahan kala ke-16, dengan bukti adanya Masjid Tunasgain yang berumur sekitar 400 tahun atau di bangkit sekitar tahun 1587.
Ketiga, usulan yang mengatakan bahwa Islamisasi di Papua, khususnya di Fakfak dikembangkan oleh pedagang-pedagang Bugis lewat Banda dan Seram Timur oleh seorang pedagang dari Arab bernama Haweten Attamimi yang telah usang menetap di Ambon. Proses pengislamannya dikerjakan dengan cara khitanan. Di bawah bahaya masyarakatlokal jika orang yang disunat mati, kedua mubaligh akan dibunuh, tetapi balasannya mereka berhasil dalam khitanan tersebut kemudian penduduk setempat berduyun-duyun masuk agama Islam.
Keempat, usulan yang menyampaikan Islam di Papua berasal dari Bacan. Pada kala pemerintahan Sultan Mohammad al-Bakir, Kesultanan Bacan mencanangkan syiar Islam ke seluruh penjuru negeri, mirip Sulawesi, Fiilipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa dan Papua. Menurut Thomas Arnold, Raja Bacan yang pertama kali masuk Islam yaitu Zainal Abidin yang memerintah tahun 1521.
Pada kurun ini Bacan telah menguasai suku-suku di Papua serta pulaupulau di sebelah barat lautnya, mirip Waigeo, Misool, Waigama, dan Salawati. Sultan Bacan kemudian meluaskan kekuasaannya hingga ke semenanjung Onin Fakfak, di barat maritim Papua tahun 1606. Melalui pengaruhnya dan para pedagang muslim, para pemuka penduduk di pulau-pulau kecil itu kemudian memeluk agama Islam. Meskipun pesisir menganut agama Islam, sebagian besar penduduk asli di pedalaman masih tetap menganut animisme.
Kelima, pendapat yang mengatakan bahwa Islam di Papua berasal dari Maluku Utara (Ternate-Tidore). Sumber sejarah Kesultanan Tidore menyebutkan bahwa pada tahun 1443 Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X atau Sultan Papua I ) memimpin ekspedisi ke daratan tanah besar (Papua). Setelah tiba di wilayah Pulau Misool dan Raja Ampat, lalu Sultan Ibnu Mansur mengangkat Kaicil Patrawarputera Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi (Kapita Gurabesi ). Kapita Gurabesi lalu dikawinkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur bernama Boki Tayyibah. Kemudian bangkit empat kerajaan di Kepulauan Raja Ampat tersebut, ialah Kerajaan Salawati, Kerajaan Misool atau Kerajaan Sailolof, Kerajaan Batanta, dan Kerajaan Waigeo.
Berdasarkan penjelasan di atas mampu disimpulkan bahwa proses Islamisasi tanah Papua, utamanya di tempat pesisir barat pada pertengahan kala ke-15, dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan Islam di Maluku (Bacan, Ternate dan Tidore). Hal ini disokong alasannya adalah faktor letaknya yang strategis, yang merupakan jalur jual beli rempah-rempah (silk road) di dunia
g.        Kerajaan-kerajaan Islam di Nusa Tenggara
Kehadiran Islam ke tempat Nusa Tenggara antara lain ke Lombok diperkirakan terjadi semenjak kala ke-16 yang diperkenalkan Sunan Perapen, putra Sunan Giri. Islam masuk ke Sumbawa kemungkinan datang melalui Sulawesi, lewat dakwah para mubalig dari Makassar antara 1540-1550. Kemudian meningkat pula kerajaan Islam salah satunya yaitu Kerajaan Selaparang di Lombok.
1. Kerajaan Lombok dan Sumbawa
Selaparang ialah sentra kerajaan Islam di Lombok di bawah pemerintahan Prabu Rangkesari. Pada era itulah Selaparang mengalami zaman keemasan dan memegang hegemoni di seluruh Lombok. Dari Lombok, Islam disebarkan ke Pejanggik, Parwa, Sokong, Bayan, dan kawasan-tempat lainnya. Konon Sunan Perapen meneruskan dakwahnya dari Lombok menuju Sumbawa. Hubungan dengan beberapa negeri dikembangkan terutama dengan Demak.
Kerajaan-kerajaan di Sumbawa Barat dapat dimasukkan kepada kekuasaan Kerajaan Gowa pada 1618. Bima ditaklukkan pada 1633 dan kemudian Selaparang pada 1640. Pada kala ke-17 seluruh Kerajaan Islam Lombok berada di bawah imbas kekuasaan Kerajaan Gowa. Hubungan antara Kerajaan Gowa dan Lombok dipererat dengan cara perkawinan seperti Pemban Selaparang, Pemban Pejanggik, dan Pemban Parwa. Kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara mengalami tekanan dari VOC sehabis terjadinya perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Oleh alasannya itu pusat Kerajaan Lombok dipindahkan ke Sumbawa pada 1673 dengan tujuan untuk dapat menjaga kedaulatan kerajaan-kerajaan Islam di pulau tersebut dengan tunjangan pengaruh kekuasaan Gowa. Sumbawa dipandang lebih strategis dibandingkan dengan sentra pemerintahan di Selaparang mengingat bahaya dan serangan dari VOC terus-menerus terjadi.
2. Kerajaan Bima
Bima merupakan sentra pemerintahan atau kerajaan Islam yang mencolokdi Nusa Tenggara dengan nama rajanya yang pertama masuk Islam yaitu Ruma Ta Ma Bata Wada yang bergelar Sultan Bima I atau Sultan Abdul Kahir. Sejak itu pula terjalin kekerabatan erat antara Kerajaan Bima dengan Kerajaan Gowa, lebih-lebih sejak perjuangan Sultan Hasanuddin kandas balasan kontrakBongaya. Setelah Kerajaan Bima terus menerus melakukan perlawanan kepada masuknya politik dan monopoli perdagangan VOC hasilnya juga tunduk di bawah kekuasaannya. Ketika VOC mau memperbaharui perjanjiannya dengan Bima pada 1668 ditolak oleh Raja Bima, Tureli Nggampo; ketika Tambora merampas kapal VOC pada 1675 maka Raja Tambora, Kalongkong dan para pembesarnya diharuskan menyerahkan keris-keris pusakanya kepada Holsteijn. Pada 1691, saat permaisuri Kerajaan Dompu terbunuh, Raja Kerajaan Bima ditangkap dan diasingkan ke Makassar hingga meninggal dunia di dalam penjara. Di antara kerajaan-kerajaan di Lombok, Sumbawa, Bima, dan kerajaan-kerajaan yang lain sepanjang abad ke-18 masih memperlihatkan pemberontakan dan peperangan, sebab pihak VOC selalu memaksakan kehendaknya dan mencampuri pemerintahan kerajaan-kerajaan, bahkan menangkapi dan mengasingkan raja-raja yang melawan.
Sebenarnya jikalau kita membicarakan sejarah Kerajaan Bima kurun ke-19 dapat diperkaya oleh gambaran rinci dalam Syair Kerajaan Bima yang menurut telaah filologi Cambert Loir diperkirakan sungguh mungkin syair tersebut dikarang sebelum 1833 M, sebelum Raja Bicara Abdul Nabi meletakkan jabatannya dan diganti oleh putranya. Pendek kata syair itu dikarang oleh Khatib Lukman barangkali pada 1830 M. Syair itu ditulis dalam aksara Jawi dengan bahasa Melayu. Dalam syair itu diceritakan empat insiden yang terjadi di Bima pada pertengahan masa ke-19, adalah, letusan Gunung Tambora, wafat dan pemakaman Sultan Abdul Hamid pada Mei 1819, serangan bajak bahari, penobatan Sultan Ismail pada 26 November 1819, Sultan Abdul Hamid dan Wazir Abdul Nabi, pelayaran Sultan Abdul Hamid ke Makassar pada 1792, kontrak Bima pada 26 Mei 1792, peresmian Raja Bicara Abdul Nabi, serta kehadiran Sultan Ismail, Reinwardt, dan H. Zollinger yang mengunjungi Sumbawa dan menemui Sultan.
berikutnya ke materi 4c…

Posted

in

by