Bahan 4E. Wali Songo

WALI SONGO

Walisongo atau Walisanga dikenal selaku penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga daerah penting pantai utara Pulau Jawa, yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.
Era Walisongo adalah kurun berakhirnya dominasi Budha – Hindu dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya kepada kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding lainnya.
Selain walisongo, bantu-membantu banyak tokoh-tokoh yang ikut berperan aktif dalam penyebaran islam di nusantara, tetapi peranan walisongo sangat begitu besar dibanding tokoh-tokoh yang lain, sehingga membuat para walisongo memiliki nilai plus dan lebih banyak disebut namanya dalam sejarah penyebaran islam di Jawa.
Dalam cerita-kisah walisongo, disebutkan bahwa para sembilan wali tidak hidup pada dikala yang persis bersamaan. Namun satu sama lain memiliki keterkaitan akrab, jika tidak dalam ikatan darah juga dalam kekerabatan guru- murid. Masing-masing tokoh tersebut memiliki tugas yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri selaku ” tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis selaku “paus dari Timur” sampai Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan memakai nuansa yang mampu dipahami masyarakat Jawa – adalah nuansa Hindu dan Budha.
Nama-nama Walisongo
1. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim

Syekh Maulana Malik Ibrahim – Dalam sejarah perwalian wali songo, Maulana Malik Ibrahim ialah wali yang tertua dari Sembilan wali atau wali songo / wali sanga / wali 9.
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh permulaan abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa kepada As-Samarkandy, menjelma Asmarakandi.
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut selaku Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, kini Kamboja, selama tiga belas tahun semenjak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka yaitu Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup mengerjakan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya dibarengi beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yaitu desa Sembalo, kawasan yang masih berada dalam kawasan kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo kini, yaitu kawasan Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu ialah berjualan dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan utama dengan harga ekonomis. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menawarkan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, dia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih saudara istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari kawasan di hati penduduk sekitar yang saat itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata gubukan tempat berguru agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.

2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat

 Sunan Ampel ialah Anak Maulana malik Ibrahim.yang tertua. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di kala kecilnya ia diketahui dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama kawasan dimana dia usang berdomisili. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, kawasan yang kini menjadi bab dari Surabaya (kota Wonokromo kini).
Beberapa model menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian dia melabuh ke tempat Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu dia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, kawasan yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun membuatkan pondok pesantren. Mula-mula beliau merangkul penduduk sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan yang sangat besar lengan berkuasa di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya ialah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut lalu disebarnya untuk berdakwah ke aneka macam pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia cuma memperlihatkan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman keyakinan dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan perumpamaan “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni permintaan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri,tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
3. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin

Ia mempunyai nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (sekarang Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan abad kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya, seorang putri raja Blambangan berjulukan Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku lalu dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi model Meinsma).
Ayahnya ialah Maulana Ishak. kerabat sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, namun gagal mengislamkan sang mertua. Oleh alasannya adalah itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menimba ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga berguru. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, beliau membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit ialah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.

Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai daerah pendidikan dalam arti sempit, namun juga selaku sentra pengembangan penduduk .

Raja Majapahit-konon alasannya adalah cemas Sunan Giri mencetuskan pemberontakan – memberi fleksibilitas padanya untuk mengendalikan pemerintahan. Maka pesantren itupun menjelma salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut selaku Prabu Satmata.

Giri Kedaton berkembang menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak selaku penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari dampak Sunan Giri. Ia diakui juga selaku mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, diketahui sebagai tokoh paling gigih menentang kongkalikong VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal selaku penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, mirip Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Dalam keagamaan, beliau diketahui alasannya adalah pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya selaku Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang hebat. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa tetapi syarat dengan fatwa Islam.
4. Sunan Bonang  atau Raden Makhdum Ibrahim



Sunan Bonang di perkirakan lahir tahun 1465 M dari seorang wanita bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di TubanSunan Bonang yaitu Anak Sunan Ampel yang mempunyai arti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Pada masa kecilnya, Sunan Bonang memiliki nama Raden Makdum Ibrahim.

Sunan Bonang berguru agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup sampaumur, beliau berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula beliau berdakwah di Kediri, yang secara umum dikuasai masyarakatnya beragama Hindu. Di sana dia mendirikan Masjid Sangkal Daha.

Ia kemudian menetap di Bonang – desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu dia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia lalu dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke kawasan-daerah yang sungguh susah.

Ia acap berkunjung ke daerah-tempat terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M beliau meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, sehabis sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan aliran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di kawasan-kawasan gersang.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta’(‘isyq). Sangat seperti dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan dogma, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara terkenal lewat media kesenian yang diminati penduduk . Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid khususnya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berbentuksuluk, atau tembang tamsil. Salah satunya yakni “Suluk Wijil” yang terlihat dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak memakai tamsil cermin, bangau atau burung bahari. Sebuah pendekatan yang juga dipakai oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa gres. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa mirip sekarang, dengan menyertakan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang yakni dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang selaku peperangan antara nafi (pembatalan) dan ‘isbah (peneguhan)
5. Sunan Drajad atau Raden Qasim



Sunan Drajat Nama kecilnya adalah Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui maritim. Ia lalu terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun selanjutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini berjulukan Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan dogma, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: pribadi dan tidak banyak mendekati budaya setempat. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dikerjakan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya ialah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri busana pada yang telanjang”. Sunan Drajat juga diketahui sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, dia banyak memelihara bawah umur yatim-piatu dan fakir miskin.
Sunan menghabiskan sisa hidupnya di Ndalem Duwur, sampai wafat pada 1522. Di tempat itu kini dibangun sebuah museum kawasan menyimpan barang-barang peninggalan Sunan Drajat –tergolong dayung bahtera yang dahulu pernah menyelamatkannya. Sedangkan lahan bekas daerah tinggal Sunan sekarang dibiarkan kosong, dan dikeramatkan.

Sunan Drajat populer akan kearifan dan kedermawanannya. Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. ”Bapang den simpangi, ana catur mungkur,” demikian petuahnya. Maksudnya: jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, terlebih melaksanakan tindakan itu.

Sunan memperkenalkan Islam melalui rancangan dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima cara.

Pertama, lewat pengajian secara eksklusif di masjid atau tubruk.
Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren.
Ketiga  memberi aliran atau petuah dalam menuntaskan sebuah persoalan.
keempat, lewat kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gending.
Terakhir, dia juga memberikan anutan agama melalui ritual akhlak tradisional, sepanjang tidak berlawanan dengan fatwa Islam.

Empat pokok fatwa Sunan Drajat yaitu: Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan.
 Artinya: berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian terhadap yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.
6. Sunan Kalijogo atau Raden Said


Sunan Kalijaga, ialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya yaitu Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan sudah menganut Islam.
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan mirip Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat bermacam-macam versi menyangkut asal-seruan nama Kalijaga yang disandangnya.

Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan akrab bersahabat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut perumpamaan itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya selaku ” penghulu suci” kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan meraih lebih dari 100 tahun. Dengan demikian beliau mengalami abad selesai kekuasaan Majapahit (rampung 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (serpihan kayu) yang ialah salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya contoh yang serupa dengan mentor sekaligus sobat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai fasilitas untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya setempat. Ia beropini bahwa masyarakat akan menjauh bila diserang pendiriannya. Maka mereka mesti didekati secara sedikit demi sedikit: mengikuti sambil menghipnotis. Sunan Kalijaga berkeyakinan kalau Islam sudah dimengerti, dengan sendirinya kebiasaan usang hilang.
Maka anutan Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni bunyi suluk selaku sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Makara Raja. Lanskap sentra kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini selaku karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sungguh efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam lewat Sunan Kalijaga. Di antaranya yakni Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (kini Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.
Para Walisongo ialah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam bermacam-macam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, sampai ke pemerintahan.

7. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq



Pada usia belum dewasa (kurun kecil) Sunan kudus berjulukan Jaffar Shadiq. Ia adalah putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung ialah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, beliau pun diangkat menjadi Panglima Perang.
Sunan Kudus banyak mencar ilmu pada Sunan Kali Jogo Kemudian beliau berkelana ke banyak sekali tempat tandus di Jawa Tengah mirip Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun menjiplak pendekatan Sunan Kalijaga: sungguh toleran pada budaya lokal. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali yang kesusahan mencari pendakwah ke Kudus yang secara umum dikuasai masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati penduduk Kudus ialah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, beliau memancing masyarakat untuk pergi ke masjid menyimak tabligh-nya. Untuk itu, dia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi sehabis mereka mendengar klarifikasi Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang mempunyai arti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah kisah-dongeng ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga penduduk terpesona untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi dongeng 1001 malam dari kala kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Bukan cuma berdakwah mirip itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, beliau juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur dikala Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
 8. Sunan Muria atau Raden Umar Said


Sunan Muria, Ia putra Dewi Saroh – adik kandung Sunan Giri. sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijogo. Nama kecilnya yaitu Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.

Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berlawanan dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di kawasan sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk membuatkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut ialah kesukaannya.

Sunan Muria acap kali dijadikan pula selaku penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai problem betapapun rumitnya duduk perkara itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya melalui seni ialah lagu Sinom dan Kinanti.

9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah


dikisahkan sunan gunung jati, bahwa beliau pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, dan berjumpa Rosulluloh Muhamad SAW, bertemu Nabi Khidir serta mendapatkan wasiat Nabi Sulaeman yang seluruhnya itu tidak masuk nalar. Namun dari dongeng-cerita sunan gunung jati tersebut hanyalah selaku isyarat kekaguman masyarakat dikala itu pada sunan Gunung Jati.
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya ialah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya yaitu Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke banyak sekali negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu golongan ulama lain, dia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal selaku Kasultanan Pakungwati.

Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk berbagi Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, beliau menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berbentukjalan-jalan yang menghubungkan antar daerah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melaksanakan ekspedisi ke Banten. Penguasa lokal, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan kawasan Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dahulu Carbon). Ia dimakamkan di tempat Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.


Posted

in

by