Materi 4C : Akulturasi Dan Perkembangan Budaya Islam

Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam


Berkembangnya kebudayaan Islam di Kepulauan Indonesia sudah memperbesar khasanah budaya nasional Indonesia, serta ikut menunjukkan dan memilih corak kebudayaan bangsa Indonesia. Akan namun alasannya adalah kebudayaan yang berkembang di Indonesia sudah begitu kuat di lingkungan penduduk maka berkembangnya kebudayaan Islam tidak mengambil alih atau memusnahkan kebudayaan yang sudah ada. Dengan demikian terjadi akulturasi antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan yang telah ada. Akulturasi ialah suatu proses sosial yang muncul apabila sebuah kalangan insan kebudayaan tertentu diharapkan dengan unsur-komponen dari kebudayaan aneh dengan sedemikian rupa, sehingga komponen-unsur kebudayaan ajaib itu lambat laun diterima dan tanpa mengakibatkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Islam ialah salah satu agama yang masuk dan meningkat di Indonesia. Sebelum Islam masuk dan meningkat , Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi kebudayaan alasannya percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi yang melahirkan kebudayaan gres adalah kebudayaan Islam Indonesia. Hasil proses akulturasi antara kebudayaan praIslam dengan ketika Islam masuk tidak hanya berbentuk fisik kebendaan seperti seni bangunan, seni ukir atau pahat, dan karya sastra namun juga menyangkut acuan hidup dan kebudayaan non fisik yang lain. Beberapa contoh bentuk akulturasi akan ditunjukkan pada paparan berikut.
1. Seni Bangunan
Seni dan arsitektur bangunan Islam di Indonesia sangat unik, menarik dan akulturatif. Seni bangunan yang menonjol di zaman pertumbuhan Islam ini terutama masjid, menara serta makam.
a.        Masjid dan Menara
Dalam seni bangunan di zaman perkembangan Islam, nampak ada perpaduan antara bagian Islam dengan kebudayaan praIslam yang telah ada sebelumnya. Beberapa contoh seni bangunan Islam yang menonjol yaitu masjid yang berfungsi selaku kawasan beribadah bagi orang Islam.
Bangunan masjid-masjid kuno di Indonesia mempunyai ciri-ciri selaku berikut:
·    Atapnya berbentuk tumpang ialah atap yang bersusun kian ke atas semakin kecil dari tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Dan umumnya ditambah dengan kemuncak untuk memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut dengan Mustaka.
·    Tidak dilengkapi dengan menara, mirip umumnyabangunan masjid yang ada di luar Indonesia atau yang ada kini, namun dilengkapi dengan kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan ialah budaya orisinil Indonesia.
·         Letak masjid biasanya erat dengan istana adalah sebelah barat alun-alun atau bahkan didirikan di daerah-daerah keramat adalah di atas bukit atau akrab dengan makam.

b.        Makam
Makam-makam yang lokasinya di dataran dekat masjid agung, bekas kota pusat kesultanan antara lain makam sultan-sultan Demak di samping Masjid Agung Demak, makam raja-raja Mataram-Islam Kota Gede (D.I. Yogyakarta), makam sultan-sultan Palembang, makam sultan-sultan di kawasan Nanggroe Aceh, adalah kompleks makam di Samudera Pasai, makam Sultan Ternate di Ternate, makam sultan-sultan Goa di Tamalate, dan kompleks makam raja-raja di Jeneponto dan kompleks makam di Watan Lamuru (Sulawesi Selatan), makam-makam di berbagai daerah yang lain di Sulawesi Selatan, serta kompleks makam Selaparang di Nusa Tenggara dan masih banyak yang yang lain.
Di beberapa daerah terdapat makam-makam yang penempatannya berada di tempat dataran tinggi. Seperti makam Sunan Bonang di Tuban, makam Sunan Derajat (Lamongan), makam Sunan Kalijaga di Kadilangu (Demak), makam Sunan Kudus di Kudus, makam Maulana Malik Ibrahim dan makam Leran di Gresik (Jawa Timur), makam Datuk Ri Bkalianng di Takalar (Sulawesi Selatan), makam Syaikh Burhanuddin (Pariaman), makam Syaikh Kuala atau Nuruddin ar-Raniri (Aceh) dan masih banyak para dai yang lain di tanah air yang dimakamkan di dataran.
Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam tampakdari:
ü  Makam-makam antik dibangun di atas bukit atau kawasan-tempat yang tinggi.
ü  Makamnya terbuat dari bangunan watu yang disebut dengan Jirat atau Kijing, nisannya juga terbuat dari watu.
ü  Di atas jirat umumnya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup atau kubba.
ü  Dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau golongan-golongan makam.
ü  Di erat makam umumnya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan umumnya makam tersebut yaitu makam para wali atau raja. Contohnya masjid makam Sendang Duwur di Tuban.
Makam-makam yang terletak di kawasan-kawasan tinggi menawarkan kesinambungan tradisi yang ialah pengejawantahan pendirian punden-punden berundak pada masa Megalitik. Tradisi tersebut dilanjutkan pada abad Hindu-Buddha dalam bentuk bangunan-bangunan yang disebut candi. Antara lain Candi Dieng yang berketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, Candi Gedongsanga, Candi Borobudur, Percandian Prambanan, dan lain-lain.
Setelah kebudayaan Indonesia Hindu-Buddha mengalami keruntuhan bagian seni bangunan keagamaan masih diteruskan. Beberapa pola akulturasi bangunan keagamaan antara lain sebagai berikut.
Makam-makam yang lokasinya di atas bukit, makam yang paling atas ialah yang dianggap paling dihormati contohnya Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah di Gunung Sembung, di bagian teratas kompleks pemakaman Imogiri yaitu makam Sultan Agung Hanyokrokusumo. Kompleks makam yang mengambil kawasan datar contohnya di Kota Gede, orang yang paling dihormati ditempatkan di bagian tengah.
Makam walisongo dan sultan-sultan kebanyakan diposisikan dalam bangunan yang disebut cungkup yang masih bergaya kuno dan juga dalam bangunan yang telah diperbaharui. Cungkup-cungkup yang tergolong kuno antara lain cungkup makam Sunan Giri, Sunan Derajat, dan Sunan Gunung Jati.
Di samping bangunan makam, terdapat tradisi pemakaman yang bahwasanya bukan berasal dari pedoman Islam. Misalnya, mayit dimasukkan ke dalam peti. Pada zaman antik ada peti watu, kubur kerikil dan yang lain. Sering pula di atas kubur ditaruh kembang-kembang. Pada hari ke-3, ke-7, ke40, ke-100, satu tahun, dua tahun, dan 1000 hari diadakan syukuran. Saji-sajian dan syukuran ialah unsur pengaruh kebudayaan pra-Islam, tetapi doa-doanya secara Islam.
2. Seni Ukir
Pada abad kemajuan Islam di zaman madya, berkembang anutan bahwa seni ukir, patung, dan melukis makhluk hidup, apalagi manusia secara nyata, tidak diperbolehkan sehingga kemajuan seni patung kurang meningkat . Sesudah zaman madya, seni patung meningkat seperti yang mampu kita saksikan kini ini.
Namun, seni pahat atau seni ukir terus meningkat dalam bentuk seni hias dan seni ukir dengan motif daun-daunan dan bunga-bungaan mirip yang telah dikembangkan sebelumnya. Kemudian juga ditambah seni hias dengan huruf Arab (kaligrafi). Bahkan timbul kreasi baru, ialah jikalau terpaksa ingin melukiskan makluk hidup, akan disamar dengan banyak sekali hiasan, sehingga tidak lagi terperinci-terang berwujud hewan atau insan.
Banyak sekali bangunan-bangunan Islam yang dihiasi dengan berbagai motif ukir-tabrakan. Misalnya, ukir-gesekan pada pintu atau tiang pada bangunan keraton ataupun masjid, pada gapura atau pintu gerbang. Dikembangkan juga seni hias atau seni ukir dengan bentuk tulisan Arab yang diaduk dengan ragam hias lainnya. Bahkan ada seni kaligrafi yang membentuk orang, binatang, atau wayang.
3. Aksara dan Seni Sastra
Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka kuat kepada bidang karakter atau tulisan, ialah masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan meningkat goresan pena Arab Melayu atau lazimnya dikenal dengan perumpamaan Arab gundul adalah goresan pena Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu namun tidak memakai tanda-tanda a, i, u mirip lazimnya goresan pena Arab.
Seni sastra yang meningkat pada awal era Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu-Budha dan sastra Islam. Wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut tampakdari goresan pena/ abjad yang dipergunakan adalah memakai huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang meningkat pada jaman Hindu. Bentuk seni sastra yang berkembang antara lain selaku berikut :
Hikayat yakni dongeng atau dongeng yang berpangkal dari kejadian atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal ialah Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).
Babad yakni kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap selaku kejadian sejarah misalnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
Syair berasal dari perkataan Arab untuk menamakan karya sastra berbentuksajak-sajak yang terdiri atas empat baris setiap baitnya. Contoh syair sungguh tua yaitu syair yang tertulis pada batu nisan makam putri Pasai di Minye Tujoh.
suluk
Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf misalnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
4. Kesenian
Di Indonesia, Islam menghasilkan kesenian bernafas Islam yang bermaksud untuk menyebarkan fatwa Islam. Kesenian tersebut, contohnya selaku berikut.
Permainan debus, tarian ini diawali dengan pembacaan ayat-ayat dalam Al Quran dan salawat nabi. Tarian ini terdapat di Banten dan Minangkabau.
Seudati berasal dan kata syaidati yang artinya permainan orang-orang besar. Seudati sering disebut saman artinya delapan. Para pemain menyanyikan lagu yang isinya antara lain salawat nabi.
Wayang, termasuk wayang kulit. Pertunjukan wayang telah berkembang semenjak zaman Hindu, akan namun, pada zaman Islam terus dikembangkan. Kemudian berdasarkan cerita Amir Hamzah dikembangkan pertunjukan wayang golek.

5. Sistem Pemerintahan
Sebelum Islam masuk Indonesia, sudah meningkat pemerintahan yang bercorak Hindu Budha, tetapi sehabis Islam masuk, maka kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu/Budha mengalami keruntuhannya dan digantikan peranannya oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam mirip Samudra Pasai, Demak, Malaka dan sebagainya. Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan mirip halnya para wali dan bila rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan dicandi/dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.
6. Sistem Kalender
Menjelang tahun ketiga pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, ia berupaya merapikan kalender Islam. Perhitungan tahun yang digunakan atas dasar peredaran bulan (komariyah). Umar memutuskan tahun 1 H bertepatan dengan tanggal 14 September 622 M, sehingga kini kita mengenal tahun Hijriyah.
Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal Kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam kalender Saka ini didapatkan nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon, wage dan kliwon.

Setelah berkembangnya Islam Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah (Islam). Pada kalender Jawa, Sultan Agung melakukan pergantian pada nama-nama bulan mirip Muharram diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa. Sedangkan nama-nama hari tetap memakai hari-hari sesuai dengan bahasa Arab. Dan bahkan hari pasaran pada kalender saka juga dipergunakan. Kalender Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau tepatnya 1 Muharram 1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.

teruskan ke materi 4d


Posted

in

by