Materi 4D : Proses Integrasi Nusantara

Proses Integrasi Nusantara

Integrasi sebuah bangsa yakni hal yang sungguh penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan adanya integrasi akan melahirkan satu kekuatan bangsa yang ampuh dan segala dilema yang muncul dapat dihadapi bersama-sama. Negara Kesatuan Republik Indonesia ialah wujud kasatmata dari proses integrasi bangsa. Proses integrasi bangsa Indonesia ini ternyata telah berjalan cukup usang bahkan sudah dimulai sejak permulaan tarikh masehi. Pada periode ke-16 proses integrasi bangsa Indonesia mulai menonjol. Masa itu ialah masa-masa kemajuan dan pertumbuhan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
1. Peranan Para Ulama dalam Proses Integrasi
Agama Islam yang masuk dan berkembang di Nusantara mengajarkan kebersamaan dan berbagi toleransi dalam kehidupan beragama. Islam mengajarkan persamaan dan tidak memedulikan kasta-kasta dalam kehidupan masyarakat. Konsep anutan Islam menimbulkan perilaku ke arah persatuan dan persamaan derajat. Disisi lain, datangnya pedagang-penjualIslam di Indonesia mendorong berkembangnya kawasan-daerah perdagangan di kawasan pantai. Tempat-kawasan perdagangan itu kemudian bermetamorfosis pelabuhan dan kota-kota pantai. Bahkan kota-kota pantai yang ialah bandar dan sentra jual beli, berkembang menjadi kerajaan. Timbulnya kerajaan-kerajaan Islam menandai permulaan terjadinya proses integrasi. Meskipun masing-masing kerajaan memiliki cara dan aspek pendukung yang berbeda-beda dalam proses integrasinya.
2. Peran Perdagangan Antar Pulau
Proses integrasi juga tampaklewat acara pelayaran dan perdagangan antarpulau. Sejak zaman antik, acara pelayaran dan jual beli telah berjalan di Kepulauan Indonesia. Pelayaran dan jual beli itu berjalan dari daerah yang satu ke tempat lainnya, bahkan antara negara yang satu dengan negara lainnya. Kegiatan pelayaran dan perdagangan kebanyakan berlangsung dalam waktu yang usang. Hal ini, menyebabkan pergaulan dan korelasi kebudayaan antara para penjualdengan penduduk setempat. Kegiatan seperti ini mendorong terjadinya proses integrasi.
Pada awalnya masyarakatdi sebuah pulau cukup menyanggupi keperluan hidupnya dengan apa yang ada di pulau tersebut. Dalam perkembangannya, mereka ingin mendapatkan barang-barang yang terdapat di pulau lain. Untuk menyanggupi kebutuhan tersebut, terjadilah hubungan dagang antar pulau. Angkutan yang paling murah dan mudah yaitu angkutan maritim (kapal/perahu), maka berkembanglah pelayaran dan jual beli. Terjadinya pelayaran dan jual beli antarpulau di Indonesia yang diikuti efek di bidang budaya turut berperan serta mempercepat pertumbuhan proses integrasi. Misalnya, para pedagang dari Jawa berjualan ke Palembang, atau para pedagang dari Sumatra berdagang ke Jepara.
Hal ini menjadikan terjadinya proses integrasi antara Sumatra dan Jawa. Para penjualdi Banjarmasin berdagang ke Makassar, atau sebaliknya. Hal ini mengakibatkan terjadi proses integrasi antara masyarakat Banjarmasin (Kalimantan) dengan masyarakat Makassar (Sulawesi). Para penjualMakassar dan Bugis mempunyai peranan penting dalam proses integrasi. Mereka berlayar hampir ke seluruh Kepulauan Indonesia bahkan jauh sampai keluar Kepulauan Indonesia. Pulau-pulau penting di Indonesia, kebanyakan memiliki sentra-sentra perdagangan. Sebagai teladan di Sumatra terdapat Aceh, Pasai, Barus, dan Palembang. Jawa memiliki beberapa sentra perdagangan misalnya Banten Sunda Kelapa, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya, dan Blambangan. Kemudian di dekat Sumatra ada bandar Malaka. Malaka meningkat selaku bandar terbesar di Asia Tenggara. Tahun 1511 Malaka jatuh ke tangan Portugis.
Akibatnya perdagangan Nusantara berpindah ke Aceh. Dalam waktu singkat Aceh berkembang sebagai bandar dan sebuah kerajaan yang besar. Para pedagang dari pulau-pulau lain di Indonesia juga datang dan berdagang di Aceh. Sementara itu, semenjak permulaan era ke-16 di Jawa berkembang Kerajaan Demak dan beberapa bandar selaku pusat perdagangan. Di Indonesia bab tengah maupun timur juga meningkat kerajaan dan pusat-pusat perdagangan. Dengan demikian, terjadi korelasi jualan antardaerah dan antarpulau. Kegiatan jual beli antarpulau mendorong terjadinya proses integrasi yang terhubung melalui para pedagang. Proses integrasi itu juga diperkuat dengan berkembangnya hubungan kebudayaan. Bahkan juga ada yang diikuti dengan perkawinan.
3. Peran Bahasa
Perlu juga kau pahami bahwa bahasa juga memiliki tugas yang strategis dalam proses integrasi. Kamu tahu bahwa Kepulauan Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau yang dihuni oleh aneka ragam suku bangsa. Tiap-tiap suku bangsa memiliki bahasa masing-masing. Untuk mempermudah komunikasi antarsuku bangsa, dibutuhkan satu bahasa yang menjadi bahasa mediator dan dapat dimengerti oleh semua suku bangsa. Jika tidak mempunyai kesamaan bahasa, persatuan tidak terjadi alasannya adalah di antara suku bangsa timbul kecurigaan dan prasangka lain. Bahasa ialah fasilitas pergaulan. Bahasa Melayu dipakai hampir di semua pelabuhan-pelabuhan di Kepulauan Nusantara. Bahasa Melayu sejak zaman kuno sudah menjadi bahasa resmi negara Melayu (Jambi).
Pada periode kejayaan Kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu dijadikan bahasa resmi dan bahasa ilmu wawasan. Hal ini dapat dilihat dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 M, Prasasti Talang Tuo tahun 684 M, Prasasti Kota Kapur tahun 685 M, dan Prasasti Karang Berahi tahun 686 M. Para penjualdi daerah-tempat sebelah timur Nusantara, juga menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengirim . Dengan demikian, berkembanglah bahasa Melayu ke seluruh Kepulauan Nusantara. Pada awalnya bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa dagang. Akan tetapi lambat laun bahasa Melayu tumbuh menjadi bahasa mediator dan menjadi lingua francadi seluruh Kepulauan Nusantara. Di Semenanjung Malaka (Malaysia seberang), pantai timur Pulau Sumatra, pantai barat Pulau Sumatra, Kepulauan Riau, dan pantai-pantai Kalimantan, penduduk menggunakan bahasa Melayu selaku bahasa pergaulan.

Masuk dan berkembangnya agama Islam, mendorong kemajuan bahasa Melayu. Buku-buku agama dan tafsir al Qur’an juga memanfaatkan bahasa Melayu. Ketika menguasai Malaka, Portugis mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan bahasa Portugis, tetapi kurang sukses. Pada tahun 1641 VOC merebut Malaka dan lalu mendirikan sekolah-sekolah dengan memakai bahasa Melayu. Kaprikornus, secara tidak sengaja, kedatangan VOC berbagi bahasa Melayu.

Posted

in

by