Ayo Ngaji Fiqih….

Fiqih Perempuan.
๐Ÿ”ฐ Kenapa bila wanita wudlu’ mesti pipis dahulu…….??
Belajar ilmu fiqih bareng-bareng yuk.
Ada yg tahu maksudnya pipis dulu sebelum wudhu’ ?
Saya sering lihat mbak-mbak santri kalau mau shalat, wudlu ribet banget, katanya WAJIB pipis dan WAJIB lepas celana dalam.
Emang ada dalil yg mengharuskan itu semua…..?
JAWAB : Tidak ada dalilnya, tapi ketika
hendak shalat kan memang harus suci tubuh, pakaian, mukena dan daerah shalat nya.
Kita Bahas dari segi Tubuhnya.
Setiap wanita memiliki ruthubatil farji
(keringat vagina), yg selalu berair/lembab diarea kewanitaannya.
Dalam hal ruthubah (Cairan) ini dibagi menjadi tiga:
1. Ada rutubah (Cairan) yg kluar dari dalam, sifatnya terperinci Najis dan harus dibasuh.
2. Ada yg keluar dari area tengah-tengah, sifatnya ada Qaul Ulama’ yg bilang Najis dan
ada yg bilang tdk Najis.
3. Ada yg keluar dari luar (bibir vagina), sepakat Ulama’ sifatnya tidak Najis.
Dalam hal ini, cuma dokter kewanitaan yang bisa mendeteksi cairan itu keluar dari dalam, tengah atau luar.
Kalau tidak bisa membedakannya, maka cairan yg keluar dari vagina perempuan ada kalanya cairan itu putih bening atau kuning encer, yang lazimnya keluar saat muncul syahwat cairan ini dinamakan Madzi, sementara cairan yg berwarna putih, keruh kental yg biasa keluar setelah kencing atau ketika mengangkat beban berat cairan ini dinamakan Wadzi.
Kedua cairan tersebut Najis jadi harus disucikan ketika hendak shalat maka dari itu dianjurkan melepas CD dan membersihkan vagina kemudian gres berwudlu.
Untuk bersuci, diutamakan air pancuran (air mengalir) atau air yg mancur bisa dari selang atau shower, kalau tidak ada, boleh dengan memakai gayung.
Ketika mau mensucikan dengan kondisi setengah bangkit, MA’AF, paha jangan nyingkup (melekat antara paha kanan dan kiri), untuk mempermudah membersihkannya, lebih baik dibuka supaya lipatan mampu terjangkau oleh air.
Jika telah dibersihkan baru di cuci dari pusar ke bab bawah.
Semua wanita memang mengeluarkan cairan (keputihan) namun ini mampu di hindari / di kurangi dengan menjaga kebersihan farji, caranya setelah pipis keringkan pakai handuk kecil /tisu khusus buat itu, tentukan harus kering alasannya cairan itu keluar alasannya farji yg lembab.
Jika terpaksa pipis dengan jongkok di toilet, maka posisinya di balik badannya (membelakangi kloset jongkok), jangan posisi mirip BAB dan air pipisnya jangan di jatuhkan pas di air (air yang tergenang dalam kloset jongkok) tapi agak ke pinggir/tepi biar tidak membalik airnya ke badan/CD (supaya tidak kecipratan air) dan di dikala membersihkan (menyiram kloset) juga posisinya sama tetapi pelan-pelan saja ketika menyiramkan airnya.
Dari keterangan dia atas, demi berhati-hati, diharuskan membasuh area kewanitaan sebelum berwudlu (pipis terlebih dulu).
Paham ?
Sekarang Pakaian.
Pakaian mesti suci,, jika baju in sya Allah yakin Suci, namun bila celana dalam (CD) ?
Hati-hati ya, CD harus dilepas semua ketika pipis, jangan cuma dilepas hingga lutut, terus pipis sambil jongkok, suda dipastikan CDnya ikut terkena Najis alasannya adalah mampu terkena percikan pipis atau siraman airnya.
Ketika bersuci untuk wanita sehabis pipis, jangan sambil duduk (nongkrong) dikarenakan dikala menyiramkan air, pasti percikan air akan kembali ke bagian tubuh, MA’AF terlebih kalau CD tidak dilepas. Lebih parah lagi, bila di kloset, klosetnya tergenang air. Sudah pasti percikan tersebut kembali kebagian tubuh.
Jika membasuhnya sambil berdiri sempurna, air untuk bersuci tidak merata, MA’AF sebab area wanita tersebut banyak lipatan.
Lebih baik bersuci setengah bangun, akan mudah dibasuh lipatan, juga Akan meminimalkan percikan air yg kembali ketubuh, walaupun ada percikan itu dibagian kaki, tetapi gampang disucikan dengan menyiram air ke bab kaki.
Mukena.
Kenapa ada sebagian pondok pesantren yanh
mewajibkan mukena saluran ?
Kenapa tak boleh memakai mukena bagian ?
Sebab mukena belahan sulit untuk sah shalatnya.
Kok mampu ?
Penjelasan Fiqh nya panjang.
Yg terperinci, pelajaran seperti ini cuma ada di pondok pesantren, tidak ada di sekolah-sekolah lazim.
Makanya Mondok !!!
1. Wajah.
Wajah memang bukanlah aurat perempuan dikala shalat, tetapi perlu extra hati-hati dikala menggunakan mukena, lazimnya Perempuan yang menggunakan mukena pecahan maupun tidak, meletakkan kawasan dagunya pas dibatas leher, bukan di dagu. Padahal dari batas leher sampai dagu itu bukan termasuk wajah, jadi mesti tertutup sebab itu bab dari aurat.
2. Tangan.
Bagian tangan yg tidak tergolong Aurat dikala shalat hanyalah telapak tangan, jadi dikala yg shalat nya memakai mukena pecahan haruslah sangat hati-hati.
Ketika Takbir, biasanya mengangkat tangan beserta mukenanya (aku Kira prakteknya sudah tahu) maka dikala itu pula, bila tidak memakai baju lengan panjang, mampu jadi seluruh tangan akan kelihatan, itu bisa menciptakan shalat anda tidak sah, maka diperbaiki (tutup aurat) dan wajib shalat nya diulang. Lebih aman nya memakai mukena kanal.
Ketika ruku’, bila mukena potongannya tidak panjang, bisa jadi dikala ruku’ jika dilihat dari kawasan sujud, aurat nya akan kelihatan, maka shalat nya tidak sah.
Kaki.
Ini sering sekali saya lihat, banyak orang yang menggunakan mukena potongan terlebih yang bab bawahnya pendek.
Untuk jidat / kening, usahakan dari Alis sampai slayer atau daleman, lebarnya kurang lebih 3 jari.
Belajar beribadah jangan sembarangan saja.
Mari ajak belum dewasa kita.. masukin ke pondok pesantren yang benar (Pesantren Ahlulsunnah wal Jama’ah Asy’ariyah Maturidiyah) karena berguru pelajaran ilmu umum dan mencar ilmu wacana ibadah disitulah kawasan nya.
Semoga berguna๐Ÿ™
Ma’af jika ada yang salah ya. ๐Ÿ™๐Ÿ™โœ‹๐Ÿค


Posted

in

by