Materi 6 Sejarah 6A Politik Etis Dan Dampaknya

POLITIK ETIS DAN DAMPAKNYA



Pada permulaan kala ke-20 di Indonesia terjadi pergantian yang sungguh besar, ialah hadirnya Politik Etis. Politik Etis juga tidak mampu dilepaskan dari adanya Tanam Paksa (Cultur Stelsel) yang diberlakukan oleh Van Den Bosch dilanjutakan dengan adanya Politik Pintu Terbuka. Politik Etis juga timbul akhir adanya kemenangan kaum liberal atas kaum konservatif di dewan legislatif Belanda. Politik Etis yaitu suatu anutan yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab watak bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini ialah kritik terhadap politik tanam paksa. Munculnya kaum Etis yang dipelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran  De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus) ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para pribumi yang terbelakang.

Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta memastikan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda memiliki panggilan sopan santun dan hutang kecerdikan (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan budpekerti tersebut ke dalam kebijakan politik etis yaitu program Trias Van



Isi Politik Etis

Pencetus politik Etis adalah Van Deventer. Isi dari politik Etis terkenal dengan perumpamaan Trilogi Van deventer atau Trias Van deventer. Pada tahun 1889 Van Deventer memperjuangkan nasib bangsa Indonesia dengan menulis karangan dalam majalah De Gids yang berjudul Eeu Eereschuld (Hutang Budi). Van Deventer menerangkan bahwa Belanda sudah berhutang kecerdikan terhadap rakyat Indonesia. Hutang kebijaksanaan itu harus dikembalikan dengan memperbaiki nasib rakyat, mencerdaskan dan memakmurkan.

Isi politik etis adalah :
1.     Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk kebutuhan pertanian. Sarana vital bagi pertanian adalah pengairan dan oleh pihak pemerintah telah dibangun semenjak 1885. Bangunan-bangunan irigasi Berantas dan Demak seluas 96.000 amis, pada 1902 menjadi 173.000 amis. Dengan irigasi tanah pertanian akan menjadi subur dan produksinya bertambah.
2.     Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi. Dengan transmigrasi tanah-tanah di luar Jawa yang belum dimasak menjadi lahan perkebunan, akan mampu diolah untuk menambah penghasilan. Selain itu juga untuk meminimalisir kepadatan penduduk Jawa. Pada 1865 jumlah masyarakatJawa dan Madura 14 juta. Pada 1900 sudah menjelma dua kali lipat. Pada permulaan periode ke-19 terjadi migrasi penduduk dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sehubungan dengan adanya perluasan perkebunan tebu dan tembakau, migrasi masyarakatdari Jawa ke Sumatra Utara sebab adanya undangan besar akan tenaga kerja perkebunan di Sumatra Utara, khususnya ke Deli, sedangkan ke Lampung memiliki tujuan untuk menetap. Selain kebeberapa daerah yang ada di Indonesia, penduduk Indonesia juga diantarkeluar negeri salah satu maksudnya adalah di Suriname
3.     Edukasi ialah memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan. Sarana vital bagi pertanian adalah pengairan dan oleh pihak pemerintah sudah dibangun sejak 1885. Bangunan-bangunan irigasi Berantas dan Demak seluas 96.000 amis, pada 1902 menjadi 173.000 wangi. Dengan irigasi tanah pertanian akan menjadi subur dan produksinya bertambah.

Pengaruh politik etis dalam bidang pengajaran dan pendidikan sungguh berperan dalam pengembangan dan perluasan dunia pendidikan dan pengajaran di Hindia Belanda. Salah seorang dari kalangan etis yang sungguh berjasa dalam bidang ini ialah Mr. J.H. Abendanon (1852-1925), seorang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan selama lima tahun (1900-1905). Sejak tahun 1900 inilah bangun sekolah-sekolah, baik untuk kaum priyayi maupun rakyat umumyang nyaris merata di kawasan-kawasan. Politik Etis memunculkan golongan cendikiawan/cendekia yang nantinya menjadi pelopor Pergerakan Nasional Indonesia.

Pendukung Politik Etis

Pendukung Politik Etis tawaran Van Deventer yaitu sebagai berikut :
1.         P. Brooshoof, redaktur surat kabar De Lokomotif, yang pada tahun 1901 menulis buku berjudul De Ethische Koers In de Koloniale Politiek (Tujuan Ethis dalam Politik Kolonial).
2.         F. Holle, banyak membantu kaum tani.
3.         Van Vollen Hoven, banyak memperdalam hukum akhlak pada beberapa suku bangsa di Indonesia.
4.         Abendanon, banyak menimbang-nimbang soal pendidikan penduduk pribumi.
5.         Leivegoed, seorang jurnalis yang banyak menulis wacana rakyat Indonesia.
6.         Van Kol, banyak menulis perihal kondisi pemerintahan Hindia Belanda.
7.         Douwes Dekker (Multatuli), dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar berisi kritikan kepada pelaksanaan tanam paksa di Lebak, Banten.

Penyimpangan Politik Etis

Pada dasarnya kebijakan-kebijakan yang diajukan oleh van Deventer tersebut baik. Akan namun dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dijalankan oleh para pegawai Belanda. Berikut ini penyimpangan penyimpangan yang terjadi pada penerapan politik Etis adalah
1.     Irigasi. Irigasi atau pengairan cuma ditujukan kepada tanah-tanah yang subur untuk perkebunan swasta Belanda. Sedangkan milik rakyat tidak dialiri air dari irigasi.
2.     Edukasi. Pemerintah Belanda membangun sekolah-sekolah. Pendidikan ditujukan untuk mendapatkan tenaga manajemen yang piawai dan murah. Pendidikan yang dibuka untuk seluruh rakyat, cuma diperuntukkan terhadap anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang bisa. Terjadi diskriminasi pendidikan yakni pengajaran di sekolah kelas I untuk anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang berharta, dan di sekolah kelas II kepada bawah umur pribumi dan kebanyakan.
3.     Migrasi. Migrasi ke tempat luar Jawa hanya ditujukan ke kawasan-tempat yang dikembangkan perkebunan-perkebunan milik Belanda. Hal ini alasannya adalah adanya undangan yang besar akan tenaga kerja di tempat-tempat perkebunan seperti perkebunan di Sumatera Utara, utamanya di Deli, Suriname, dan lain-lain. Mereka dijadikan kuli kesepakatan. Migrasi ke Lampung mempunyai tujuan menetap. Karena migrasi ditujukan untuk menyanggupi keperluan akan tenaga kerja, maka tidak jarang banyak yang melarikan diri. Untuk menghalangi biar pekerja tidak melarikan diri, pemerintah Belanda mengeluarkan Poenale Sanctie, yaitu peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri akan dicari dan ditangkap polisi, kemudian dikembalikan terhadap mandor/pengawasnya.

Dari ketiga penyimpangan ini, terjadi alasannya lebih banyak untuk kepentingan pemerintahan Belanda.

Dampak yang di timbulkan oleh Politik Etis pastinya ada yang negatif dan positif namun yang perlu kita pahami ialah bahwa nyaris semua acara dan tujuan permulaan dari Politik Etis banyak yang tak terealisasi dan mendapat hambatan. Namun satu acara yang berpengaruh konkret dengan sifat jangka panjang bagi bangsa Indonesia ialah bidang pendidikan yang hendak mendatangkan kalangan berilmu dan terdidik yang dikemudian hari akan membuat pemerintahan Belanda menjadi terancam dengan hadirnya Budi Utomo, Sarikat Islam dan berdirinya Volksraad. Adapun dampak-imbas yang terlihat kasatmata adalah dalam tiga bidang :

1.     Politik : Desentralisasi kekuasaan atau otonomi bagi bangsa Indonesia, tetapi tetap saja terdapat persoalan yakni kalangan penguasa tetap besar lengan berkuasa dalam arti intervensi, sebab perusahaan-perusahaan Belanda kalah saing dengan Jepang dan Amerika menimbulkan sentralisasi berupaya diterapkan kembali. (Kartodirjo, Sartono 1990 : 56)
2.     Sosial : Lahirya golongan arif, peningkatan jumlah melek abjad, perkembangan bidang pendidikan yakni pengaruh positifnya tetapi dampak negatifnya yaitu kesenjangan antara kelompok bangsawan dan bawah semakin terlihat jelas karena bangsawan kelas atas mampu berseolah dengan baik dan langsung di pekerjakan di perusahaan-perusahaan Belanda.
3.     Ekonomi : lahirnya sistem Kapitalisme terbaru, politk liberal dan pasar bebas yang mengakibatkan kompetisi dan modal menjadi indikator utama dalam perdagangan. Sehingga yang lemah akan kalah dan tersingkirkan. Selain itu juga muculnya dan berkembangnya perusahaan-perusahaan swasta dan asing di Indonesia seperti Shell.
4.     Infrastruktur : Pembangunan infrastruktur seperti pembangunan rel kereta api yang memperlancar perpindahan barang dan insan. Pembangunan infratruktur pertanian dalam hal ini bendungan yang nantinya berfaedah bagi pengairan.
5.     Pendidikan : Berdirinya sekolah-sekolah antara lain, Hollandsch Indlandsche School(HIS) setingkat Sekolah Dasar untuk kelas atas dan yang untuk kelas bawah dibentuk sekolah kelas dua, Meer Uitgebreid Lagare Onderwijs (MULO) setingkat SMP, Algemeene Middlebare School (AMS) setingkat SMU, Kweek School (Sekolah Guru) untuk kaum bumi putra dan Technical Hoges School (Sekolah Tinggi Teknik), School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA) sekolah kedokteran. Adanya berbagai sekolah mengakibatkan hadirnya kaum cerdik atau cendikiawan yang nantinya menjadi pelopor Pergerakan Nasional seperti contoh Soetomo mahasiswa STOVIA mendirikan organisasi Budi Utomo.

Dari banyak sekali sumber

Posted

in

by