Materi 6 Sejarah 6C Aspek Pendorong Munculnya Pergerakan Nasional Di Indonesia

aspek Intern dan Ekstern. Berikut klarifikasi mengenai faktor Intern dan Ekstern hadirnya pergerakan nasional di Indonesia.

Faktor Ekstern
1. Munculnya kesadaran perihal pentingnya semangat kebangsaan, semangat nasional, perasaan senasib sebagai bangsa terjajah, serta impian untuk mendirikan negara berdaulat lepas dari cengkeraman imperialisme di seluruh negara-negara jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika latin pada final masa ke-19 dan awal kurun ke-20.
2. Fase tumbuhnya anti imperialisme meningkat serentak dengan atau dipengaruhi oleh lahirnya kelompok pandai yang mendapatkan pengalaman pergaulan internasional serta menerima pengertian tentang wangsit-ilham gres  dalam kehidupan bernegara yang lahir di Eropa, mirip demokrasi, liberalisme, dan komunisme lewat pendidikan formal dari negara-negara barat.
3. Paham-paham tersebut intinya mengajarkan ihwal betapa pentingnya persamaan derajat semua warga negara tanpa membedakan warna kulit, asal permintaan keturunan, dan perbedaan akidah agama. Paham tersebut masuk ke Indonesia dan dibawa oleh tokoh-tokoh Belanda yang berpandangan maju, kalangan cendekia Indonesia yang memperoleh pendidikan Barat, serta alim ulama yang menunaikan ibadah haji dan memiliki pergaulan dengan sesama umat muslim seluruh dunia.
4. Perang dunia I (1914-1919) telah menyadarkan bangsa-bangsa terjajah bahwa negara-negara imperialis telah berperang diantara mereka sendiri. Perang tersebut merupakan perang memperebutkan daerah jajahan. Tokoh-tokoh pergerakan nasional di Asia, Afrika dan Amerika Latin sudah menyadari bahwa kini saatnya sudah datang bagi mereka untuk melakukan perlawanan terhadap panjajah yang sudah letih berperang.
5. Menculnya rumusan damai perihal penentuan nasib sendiri (self determination) presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson pasca perang dunia I disambut tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia sebagai pijakan dalam usaha mewujudkan kemerdekaan.
6. Lahirnya komunisme melalui Revolusi Rusia 1917 yang dibarengi dengan semangat anti kapitalisme dan imperialisme sudah mempengaruhi timbulnya ideologi perlawanan di negara-negara jajahan kepada imperialisme dan kapitalisme  Barat. Konflik ideologi dunia antara kapitalisme atau imperialisme sosialisme atau komunisme telah memberikan dorongan bagi bangsa-bangsa terjajah untuk melawan kapitalisme atau imperialisme Barat.
7. Munculnya nasionalisme di Asia dan di negara-negara jajahan lainnya di seluruh dunia sudah mengilhami tokoh-tokoh pergerakan nasional untuk melakukan perlawanan kepada penjajahan Belanda. Kemenangan Jepang atas Rusia 1905 telah memberikat dogma bagi tokoh nasionalis Indonesia bahwa bangsa kulit putih Eropa dapat dikalahkan oleh kulit berwarna Asia. Demikian juga, versi pergerakan nasional yang dikerjakan oleh Mahatma Gandhi di India, Mastapha Kemal Pasha di Turki, serta Dr. Sun Yat Sen di Cina telah menunjukkan ilham bagi kelompok bakir nasionalis Indonesia bahwa inperialisme Belanda mampu dilawan melalui organisasi terbaru dengan cara meningkatkan ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, dan politik pada bangsa Indonesia terlebih dahulu sebelum memperjuangkan kemerdekaan.
Faktor Intern
1. Penjajahan mengakibatkan terjadinya penderitaan rakyat Indonesia yang tidak terkira. Sistem penjajahan Belanda yang eksploitatif terhadap sumber daya alam dan insan Indonesia serta sewenang-wenang terhadap warga pribumi sudah menyadarkan penduduk Indonesia ihwal adanya sistem kolonialisme Imperialisme Barat yang menerapkan ketidaksamaan dan perlakuan membeda-bedakan (diskriminatif).
2. Kenangan akan kejayaan kala lalu. Rakyat Indonesia kebanyakan menyadari bahwa mereka pernah mempunyai negara kekuasaan yang jaya dan berdaulat di kala lalu (Sriwijaya dan Majapahit). Kejayaan ini menimbulkan pujian dan meningkatnya harga diri suatu bangsa, oleh sebab itu rakyat Indonesia berupaya untuk mengembalikan kebanggaan dan harga diri sebagai suatu bangsa tersebut.
3. Lahirnya golongan pintar yang menemukan pendidikan Barat dan Islam dari luar negeri . potensi ini terbuka sehabis pemerintah kolonial Belanda pada permulaan abad ke-20 mengerjakan politik Etis (edukasi, imigrasi, dan irigasi). Orang-orang Indonesia yang mendapatkan pendidikan barat berasal dari kelompok priayi abangan yang memiliki status aristokrat. Sebagian yang lain berasal dari kelompok priayi dan santri yang secara sosial ekonomi mempunyai kesanggupan untuk menunaikan ibadah haji serta menemukan pendidikan tertentu diluar negeri.
4. Lahirnya kalangan akil islam sudah menyadarkan bangsa Indonesia terjajah yang sebagian besar orangnya beragama Islam. Kelompok intelektual Islam sudah menjadi agent of change atau agen pengubah cara pandang masyarakat bahwa nasib bangsa Indonesia yang terjajah tersebut tidak mampu diperbaiki melalui belas kasihan penjajah seperti Politik Etis misalnya. Nasib bangsa Indonesia mesti diubah oleh bangsa Indonesia sendiri dengan cara mempekerjakan bangsa melalui peningkatan taraf hidup di bidang ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya.
5. Menyebarnya paham-paham baru yang lahir di Eropa, mirip demokrasi, liberalisme, sosialisme, dan komunisme di negeri jajahan (Indonesia) yang dikerjakan oleh kelompok cendekia.
6. Muncul dan berkembangnya semangat persamaan derajat pada masyarakat Indonesia dan menjelma gerakan politik yang sifatnya nasional. Tindakan pemerintah kolonial yang sifatnya semakin represif seperti pembuangan para pemimpin Indische Partiij pada 1913, ikut campurnya Belanda dalam permasalahan internal Sarekat Islam, dan penangkapan tokoh-tokoh nasionalis sudah menimbulkan gerakan nasional untuk menemukan kebebasan mengatakan, berpolitik, serta menentukan nasib sendiri tanpa dicampuri pemerintah kolonial Belanda.


Posted

in

by