Materi 6 Sejarah 6D Sumpah Perjaka

PERISTIWA SUMPAH PEMUDA DENGAN TUJUAN PERGERAKAN NASIONAL


Sumpah cowok adalah sebuah ikrar dari para pemuda yang dijadikan bukti sahih bahwa pada tangga 28 oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh alasannya itu sudah sebaiknya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada ketika itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi akad usaha rakyat Indonesia hingga sukses meraih kemerdekaannya 17 tahun lalu yakni pada 17 Agustus 1945.
1.    Sejarah Menuju lahirnya “Sumpah Pemuda”
Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu sebelum tahun 1908 dan sehabis tahun 1908. Perjuangan sebelum tahun 1908 selalu dapat digagalkan oleh penjajah. Hal itu sebab usaha masih bersifat kedaerahan, dan perjuangan masih berupa perjuangan fisik dengan senjata yang sederhana. Kegagalan usaha yang sudah dijalankan mendorong pejuang mengganti taktik usaha melalui organisasi sosial politik. Awal tahun 1908 mulailah bermunculan banyak sekali organisasi pergerakan nasional mirip Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij, dan PNI. Sejak ketika itu arah usaha bangsa Indonesia pun semakin tegas, adalah mewujudkan persatuan nasional.
Pada tahun 1908, nama Indonesia untuk pertama kalinya di gunakan oleh Perhimpunan Indonesia. Perhimpunan Indonesia yaitu organisasi yang didirikan oleh pelajar-pelajar Indonesia di negeri Belanda. Organisasi ini mulanya berjulukan Indische Vereeniging. Namun, pada tahun 1922 nama itu diganti menjadi Indonesische Vereeniging, tetapi pada tahun yang sama namanya menjelma Perhimpunan Indonesia. Para hero kita, seperti Ki Hajar Dewantara, Budi Utomo, dan DR. Mohammad Hatta, turut memopulerkan perumpamaan Indonesia untuk mengimbangi istilah ‘Hindia Belanda’ yang digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda ketika itu.
2. Kongres Pemuda 1
Pada tahun 1925 di Indonesia sudah mulai didirikan Perhimpunan Pelajar – pelajar Indonesia (PPPI), namun peresmiannya baru pada tahun 1926. anggota- anggotanya terdiri dari pelajar-pelajar akademi yang ada di Jakarta dan di Bandung. Para tokoh PPPI antara lain yakni : Sugondo Djojopuspito, sigit, Abdul Sjukur, Gularso, Sumitro, Samijono, Hendromartono, Subari, Rohjani, S. djoenet Poesponegoro, Kunjtoro, Wilopo, Surjadi, Moh. Yamin, A.K. gani, Abu Hanifah, dan lain-lain. PPPI di Indonesia sering menerima kiriman majalah Indonesia Merdeka dari Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda. Disamping majalah Indonesia Merdeka  terbitan PPPI di negeri Belanda, PPPI sendiri juga mempublikasikan majalah Indonesia Raya. Yang pemimpin redaksinya Abu Hanifah. Pandangan organisasi PPPI sudah memperlihatkan persatuan dan kesatuan sebagaimana yang terdapat pada PI. Pemuda-pemuda di Bandung menghendaki semoga mulai melepaskan sifat-sifat kedaerahan. Hal itu didasarkan atas dorongan Mr. sartono dan Mr. Sunario
Kongres Pemuda 1 yang berlangsung di Jakarta pada 30 April – 2 Mei 1926 tidak terlepas dari adanya Perhimpunan Indonesia.
Kongres Pemuda 1 bertujuan untuk Membentuk badan sentral organisasi pemuda menjadi bahasa persatuan atau bahasa pergaulan bagi rakyat Indonesia.
Hasil utama yang diraih dalam Kongres Pemuda 1 itu antara lain selaku berikut :
a.    Mengakui dan menerima impian persatuan Indonesia (meskipun dalam hal ini masih terlihat samar – samar)
b.    Usaha untuk menghilangkan persepsi budpekerti dan kedaerahan yang ndeso, dan lain – lain.
3. Kongres Pemuda II
Namun, sampai berlangsungnya kongres cowok II pada tanggal 28 oktober 1928 organisasi Pemuda Indonesia belum juga bergerak secara langsung di bidang politik Kongres Pemuda 1 ini mendapatkan dan mengakui cita – cita persatuan Indonesia, walaupun perumusannya masih samar – samar dan belum terang. Oleh karena itu, antara PPPI, Pemuda Indonesia, PI, dan PNI berniat untuk memfusikan organisasi mereka dengan alasan untuk merealisasikan persatuan Indonesia dan persamaan cita – cita. Peleburan (fusi) dari organisasi pemuda itu ternyata semakin usang semakin diperlukan alasannya adalah kaum pemuda sungguh merasakan bahwa bentuk organisasi masih bersifat kedaerahan, mirip Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi, Jong Islamieten Bond, Studerence Minahasa, dan perjaka kaum Theosofi. Hal ini terperinci tampak adanya perbedaan pada waktu diselenggarakan Kongres cowok 1. Dalam pembicaraan ternyata kepentingan tempat masih sangat menonjol.
Masalah bahasa juga menunjukkan persoalan yang tak mudah mendapatkan akad dalam kongres tersebut. Di samping itu juga masih terlihat sifat mementingkan daerah contohnya ihwal adab yang ada di kawasan masing – masing. Untuk membentuk cita – cita bareng mirip rasa persatuan dan kesatuan bangsa, maka hal – hal tersebut sangat menghambat. Untuk itulah, maka para peseta merasa tidak puas dan ingin melanjutkan Kongres Pemuda yang berikutnya. Sebenarnya dalam Kongres Pemuda 1 tersebut, para penerima dan pemimpin Kongres telah menunjukkan usaha yang keras untuk mencapai sebuah cita – cita persatuan. Namun, mengenang baru pertama kali Kongres Pemuda dijalankan, maka untuk mencapai cita – cita yang diharapkan masih mengalami kesulitan. Fanatisme terhadap adat masih sangat besar lengan berkuasa dan kuat besar terhadap semua obrolan. Pemimpin Kongres Moh. Tabrani pintar mempertahankan jangan hingga terjadi perpecahan, alasannya setiap obrolan yang mempunyai kecenderungan kearah perbedaan adat dan pandangan, segera diambil jalan tengah untuk dinetralisasi.
Makara, para akseptor memang menyadari bahwa pada saat itu masih sulit untuk membentuk kebulatan tekad dalam usaha mencapai cita – cita Nasional. Selain itu, belum banyak para anggota PI yang kembali ke tanah air dan juga belum ada anggota PI yang mengikuti Kongres cowok 1 tersebut. Oleh karena itu, cita – cita untuk meraih persatuan memang belum berpengaruh. Baru dalam persiapan Kongres Pemuda II tanggal 28 oktober 1928, banyak bekas anggota Perhimpunan Indonesia yang berpartisipasi memikirkan jalannya Kongres Pemuda II yang hendak diselenggarakan. Memang dapat diketahui, bahwa kondisi politik sangat berat. Hal tersebut dikarenakan adanya pemberontakan komunis yang gagal dan pihak Pemerintah Kolonial Belanda terus memajukan pengawasan pergerakan nasional dalam bidang politik. Itu artinya manifestasi persatuan cowok Indonesia berhasil diwujudkan dalam Kongres Pemuda II pada 26 – 28 Oktober 1928. dilaksanakan di tiga gedung yang berlawanan dan dibagi dalam tiga kali rapat.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para cowok. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan korelasi persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima aspek yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yakni sejarah, bahasa, aturan adat, pendidikan, dan kemauan.
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas problem pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, beropini bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga mesti dididik secara demokratis.
Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menerangkan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak mampu dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan semenjak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang diharapkan dalam usaha.
Adapun panitia Kongres Pemuda terdiri dari :
Ketua                    : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua        : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris           : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara          : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I        : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II       : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III     : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV     : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V      : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada suatu kertas dikala Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut mulanya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.
Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua ialah sebagai berikut
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA     : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA     : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).
   putusan kongres sumpah pemuda
Dalam insiden sumpah perjaka yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang memastikan bahwa lagu itu yaitu lagu kebangsaan. Lagu itu sempat tidak boleh oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para perjaka tetap terus menyanyikannya.
Pelaksanaan dan hasil kongres Pemuda 1 dan Kongres Pemuda II adalah sangat berlainan, namun, kedua Kongres tersebut tetap mempunyai tujuan yang sama yakni menuju tercapainya kemerdekaan Indonesia.
Sumpah Pemuda pun kemudian menjadi senjata ampuh untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa, kesadaran para pemuda Indonesia ketika itu pun semakin berpengaruh sebab mereka tidak berjuang sendiri. Maka tak heran,  Sumpah Pemuda yakni salah satu tonggak sejarah kemerdekaan Indonesia.
4.    Bangkitnya Nasionalime Modern
Sebagai seorang terpelajar Sukarno, muncul sebagai seorang perjaka cerdas yang memimpin pergerakan nasional gres. Ia mendirikan partai dengan nama Partai Nasional Indonesia (4 Juli 1927). Partai itu bersifat revolusioner, sebelumnya partai itu berjulukan klub studi biasa .  Sukarno memimpin partai itu sampai Desember 1929. Jumlah anggotanya sampai saat itu mencapai 1000 orang.
Sukarno juga turut serta memprakarsai berdirinya Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada 1927. Pada 28 Oktober 1928 organisasi ini ikut menyatakan ikrar tentang tanah air yang satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Pernyataan Sumpah Pemuda itu menjinjing imbas luas pada masyarakat untuk menumbuhkan nasionalisme yang berpengaruh. Di kawasan-tempat munculnya nasionalisme yang digerakkan oleh tradisi dan agama. Mereka terinspirasi oleh oleh para pemimpin pergerakan nasional yang ada di Jakarta.
Sementara itu Partai Nasional Indonesia (PNI) terus mendapat tekanan dari Belanda. Sukarno sebagai pimpinan PNI karena agresi-agresi yang dengan radikal kepada pemerintah Belanda, hasilnya ditangkap dan diadili. Menjelang vonis pengadilan dijatuhkan, Sukarno sempat mengucapkan pidato pembelaan untuk mengkremasi semangat para pejuang. Pidato pembelaan itulah yang kemudian dibukukan dengan judul: “Indonesia Menggugat”.

Putusan pengadilan akibatnya menjatuhkan eksekusi kurungan kepada Sukarno. Ia ditahan di Penjara Sukamiskin selama empat tahun terhitung Desember 1930. Selama Sukarno menjalani masa penahanannya PNI pecah menjadi dua, Partai Indonesia (Pertindo) dan Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru. Sukarno masuk dalam Partai Indonesia dan PNI Baru dipimpin oleh Mohammad Hatta dan Sjahrir.
Partai Indonesia pimpinan Sukarno lebih menekankan pada mobilisasi massa, sedangkan Hatta dan Sjahrir lebih menekankan pada organisasi kader yang mau menentang tekanan pemerintah kolonial Belanda dengan keras dan lebih menanamkan pemahaman pandangan baru nasionalisme. Namun demikian kedua strategi politik itu belum mencapai hasil yang optimal. Akhirnya ketiga tokoh itu ditangkap dan diasingkan oleh Belanda dan ditahan serta diasingkan pada 1933. Kedua organisasi yang diresmikan oleh ketiga tokoh itupun dibubarkan oleh pemerintah kolonial.
Sukarno ternyata tidak cuma diisolasi, selaku tahanan pemerintah, Sukarno justru masih mesti berjuang untuk menghidupi anggota keluarganya. Inilah perjuangan dan pengorbanan yang mesti dijalankan Sukarno di pengasingan.
Sementara Sukarno dan beberapa tokoh lain ditahan, organisasi pergearkan untuk menentang Belanda terus berjalan. Kelompok yang beraliran Marxis mendirikan Gerakan Rakjat Indonesia (Gerindo) di bawah kepemimpinan Amir Sjarifuddin dan A.K. Gani. Partai ini cenderung menampakkan faham fasisme internasional. Di Sumatera Timur, PNI, PKI, Permi, dan Partindo pemimpinnya berasal dari organisasi-organisasi radikal dari tahun-tahun sebelumnya.
Gerindo selaku partai yang berpaham marxis lebih memperlihatkan sikap anti kolonialisme, anti-Eropa dan antikapitalisme. Desakan-desakan untuk kemerdekaan nasional sungguh kuat dan radikal. Organisasi itu juga tidak sepaham dengan metode feodalisme, nasionalisasi perusahaan-perusahaan kapital dan restorasi hak-hak tanah pribumi.

Sementara itu Gabungan Politik Indonesia (GAPI) diresmikan pada tahun 1939. Tokoh pendiri GAPI yakni Muhammad Husni Thamrin. Dalam adonan itu, Gerindo berada dalam satu arah dengan Parindra yang dipimpin oleh Thamrin dan sebelumnya oleh Sutomo. Parindra yaitu partai politik Indonesia yang paling berpengaruh di Hindia, karena keberhasilannya dalam pemilihan di volksraad. Thamrin kemudian memimpin front Indonesia bersatu di dalam Volksraad yang disebut Fraksi Nasional.

Posted

in

by