Materi 7 Sejarah : 7A. Pendudukan Jepang

Latar Belakang Masuknya Jepang Ke Indonesia

Jepang ialah salah satu negara yang pernah menjajah bangsa Indonesia. adapun kurun kependudukan Jepang di Indonesia ada antara tahun 1942 sampai tahun 1945. Kedatangan negara Jepang ke Indonesia bermula pada tanggal 1 Maret 1942. Pada waktu itu, negara Jepang sudah sukses mendaratkan serdadu- tentaranya di pulau jawa dengan tiga titik , adalah di Teluk Banten, Eretan Wetan atau Jawa Barat dan Kranggan (Jawa Tengah).

Kedatangan Jepang di Indonesia tersebut berakibat pada suhu politik yang ada pada dikala itu. Bahkan pemerintahan Belanda yang pada waktu itu masih berkuasa di Indonesia segera menyerah tanpa syarat kepada Jepang di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura. Serah terima kekuasaan Belanda terhadap pemerintahan Jepang tersebut kemudian diadakan pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati.

Dengan berakhirnya serah terima tersebut, menandai berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia dan akan dimulainya kekuasaan baru yang dipimpin oleh pemerintahan Jepang. Ketika pertama kali Jepang berkuasa di Indonesia, kemudian dia membentuk Indonesia menjadi tiga daerah komando. Adapun ketiga wilayah komando tersebut yaitu mencakup tentara ke – 16 di Pulau Jawa dan Madura yang berpusat di kawasan Batavia , Tentara ke – 25 di Sumatera yang berpusat di Bukit Tinggi dan yang terakhir yaitu armada selatan ke -2 terdapat di daerah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara , dan Papua Barat yang berpusat di kota Makassar.

Pada saat orang Jepang tiba ke Indonesia , mereka disambut dengan sangat baik oleh masyarakat Indonesia (orang- orang Jawa). Hal tersebut dikarenakan masyarakat pada dikala itu menganggap bahwa kehadiran serdadu Jepang ke Indonesia telah sesuai dengan ramalan Joyoboyo. Oleh alasannya adalah sikap rakyat yang baik dan bersahabat tersebut sudah membuat lebih mudah orang- orang Jepang dalam mendirikan pemerintahan militernya. Sikap rakyat Indonesia kapada orang – orang Jepang seperti tersebut disebabkan rakyat Indonesia tidak menyadari bahwasannya mereka telah mendapatkan propaganda dari pihak Jepang. 


Pihak Jepang mendapatkan simpati dari rakyat Indonesia alasannya pihak Jepang Tentara Jepang juga mempropagandakan bahwa kedatangannya ke Indonesia untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajahan bangsa Barat. Jepang juga akan membantu memajukan rakyat Indonesia. Melalui program Pan-Asia Jepang akan meningkatkan dan menyatukan seluruh rakyat Asia. Untuk lebih meyakinkan rakyat Indonesia, Jepang memastikan kembali bahwa Jepang tidak lain ialah “saudara tua”, jadi Jepang dan Indonesia sama. Bahkan untuk meneguhkan progandanya tentang Pan-Asia, Jepang berupaya membentuk asosiasi yang diberi nama “Gerakan Tiga A”. juga slogan Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia. Kemudian, Jepang pun mengangkat orang- orang pribumi untuk menduduki di berbagai kursi pemerintahan dengan menghapuskan prinsip turun temurun dan yang terakhir yaitu Jepang memutuskan kawasan- wilayah Voorstenlanden selaku daerah istimewa (Kochi)
Adapun tujuan Jepang melakukan propaganda tersebut yakni untuk menciptakan masyarakat pribumi Indonesia mendapatkan didirikannya pemerintahan militer, untuk mengarahkan kebijakan-kebijakan pemerintah militer supaya dapat menghapuskan dampak- pengaruh barat di golongan rakyat Jawa dan memobilisasi rakyat Jawa supaya Jepang mendapatkan kemenangan dikala melaksanakan perang Asia Timur Raya.
Masa Pendudukan/Penjajahan Jepang
Bala Tentara Nippon ialah sebutan resmi pemerintahan militer pada kala pemerintahan Jepang. Menurut Undang-Undang Dasar No. 1 (7 Maret 1942), Pembesar Bala Tentara Nippon memegang kekuasaan militer dan segala ‘kekuasaan yang dulu dipegang oleh Gubernur Jenderal (pada periode kekuasaan Belanda).
Dalam pelaksanaan metode pemerintahan ini, kekuasaan atas wilayah Indonesia dipegang oleh dua angkatan perang yakni angkatan darat (Rikugun) dan angkatan laut (Kaigun). Masing-masing angkatan mempunyai wilayah kekuasaan. Dalam hal ini Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah kekuasaan ialah:
·       Daerah Jawa dan Madura dengan pusatnya Batavia berada di bawah kekuasaan Rikugun.
·       Daerah Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu dengan pusatnya Singapura berada di bawah kekuasaan Rikugun. Daera Sumatera dipisahkan pada tahun 1943, tetapi masih berada di bawah kekuasaan Rikugun.
·       Daerah Kalimantan, Sulawesi, Nusatenggara, Maluku, Irian berada di bawah kekuasaan Kaigun.
1.     Pemerintahan Militer
Pada pertengahan tahun 1942 timbul aliran dari Markas Besar Tentara Jepang semoga masyarakatdi daerah pendudukan dilibatkan dalam acara pertahanan dan kemiliteran (termasuk semimiliter). Oleh sebab itu, pemerintah Jepang di Indonesia kemudian membentuk pemerintahan militer. Di seluruh Kepulauan Indonesia bekas Hindia Belanda itu daerahnya dibagi menjadi tiga wilayah pemerintahan militer.
a.         Pemerintahan militer Angkatan Darat, ialah Tentara Kedua Puluh Lima (Tomi Shudan) untuk Sumatera. Pusatnya di Bukittinggi.
b.         Pemerintahan militer Angkatan Darat, ialah Tentara Keenam Belas (Asamu Shudan) untuk Jawa dan Madura. Pusatnya di Jakarta. Kekuatan pemerintah militer ini lalu ditambah dengan Angkatan Laut (Dai Ni Nankenkantai).
c.          Pemerintahan militer Angkatan Laut, ialah (Armada Selatan Kedua) untuk kawasan Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pusatnya di Makassar.

Pembagian manajemen semacam itu pasti juga terkait dengan perbedaan kepentingan Jepang kepada tiap-tiap daerah di Indonesia, baik dari segi militer maupun politik ekonomi. Pulau Jawa yang ialah pusat pemerintahan yang sangat penting waktu itu masih diberlakukan pemerintahan sementara.

Hal ini berdasarkan Osamu Seirei (Undang-Undang yang dikeluarkan oleh Panglima Tentara Ke-16). Di dalam undang-undang itu antara lain berisi ketentuan selaku berikut.
a.     Jabatan Gubernur Jenderal pada era Hindia Belanda dihapuskan dan segala kekuasaan yang dahulu dipegangnya diambil alih oleh panglima tentara Jepang di Jawa.
b.     Para pejabat pemerintah sipil beserta pegawainya di kala Hindia Belanda tetap diakui kedudukannya, asalkan mempunyai kesetiaan kepada serdadu pendudukan Jepang.
c.     Badan-badan pemerintah dan undang-undang di abad Belanda tetap diakui secara sah untuk beberapa waktu, asalkan tidak bertentangan dengan hukum pemerintahan militer Jepang.
Adapun susunan pemerintahan militer Jepang tersebut ialah sebagai berikut.
a.     Gunshirekan (panglima prajurit) yang lalu disebut dengan Seiko Shikikan (panglima tertinggi) selaku pucuk pimpinan. Panglima prajurit yang pertama dijabat oleh Jenderal Hitoshi Imamura.
b.     Gunseikan (kepala pemerintahan militer) yang dirangkap oleh kepala staf. Kepala staf yang pertama yaitu Mayor Jenderal Seizaburo Okasaki. Kantor pusat pemerintahan militer ini disebut Gunseikanbu.

2. Pemerintahan Sipil
Untuk mendukung kelancaran pemerintahan pendudukan Jepang yang bersifat militer, Jepang juga membuatkan pemerintahan sipil. Pada bulan Agustus 1942, pemerintahan militer berusaha memajukan system pemerintahan, antara lain dengan mengeluarkan UU No. 27 ihwal aturan pemerintahan daerah dan dimantapkan dengan UU No. 28 tentang pemerintahan shu serta tokubetsushi. Dengan UU tersebut, pemerintahan akan dilengkapi dengan pemerintahan sipil. Menurut UU No. 28 ini, pemerintahan tempat yang tertinggi yaitu shu (karesidenan). Seluruh Pulau Jawa dan Madura, kecuali Kochi Yogyakarta dan Kochi Surakarta, dibagi menjadi daerah-daerah shu (karesidenan), shi (kotapraja), ken (kabupaten), gun (kawedanan), son (kecamatan), dan ku (desa/kelurahan). Seluruh Pulau Jawa dan Madura dibagi menjadi 17 shu.

Pemerintahan shu itu dipimpin oleh seorang shucokan. Shucokan mempunyai kekuasaan mirip gubenur pada zaman Hindia Belanda mencakup kekuasaan legislatif dan administrator. Dalam mengerjakan pemerintahan shucokan dibantu oleh Cokan Kanbo (Majelis Permusyawaratan Shu). Setiap Cokan Kanbo ini memiliki tiga bu (bagian), yaitu Naiseibu (bagian pemerintahan umum), Kaisaibu (bab ekonomi), dan Keisatsubu (bagian kepolisian). Pemerintah pendudukan Jepang juga dapat membentuk suatu kota yang dianggap mempunyai posisi sungguh penting sehingga menjadi kawasan semacam daerah swatantra (otonomi). Daerah ini ini disebut tokubetsushi (kota istimewa), yang posisi dan kewenangannya mirip shu yang berada langsung di bawah pengawasan gunseikan. Sebagai pola yakni Kota Batavia, selaku Batavia Tokubetsushi di bawah pimpinan Tokubetu shico.

Organisasi Bentukan Jepang (Militer dan Semi-Militer) pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia

1. PENGERAHAN TENAGA PEMUDA
Menurut penilaian Jepang, para cowok terlebih cowok desa, belum terpengaruh dunia luar (alam anggapan Barat). Para cowok Indonesia secara fisik berpengaruh, semangat dan pemberani. Di samping itu, cowok Indonesia kala itu jumlahnya cukup besar sehingga memegang peranan penting kepada Indonesia.
Atas dasar aneka macam usulantersebut, maka perjaka dimanfaatkan dan dijadikan target utama propaganda Jepang. Berbagai semboyan seperti Jepang saudara bau tanah, Indonesia sama saja dan Gerakan 3 A memang cukup menarik golongan perjaka. Pernyataan Jepang akan persamaan dinilai selaku bentuk pergantian dari kondisi abad Belanda yang begitu diskriminatif dan kejam.
Jepang memang sangat pandai, sebelum membentuk organisasi semi-militer dan militer secara resmi, mereka terlebih dahulu melatih para pemuda dengan pendidikan guna memajukan kedisiplinan, semangat juang dan jiwa kesatria para pemuda.
Cara untuk menanamkan nilai tersebut diantaranya dengan pendidikan biasa (sekolah dasar dan menengah) dan pendidikan khusus (pembinaan oleh Jepang). Adapun bentuk pembinaan oleh Jepang diantaranya yaitu :
·           BPAR (Barisan Pemuda Asia Raya).
·           San A Seinen Kutensho di bawah Gerakan 3A.

2. ORGANISASI SEMI-MILITER
1). SEINENDAN
Seinendan (Korps Pemuda) yaitu organisasi yang dibentuk Jepang dengan beranggotakan para perjaka berusia 14-22 tahun. Seinendan diresmikan tepatnya pada tanggal 29 April 1943 dengan beranggotakan sekiranya 3500 orang pemuda dari seluruh Jawa.
Tujuan Seinendan
Tujuan Jepang membentuk Seinendan untuk mendidik dan melatih para pemuda supaya mampu menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri.
Namun dibalik itu, ada tujuan lain dengan dibentuknya Seinendan ini. Jepang melatih para pemuda Indonesia juga dimaksudkan untuk menemukan tenaga cadangan dari perjaka guna memenangkan peperangan Asia Timur Raya melawan Sekutu.
Fungsi Seinendan
Dalam pertahanan peperangan, Seinendan difungsikan sebagai barisan cadangan yang mengamankan barisan belakang.
Agar lebih efektif dan efisien, pengkoordinasian Seinendan diserahkan terhadap penguasa lokal. Misalnya di tempat tingkat syu, diketuai syucokan. Begitu juga di kawasan ken, ketuanya kenco dan seterusnya.
Adapun tokoh usaha Indonesia yang pernah menjadi anggota Seinendan antara lain, Latif Hendraningrat dan Sukarni.

2). KEIBODAN
Keibodan (Korps Kewaspadaan) yakni organisasi semimiliter yang anggotanya adalah cowok berusia antara 25 hingga 35 tahun. Organisasi ini dibuat pada tanggal 29 April 1943 dengan tujuan untuk membantu Polisi Jepang pada kala penjajahan di Indonesia.
Keibodan juga mempunyai ketentuan utama agar setiap orang yang mampu masuk mesti memiliki tubuh yang sehat dan berkepribadian baik. Jika dilihat dari usia anggotanya, keibodan lebih siap dan matang untuk menolong serdadu Jepang dalam keamanan dan ketertiban.
Contoh kegiatan dalam menolong poisi adalah mengatur kemudian lintas dan pengawalan desa.
Organisasi Seinendan dan Keibodan didirikan di seluruh daerah Indonesia, meski namanya berbeda-beda. Misalnya di Sumatera diketahui dengan Bogodan dan di Kalimantan disebut dengan Borneo Konan Kokokudan/Sameo Konen Hokokudan. Selain di Indonesia, penduduk Cina juga mengenal organisasi ini dengan sebutan Kakyo Keibotai.

3). FUJINKAI
Fujinkai (Perkumpulan Wanita) ialah organisasi semi militer Jepang yang beranggotakan para wanita, dibuat pada bulan Agustus 1943. Pembentukan organisasi ini di prakarsai oleh para istri pegawai kawasan dan diketuai oleh isteri-istri kepala daerah tersebut.
Untuk anggota dari Fujinkai itu sendiri minimal mesti berusia 15 tahun. Tugas utama Fujinkai ini yaitu meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan penduduk melalui acara pendidikan dan kursus-kursus.
Saat situasi semakin memanas, Fujinkai dilatih militer sederhana, bahkan pada tahun 1944 dibentuk “Pasukan Srikandi” guna membantu perang melawan Sekutu.

4). SUISHINTAI (BARISAN PELOPOR)
Latar Belakang Suishintai
Latar belakang dibentuknya Suishintai ialah atas dasar keputusan rapat Chuo-Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat). Salah satu keputusan rapat tersebut adalah merumuskan cara untuk menumbuhkan kesadaran rakyat untuk menyanggupi kewajiban dan membangun persaudaraan dalam rangka menjaga tanah airnya dari serangan lawan.
Rapat tersebut menciptakan keputusan rapat pada tanggal 1 November 1944 yang lalu Jepang membentuk organisasi berjulukan “Suishintai” dalam bahasa Indonesia “Barisan Pelopor”.
Tujuan Suishintai
Melalui organisasi ini dibutuhkan mampu memajukan kesadaran penduduk sehingga siap untuk menolong Jepang dalam menjaga Indonesia.
Suishintai juga mengadakan pembinaan militer bagi para perjaka, meskipun menggunakan perlengkapan sederhana (mirip bambu runcing dan senapan kayu). Selain itu juga, Suishintai dilantih untuk menggerakkan massa, memperkuat pertahanan dan hal lain yang pada dasarnya untuk kemakmuran rakyat.

5). KAIKYO SEINEN TEISHINTI (HIZBULLAH)
Hizbullah (Tentara Allah) adalah organisasi semimiliter yang dibuat Jepang dengan beranggotakan para sukarelawan khusus pemuda Islam.
Latar belakang dibentuknya Hizbullah
Akibat peperangan Asia Timur Raya, Jepang kian terdesak dan mengalami kesusahan alasannya banyak mengalami kekalahan. Keadaan tersebut mengakibatkan Jepang untuk menambah kekuatan dengan mempersiapkan pembentukan pasukan cadangan sebanyak 40.000 orang (berisikan para perjaka Islam).
Rencana Jepang tersebut cepat menyebar di tengah masyarakat dan segera disambut nyata dari tokoh-tokoh Masyumi, perjaka Islam Indonesia dan pihak lainnya.
Bagi Jepang, pasukan Islam ini digunakan untuk menolong mengungguli perang, namun bagi Masyumi pasukan Islam terebut digunakan untuk antisipasi menuju harapan kemerdekaan Indonesia.
Sehubungan dengan itu, pemimpin-pemimpin Masyumi mengusulkan kepada Jepang untuk membentuk pasukan sukarelawan yang khusus terdiri dari cowok Islam. Kemudian pada tanggal 15 Desember 1944 dibentuklah organisasi semimiliter yang terdiri dari pasukan sukarelawan pemuda Islam yang dinamai Hizbullah (Tentara Allah) dalam istilah Jepangnya yaitu Kaikyo Seinen Teishinti.
Tugas pokok Hizbullah
a.         Sebagai prajurit cadangan :
ü  Membantu tentara Dai Nippon.
ü  Melatih diri, jasmani dan rohani dengan segiat-giatnya.
ü  Menjaga ancaman udara dan mengintai intel lawan.
ü  Menggiatkan dan menguatkan usaha-usaha untuk kepentingan perang.
b.         Sebagai perjaka Islam
ü  Membela agama dan umat islam di Indonesia.
ü  Menyiarkan agama Islam.
ü  Memimpin umat Islam untuk taat beragama.

6). GOKUKUTAI
Gokukutai (Barisan Pelajar) adalah organisasi yang mengikutsertakan pelajar untuk berperang karena desakan militer akhir pertempuran.
3. ORGANISASI MILITER RESMI
1). HEIHO
Heiho (Pasukan Pembantu Prajurit Jepang) ialah organisasi yang beranggotakan tentara Indonesia untuk melaksanakan pertahanan militer, baik di Angkatan Darat maupun di Angkatan Laut.
Heiho dibuat menurut isyarat bagian Angkatan Darat Markas Besar Umum Kerajaan jepang pada tanggal 2 September 1942 yang kemudian pada bulan April 1945 menjadi cikal bakal organisasi ini.
Tujuan dan Kegiatan Heiho
Tujuan didirikannya Heiho adalah sebagai pembantu kesatuan angkatan perang dan dimasukkan sebagai bagian dari serdadu Jepang. Adapun kegiatannya ialah :
ü  Membangun pertahanan.
ü  Menjaga kamp pertahanan.
ü  Membantu prajurit Jepang dalam peperangan.
Organisasi ini memang dikhususkan untuk bidang kemiliteran sehingga jauh lebih berpengalaman dibanding organisasi-organisasi yang lain. Heiho sendiri juga dibagi menjadi beberapa bab, baik di angkatan darat, angkatan bahari maupun bab kepolisian.
Heiho juga mempergunakan pasukannya selaku tenaga bernafsu yang diharapkan dalam peperangan, misalnya memelihara banyak sekali senjata perang dan memindahkan senjata dan peluru dari gudang ke atas truk.
2). PETA
PETA (Pembela Tanah Air) yakni organisasi militer yang dibuat Jepang dengan tujuan memperbesar kesatuan prajurit guna memperkuat organisasi sebelumnya, yakni Heiho.
Walaupun Jepang kian terdesak sebab perang melawan Sekutu, Jepang tetap berusaha mempertahankan Indonesia dari serangan sekutu. Karena Heiho dipandang belum memadai, maka dibentuklah sebuah organisasi militer yang dinamai PETA (Pembela Tanah Air).
Adapun tokoh-tokoh PETA yang terkenal dan menenteng imbas besar diantaranya yaitu, Jenderal Sudirman, Jenderal Gatot Subroto, Supriyadi dan Jenderal Ahmad Yani.
Perbedaan Antara Heiho dengan PETA
Heiho
ü  Organisasi Heiho secara resmi diposisikan pada struktur organisasi prajurit Jepang, baik Angkatan Darat maupun Angkatan Laut.
ü  Heiho bertugas untuk menghimpun pajak dari rakyat.
ü  Didirikannya Heiho bermaksud untuk menolong tentara Jepang berperang melawan Sekutu.
ü  Tidak ada orang Indonesia yang berpangkat perwira dalam Heiho, karena pangkat perwira cuma untuk orang Jepang (tidak diperbolehkan jadi perwira).
PETA
ü Organisasi PETA tidak secara resmi ditempatkan pada struktur organisasi prajurit Jepang, namun langsung di bawah pemerintahan Jepang.
ü Organisasi PETA bertugas selaku agen rahasia Jepang, baik itu dalam membela atau menjaga tanah air Indonesia dari serangan Sekutu.
ü Organisasi PETA bertujuan untuk menolong prajurit Jepang berperang melawan Sekutu (sama dengan Heiho).
ü PETA lebih fleksibel dalam kedudukannya, dalam hal kepangkatan ada orang Indonesia yang menjadi perwira (diperbolehkan jadi perwira).
Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia

Dampak Pendudukan Jepang dalam Berbagai Aspek Kehidupan Bangsa Indonesia
Jepang sebagai Negara Asia yang bisa menghalau Belanda dari Indonesia tentu memberikan pengeruh terhadap kemajuan bangsa Indonesia.  Saat Jepang menjajah Indonesia, mereka melakukan banyak sekali tindakan yang bisa menawarkan efek bagi bangsa Indonesia. Dampak tersebut ada sisi negatifnya ada juga segi positifnya. Kebijakan Jepang dikala menduduki Indonesia tidak sepenuhnya merugikan, ada beberapa kebijakan yang memberi kesan konkret bagi kemajuan bangsa Indonesia.

A. Dampak Positif Pendudukan Jepang
1. Bidang Politik
ü  Melarang penggunaan Bahasa Belanda dan memperbolehkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengirim .
ü  Dibentuknya tubuh persiapan kemerdekaan Indonesia, yaitu BPUPKI dan PPKI. Dengan kemunculan tubuh persiapan ini, muncullah inspirasi Pancasila.
ü  Mendukung semangat Anti-Belanda, sehingga secara tidak pribadi Jepang ikut mendukung semangat jiwa nasionalisme Indonesia.
ü  Memberi peluang bagi rakyat Indonesia untuk berpartisipasi dalam pemerintahan politik.
2. Bidang Ekonomi
ü  Didirikannya koperasi yang bermaksud untuk kepentingan bareng .
ü  Diperkenalkannya metode gres bagi pertanian ialah line system. Sistem ini akan memperlihatkan pengaturan bercocok tanam yang efisien sehingga akan memajukan produksi pangan.
3. Bidang Sosial
ü  Mulai berkembangnya tradisi kerja bakti massal lewat kinrohosi.
ü  Munculnya perilaku persatuan dan kesatuan dalam mengusir penjajah di Indonesia.
ü  Bangsa Indonesia mengalami banyak sekali pembaharuan akibat didikkan Jepang yang menumbuhkan kesadaran dan doktrin yang tinggi akan harga dirinya.
ü  Pembentukan strata penduduk sampai tingkat paling bawah yaitu Tonarigami atau Rukun Tetangga (RT).
4. Bidang Budaya
ü  Jepang mendirikan Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan) tanggal 1 April 1943 di Jakarta. Fungsi lembaga ini mewadahi aktivitas kebudayaan Indonesia.
ü  Pembentukan Persatuan Aktris Film Indonesia (PERSAFI) yang bermaksud mendorong aktris-aktris profesional dan amatir Indonesia untuk bereksperimen dengan mengganti lakon terjemahan bahasa ajaib ke Bahasa Indonesia.
5. Bidang Pendidikan
ü  Dalam pendidikan diperkenalkannya tata cara Nippon Sentris dan diperkenalkannya aktivitas upacara dalam sekolah.
ü  Mendirikan sekolah mirip Sekolah Dasar 6 tahun, SLTP/Sekolah Menengah Pertama 9 tahun dan SLTA/SMA.
6. Bidang Birokrasi dan Militer
ü  Jepang memperlihatkan training militer-semimiliter kepada pemuda Indonesia dan mempersenjatai perjaka demi kebutuhan perang Jepang. Seperti mengikutsertakan pemuda ke organisasi keibodan, heiho, suisintai dan sebagainya.
ü  Peninggalan perlengkapan militer dan infrastruktur perang milik Jepang yang mampu digunakan sebagai modal untuk menjaga kemerdekaan. Setelah Jepang mengalah tanpa syarat kepada sekutu, bangak perlengkapan militer Jepang yang lalu dikuasai oleh perjaka Indonesia.
B. Dampak Negatif Pendudukan Jepang
1. Bidang Politik
ü  Dilarangnya kegiatan politik dan dibubarkannya organisasi politik yang ada.
ü  Dilarangnya segala jenis rapat dan aktivitas politik.
2. Bidang Ekonomi
ü  Jepang mengeksploitasi SDA dan SDM untuk kepentingan perang.
ü  Jepang mengmbil secara paksa masakan, busana dan pembekalan lainnya dari rakyat Indonesia tanpa kompensasi.
ü  Terjadinya inflasi dan krisis ekonomi yang sangat menyengsarakan rakyat.
ü  Terputusnya korelasi antar daerah akhir dari self sufficiency.
ü  Kegiatan ekonomi diarahkan untuk kepentingan perang sehingga seluruh peluangSDA dan materi mentah lainnya digunakan untuk mendukung industri perang.
ü  Penerapan hukuman yang berat oleh Jepang dengan menerapkan tata cara ekonomi secara ketat.
ü  Menerapkan metode ekonomi perang dan metode autarki (memenuhi keperluan daerah sendiri dan menunjang kegiatan perang).
3. Bidang Sosial
ü  Adanya praktik perbudakan perempuan (yugun ianfu). Banyak wanita muda Indonesia yang digunakan selaku perempuan penghibur bagi perang Jepang.
ü  Kegiatan romusha yang menyengsarakan dan memiskinkan rakyat.
ü  Pembatasan pers sehingga tidak ada pers yang independent dan pengawasan berada di bawah pengawasan Jepang.
ü  Terjadinya kondisi yang parah dan maraknya tindak kriminal seperti perampokan, pemerkosaan dan lain-lain.
4. Bidang Pendidikan
ü  Banyak guru-guru yang dipekerjakan sebagai pejabat pada kurun itu yang menimbulkan kemunduran patokan pendidikan secara tajam.
5. Bidang Birokrasi dan Militer

Pelanggaran HAM yang dilaksanakan oleh tentara Jepang alasannya menghukum keras orang-orang yang menyimpang/menentang dari Jepang.


Posted

in

by