Materi 7 Sejarah : 7B Kejadian Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Persiapan Kemerdekaan

pada 1 Maret 1945 dibuat BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau dalam Bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Cosakai. Badan ini diresmikan pada 29 April 1945 dan diketuai oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

Sebagai antisipasi, BPUPKI melaksanakan dua kali sidang. Sidang pertama dilaksanakan pada 29 Mei-1 Juni 1945. Sidang ini menghasilkan rumusan dasar negara Indonesia (Pancasila) yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo, Mr. Muh. Yamin, dan Ir. Soekarno. Itulah mengapa tiap 1 Juni, sekarang kita peringati selaku Hari Lahirnya Pancasila.
Sebagai tindak lanjut, pada 22 Juni 1945, dibuat Panitia Kecil sebanyak sembilan orang (disebut juga Panitia Sembilan) dan mematangkan konsep Pancasila. Hasilnya diketahui selaku  Piagam Jakarta (Jakarta Charter). Sidang kedua dilakukan pada 10-14 Juli 1945 menghasilkan rumusan Undang-Undang Dasar lengkap dengan pembukaannya (preambule).

Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI diganti menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Junbi Inkai dalam Bahasa Jepang. Panitia ini berjumlah 21 orang dan tugasnya yakni merencanakan kemerdekaan Indonesia.

 Berita Kekalahan Jepang
Perang Dunia II yang tengah terjadi ketika itu ternyata juga menjinjing efek jelek bagi Jepang, Salah satunya yaitu kejadian pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki di tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Peristiwa tersebut mendorong Jepang untuk menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada 15 Agustus 1945. Berita tentang kekalahan Jepang menyebar dengan cepat melalui radio dan didengar oleh tokoh-tokoh muda Indonesia. Bersama dengan Moh. Hatta, kelompok muda ini mengadakan rapat di Pegangsaan Timur.
Rapat dipimpin oleh Chairul Saleh dan menghasilkan keputusan yang menjadi dasar proklamasi Indonesia. Hasil ini disampaikan terhadap Bung Karno oleh Wikana dan Darwis, tetapi terjadi perbedaan pendapat. Setelah beberapa rapat, balasannya golongan muda memutuskan untuk mengasingkan Bung Karno ke luar kota biar tidak menerima pengaruh dari Jepang.

 Peristiwa Rengasdengklok
Kalau kamu pergi ke kawasan Kuningan di Jawa Barat, kau niscaya akan melihat papan nama Rengasdengklok. Bung Karno dan Bung Hatta diungsikan ke Rengasdengklok, Jawa Barat oleh para perjaka. Mereka dijemput pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 4.30 WIB oleh rombongan golongan muda. Mereka diasingkan alasannya meminta para cowok untuk sabar dalam memberitahukan proklamasi. Sementara itu, di Jakarta akan dilaksanakan rapat anggota PPKI di gedung Pejambon 2.
Ahmad Soebardjo yang saat itu mencari eksistensi Bung Karno dan Bung Hatta-pun diberangkatkan ke Rengasdengklok untuk bertemu dan berunding dengan mereka. Akhirnya Soebardjo berjanji jaminan nyawa kepada kalangan muda bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada keesokan harinya selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB. Dengan jaminan itu, akibatnya Ir. Soekarno dan Moh. Hatta dilepaskan.

Perumusan Naskah Proklamasi
Dari Rengasdengklok, rombongan tiba kembali di Jakarta pukul 23.30 WIB. Pasti kau kebanyang ‘kan bagaimana lelahnya Bung Karno dan Bung Hatta? Akhirnya mereka menetapkan untuk istirahat sebentar di rumah masing-masing. Setelah itu, Soekarno-Hatta pergi ke tempat tinggal Laksamana Tadashi Maeda sesuai dengan ajuan Ahmad Soebardjo. Walaupun orang Jepang, laksamana ini memiliki kedekatan dengan tokoh-tokoh Indonesia dan dia memberi jaminan keamanan.
Sebelum merumuskan naskah proklamasi, Soekarno-Hatta menemui Mayor Jendral Nishimura untuk menanyakan sikapnya mengenai Proklamasi Kemerdekaan. Sayangnya, tidak ada akad dalam konferensi tersebut sebab Jepang yang telah menyerah kepada sekutu, sehingga mereka tidak dibolehkan untuk mengganti keadaan politik di Indonesia sampai kehadiran sekutu. Akhirnya Soekarno-Hatta memutuskan untuk melanjutkan pembuatan naskah proklamasi.
Kata “Proklamasi” adalah dukungan aliran Soekarno, kalimat pertama yakni tunjangan anutan Ahmad Soebarjo, dan kalimat terakhir merupakan sumbangan aliran Hatta. Teks itu kemudian diberi nasehat dan sedikit pergantian oleh Sukarni, kemudian diketik oleh Sayuti Melik. Terakhir, Sukarni memberi tawaran bahwa naskah ini semestinya ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Pada pukul 04.30 WIB konsep naskah proklamasi simpulan disusun.
Semula, pembacaan teks Proklamasi akan dikerjakan di lapangan tersebut. Dulu, namanya ialah Lapangan Ikada. Namun, Bung Karno merasa bila diadakan di kawasan yang luas dan ramai, hal itu dapat menyebabkan bentrokan antara rakyat dengan pihak militer Jepang. Kemudian ia mengusulkan untuk mengadakan proklamasi di rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56.



Proklamasi Kemerdekaan RI
Detik-detik menuju proklamasi kemerdekaan RI kian dekat. Setelah disepakati, Proklamasi akan dibacakan pada pukul 10.00 WIB di rumah Ir. Soekarno. Moh. Hatta berpesan kepada para cowok yang bekerja di kantor pers, B.M. Diah untuk memperbanyak naskah teks proklamasi dan memberitakan ke seluruh dunia.
 Pagi harinya rumah Soekarno sudah dipadati oleh banyak orang. Shudanco Latief Hendraningrat menugaskan anak buahnya untuk berjaga-jaga di sekitar rumah Ir. Soekarno. Bung Karno menunggu kedatangan Bung Hatta untuk membacakan naskah tersebut. Setelah Bung Hatta datang, upacara dimulai.
 Pengibaran bendera dikerjakan oleh S. Suhud dengan bantuan Shudanco Latief Hendraningrat. Bendera merah putih yang dikibarkan dijahit oleh Fatmawati, istri Bung Karno. Upacara berjalan syahdu alasannya adalah tanpa dikomando para pengunjung spontan menyanyikan Indonesia Raya ketika bendera dikibarkan.


Penyebarluasan Berita Proklamasi RI
Berita proklamasi disebarluaskan lewat siaran radio dari kantor gosip Domei. Mendengar gosip ini, pihak Jepang melarang penyiaran gosip proklamasi itu. Kemudian pada tanggal 20 Agustus 1945 alat pemancar di Domei diputus dan disegel sehingga pegawainya tidak boleh masuk. Tanpa kehilangan akal, para cowok lalu membuat alat pemancar gres yang mereka ambil dari alat-alat pemancar dari kantor info Domei. Alat pemancar ini dibawa ke Menteng dan info tersebut segera disiarkan ke seluruh Indonesia. Selain dari radio penyebaran isu proklamasi dijalankan melalui pers dan surat selebaran. Hampir seluruh harian Jawa pada tanggal 20 Agustus 1945 menampung isu proklamasi dan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia. 


Posted

in

by